oleh

Tetap Mempertahankan Ngarat Ditengah Keterbatasan

JENU

seputartuban.com – Banyak cara untuk mencari ikan dilaut, salah satu cara lama yang masih dipertahankan adalah menggunakan jaring tarik. Seperti yang dilakukan pasangan suami istri . Kasmuni (42) dan Sumiyati (38), warga Dusun Kejenon, Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban ini. Pasutri ini bekerja setiap hari bersama-sama. Mencari ikan dengan menggunakan jaring tarik atau biasa disebut Ngarat.

nelayan Tuban
BEKERJA KERAS : Kasmuni bersama istrinya saat menangkap ikan dengan cara Ngarat

Ngarat adalah proses mencari ikan dengan jaring tarik yang dilakukan 2 orang. Pasutri itu mengaku bahwa tidak ada pekerjaan lain kecuali dengan Ngarat. Mempertahankan cara ini karena tidak memiliki kemampuan atau biaya lebih untuk melakukan pekerjaan lain.

Saat ditemui seputartuban.com, Rabu (25/09/2013) Kasmuni dan istrinya berbekal sebuah jaring tarik yang dibuatnya sendiri sepanjang 100 meter lebar 1,5 meter Kasmuni mencari ikan di pinggir pantai. Hasil dari aktivitas ini tentu tidak terlalu banyak. Hanya ikan berukuran kecil seperti kadrak, mujair laut, keting laut, tetet, trunul dan ikan kiper. Dengan hasil tangkapan dijual dengan harga Rp. 5.000 per-Kg.

Menurut Kasmuni, dalam sehari mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB pasutri ini mampu mendapat ikan seberat 5 Kg. Atau mendapatkan penghasilan harian sebesar Rp. 25 ribu. Berbeda, apabila musim air laut pasang atau musim angin timur, dirinya mampu memperoleh hingga 10 Kg.

Meski sangat terbatas, pekerjaan ini tetap digelutinya. Karena dia merasa tidak ada pekerjaan lain yang mampu dilakukannya bersama istrinya. Karena Kasmuni yang memiliki 2 anak ini menderita sakit pada kakinya. 7 tahun lalu, kakinya pernah lumpuh sebagian. Sehingga sampai saat ini tidak bisa dipergunakan dengan sempurna saat beraktivitas. “Pernah sakit mas, jadi ya kerja seadanya. Yang saya bisa hanya narik ikan sama istri saya, sehari paling banyak Rp. 25 ribu, ” katanya Kasmuni.

Untuk menambah penghasilan, dia menerima perbaikan jaring para nelayan. Dalam sepekan terdapat 2 sampai 5 jaring nelayan yang diperbaikinya. “Sekarang sudah banyak yang diperbaiki sendiri. Sekali perbaikan jaring tergantung kerusakan, sekitar Rp. 20 ribu setiap jaring,” lanjutnya.

Menurutnya, dahulu banyak para nelayan yang bekerja seperti dirinya (Ngarat). Namun saat ini, banyak nelayan yang sudah memiliki alat tangkap ikan yang lebih bagus. Seperti jaring puket dan jaring harimau. Sepadan dengan harga jaring tersebut. Berhubung dirinya tidak mampu membeli dan memiliki jaring tersebut, terpaksa harus yetap bekerja dengan jaring tariknya. “Pernah berhutang membeli jaring puket, tapi hasilnya tidak bisa membayar cicilan. Jalan buntu mas, kerja apalagi, kalau bisanya ini (kerja dengan jaring tarik) ya ini saja, ” ungkapnya. (han)

Terbaru