oleh

Revitalisasi Jalur Kereta Bersejarah, GRR Tuban Bangun Konektivitas Dengan Sentra Industri

seputartuban.com, TUBAN – Seiring dengan dekatnya tahapan konstruksi proyek kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban, PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (Pertamina Rosneft). menggandeng PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk merevitalisasi jalur kereta zaman Belanda, guna mendukung konektivitas kilang GRR Tuban dengan sentra-sentra industri pengguna petrokimia di Pulau Jawa.

Proyek GRR Tuban yang merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) ,memasuki tahapan pra-konstruksi berupa penyusunan desain teknis (Front-End Engineering Design/FEED). Sebelum memasuki tahapan konstruksi yang diperkirakan dimulai secepat -cepatnya pada tahun depan.

Untuk itu,Perseroan memerlukan dukungan infrastruktur penunjang berupa rel kereta untuk mengangkut peralatan dan bahan baku megakonstruksi kilang terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Dan Ke depannya infrastruktur yang sama juga diperlukan untuk mengirim produk BBM dan petrokimia dari kilang terbesar se-Asia Tenggara tersebut.

Direktur Utama Pertamina Rosneft ,Kadek Ambara Jaya mengatakan. proyek GRR Tuban ditargetkan beroperasi pada tahun 2027 untuk memasok BBM dan bahan baku petrokimia,yang dinilai vital untuk mewujudkan ketahanan energi dan kemandirian industri nasional.

“Untuk memaksimalkan peran strategisnya, kilang GRR Tuban perlu membangun infrastruktur guna  penunjang dan memperlancar pengiriman produk petrokimia dari kilang GRR Tuban ke sentra industri di Banten, Jawa Barat, maupun Jawa Timur. Serta Keberadaan infrastruktur transportasi ini juga seyogyanya bisa dimanfaatkan masyarakat sebagai alternatif moda transportasi sehingga mengurangi beban lalu-lintas darat di jalur Pantura,” katanya

Kadek Menambahakan,Pertamina Rosneft selaku pelaksana proyek GRR Tuban mengelola lahan seluas 834 hektare yang terbesar di Asia Tenggara. Perseroan bersama dengan KAI bermaksud untuk menjajaki kajian bersama pembangunan stasiun kereta api di Tuban, Dan jalur penghubung ke Stasiun Merakurak.

“Sembari melihat potensi reaktivasi kembali jalur kereta api yang saat ini berstatus non aktif ,yakni Jalur Merakurak–Babat yang merupakan jalur kereta bersejarah karena berusia satu abad,” imbuhnya.

Lebih lanjut,Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 80 tahun 2019, jalur kereta api yang  direncanakan akan diaktifkan lagi .Guna mendukung pemerataan dan percepatan pembangunan di area Gerbangkertosusila (Gresik–Bangkalan–Mojokerto–Surabaya–Sidoarjo–Lamongan).

“Kami ingin membangkitkan jalur Merakurak-Babat dan mengembangkannya agar bernilai ekonomis. Tidak hanya bagi GRR Tuban dan industri petrokimia nasional, melainkan juga bagi masyarakat Tuban karena akan menyediakan layanan kereta penumpang,” tandasnya.

Untuk mewujudkan rencana tersebut, Pertamina Rosneft telah menandatangani Nota Kesepahaman Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT KAI Tentang Rencana Kerja Sama Penyediaan Jasa Angkutan Menggunakan Kereta Api dari Proyek Grass Root Refinery Tuban Menuju Stasiun Unloading. Dengan panjang  kurang lebih 49 kilometer dengan rute Stasiun Babat, Tuban, Merakurak dan Jenu.

Sementara itu, Nota Kesepahaman telah ditandatangani di Kantor Kementerian Investasi/BKPM di Jakarta pada Senin (30/8/2021).oleh Presiden Direktur Pertamina Rosneft Kadek Ambara Jaya, yang didampingi Direktur Keuangan dan Umum Pavel Vagero, dan Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo.

Bertindak sebagai saksi, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal. Dalam MOU tersebut akan berlaku selama 1 tahun dan kedua belah pihak sepakat melakukan kajian atas delapan hal yaitu.pembangunan stasiun di GRR Tuban yang terhubung ke Merakurak,reaktivasi jalur kereta Merakurak-Babat, pembangunan stasiun kereta di proyek GRR Tuban dan pembangunan stasiun bongkar-muat komersial,kajian perkiraan jumlah, jenis, dan tujuan.

Serta komoditas yang diangkut per tahun kemudian kajian jumlah, jenis, dan kapasitas armada yang akan digunakan,kajian perizinan dan kelembagaan dan kajian transit oriented development  (TOD) yang merupakan proyek properti komersial di sekitar stasiun.

Kementrian Investasi/BKPM Imam Soejoedi menyambut baik dengan adanya Proyek GRR Tuban merupakan PSN yang menjadi salah satu proyek yang ditunggu-tunggu Presiden RI Jokowi. Karena merupakan Proyek luar biasa dan  sangat strategis ,karena merupakan proyek “green field”.

“Mungkin dalam  5 tahun terakhir kita sering mendengar arahan Presiden untuk peningkatan lifting minyak dan kemandirian industri petrokimia. Demand semakin tinggi, sedangkan supply turun. Akhirnya kita menjadi net importer,”  tuturnya.

Diketahui, Pertamina Rosneft merupakan perusahaan patungan (joint venture), antara Pertamina Group dengan raksasa energi Rosneft asal Rusia yang menjadi pelaksana proyek strategis nasional GRR Tuban. Dan berdiri di atas lahan seluas 834 hektare, kilang yang diharapkan menjadi fasilitas petrokimia terbesar di Asia Tenggara ini ditargetkan beroperasi tahun 2027 dan menyerap kurang lebih 27.000 tenaga kerja pada saat konstruksi, serta 2.500 tenaga kerja setelah proyek beroperasi. RLS

Terbaru