oleh

DaDi Garap Potensi Pertanian Dengan Revitalisasi Saluran Irigasi

seputartuban.com, TUBAN – Pertanian masih menjadi gantungan hidup mayoritas warga Kabupaten Tuban. Saat ini diperkirakan ada sekitar 900.000 orang dari jumlah penduduk 1.285.147 jiwa menggeluti profesi sebagai petani.

Potensi pertanian Tuban masih butuh pengembangan agar produknya makin tinggi. Hal ini patut didukung dengan program yang tepat dan terukur, agar kualitas dan kuantitas hasil pertanian bias menyejahterakan warga.

“Kami telah menghitung dengan matang untuk menerapkan program revitalisasi saluran irigasi pertanian. Program ini sangat penting karena dari irigasi yang baik, lahan pertanian bakal bias dikelola dengan baik karena dukungan ketercukupan air,” kata Aditya Halindra Faridzki SE dan H Riyadi SH (DaDi).

Sedangkan lahan pertanian di Tuban hingga akhir tahun 2019 sekitar 162.000 hektare. Lahan tersebut terdiri sawah 56.000 hektar, dengan kondisi beririgasi seluas 29.663 hektar dan 26.813 hektar non irigasi. Lahan pertanian bukan sawah seluas 105.000 hektare.

Menurut DaDi, potensi pertanian sebenarnya sudah digarap oleh beberapa pemerintahan bupati sebelumnya, namun masih ada beberapa titik yang perlu dimaksimalkan. Tuban yang saat ini oleh pemerintah pusat dan provinsi telah bergeser menuju daerah industry, perlu disikapi dengan bijak agar potensi pertanian bisa ditingkatkan.

“Lahan sawah non irigasi, termasuk lahan tadah hujan yang biasanya ditanami padi sekali setahun, akan kita optimalkan dengan revitalisasi saluran sehingga bisa dipanen 2 hingga 3 kali setahun,” ujar Riyadi.

Selain pembenahan saluran irigasi, akan dibuat program pompanisasi sumur dalam atau dibikinkan waduk, dan pompanisasi yang bersumber dari Sungai Bengawan Solo.

DaDi menegaskan, menjadi kewajiban Pemda Tuban untuk memberikan tenaga pendamping profesional, dan teknologi mulai masa pembenihan, tanam, pemeliharaan hingga pasca panen. Diprogramkan menjalin kerjasama dengan investor untuk menggarap proses pasca panen. Pemda akan membuka kerjasama bidang ekspor.  

Diantara program pasca panen, yang akan digarap dalam pemerintahan ke depan, akan mematangkan BUMDes untuk melakukan bisnis paska panen. Diantaranya akan dijajagi membuat penjemuran dengan skala besar di lokasi mendekati pusat produksi padi.

“Kita  matangkan dan berdayakan BUMDes untuk menghalau spekulan atau pengijon dengan cara melakukan pembelian hasil pertanian (padi) dengan teknis penguatan permodalan,” kata DaDi.

Dijabarkannya, BUMDes akan diberikan peran lebih kuat untuk mengelola hasil pertanian. Disiapkan pendamping profesional, agar sisi bisnis BUMDes lebih mandiri. Menyiapkan kluster bisnis BUMDes dengan mempertimbangkan jenis produk unggulan desa. Contoh: kluster kacang tanah, jagung, ketela pohon, dan produk agrikultural lainnya.

Dengan cara seperti di atas, diharapkan produksi padi dari 634.668 ton (tahun 2019) dari lahan panen 106.185 hektar, Jagung 628.709 ton dari lahan 112.634 hektar bias ditingkatkan lagi. Jika program revitalisasi pendukung pertanian dan penguatan BUMDes berjalan bisa menaikkan produksi hingga 30 persen, karena lahan kering non irigasi seluas 26.813 hektar bisa revitalisasi jadi lahan lebih produktif. (RLS)

Komentar

Budayakan komentar dengan santun

Terbaru