oleh

Memanjangkan Nafas Petani di “Tepi Zaman”

KEREK

RAKHMAD: Mendidik petani menjadi maju saya rasa lebih bijaksana ketimbang terus-terusan membangun  proyek prestisius.
RAKHMAD: Mendidik petani menjadi maju saya rasa lebih bijaksana ketimbang terus-terusan membangun proyek prestisius.

seputartuban.com-Kehadiran Rahmad, anggota Fraksi Golkar Keadilan Sejahtera DPRD Tuban, langsung dijadikan media wadul tak kurang dari 300 warga yang menjubeli acara reses di Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek, Jumat (21/11/2014) siang.

Mayoritas warga yang berasal dari komunitas petani desa ring PT Semen Indonesia tersebut, dengan berbagai ekspresi wadul nasibnya yang getir. Terbatasnya infrastruktur, sarana dan prasarana menjadi topik yang dikemukakan kepada duta Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Tuban itu.

Menurut warga, problem utama yang sulit diurai adalah pengadaan hand traktor (traktor tangan) untuk mengolah tanah sebagai imbas beralihnya sistem teknologi pertanian analog ke “digital”.

Karena sudah tidak mungkin kembali menggunakan tenaga hewan ternak untuk mengolah tanah, maka warga mengusulkan dapatnya diberi bantuan hand traktor melalui masing-masing kelompok tani. Selama ini, para petani menggunakan jasa mesin traktor dengan cara menyewa. Tapi, pasca kenaikan harga BBM para pengelola jasa traktor juga langsung menaikkan ongkos sewa.

“Kalau kita punya traktor sendiri secara berkelompok, sudah barang tentu biaya dari mengolah tanah bisa lebih murah,” ungkap warga bersemangat begitu sesi dialog dibuka Rakhmad.

Menjawab permintaan itu, Rakhmad menyatakan pada hakikatnya petani telah berjasa besar dalam penyediaan pangan nasional sehingga bangsa ini tidak mengalami kelaparan.

SEMANGAT: Ratusan warga Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek, saat mengikuti reses anggota Fraksi Golkar Keadilan Sejahtera DPRD Tuban, Jumat (21/11/2014) siang.
SEMANGAT: Ratusan warga Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek, saat mengikuti reses anggota Fraksi Golkar Keadilan Sejahtera DPRD Tuban, Jumat (21/11/2014) siang.

“Oleh karena itu, petani tidak boleh lapar. Berkaitan itu, saya selaku wakil rakyat yang sudah penjenengan beri amanat, akan berjuang merealisasikan apa yang menjadi suara petani dalam APBD 2015 nanti. Karena petani adalah bagian dari urat nadi perekonomian nasional. Doakan saja,” papar Rakhmad.
Menurut dia, untuk mendorong peran petani dalam sistem distribusi pangan harus diimbangi dengan infrastruktur, sarana dan prasarana yang kuat. Konsep inilah yang akan dikawal serius ke depan dengan tujuan mengangkat harkat dan martabat petani itu sendiri.

Pernyataan Rakhmad ini sekan ingin menegaskan, bahwa di balik kuatnya kesan keterpurukan kehidupan petani, dalam kenyataannya ada sekelompok petani yang maju dan hidupnya sejahtera.

Fakta itu seolah juga ingin mengembalikan relevansi ungkapan klasik, “kalau ingin hidup tentram jadilah petani, kalau ingin dihormati jadilah pegawai negeri, dan kalau ingin kaya jadilah pedagang.”

Disebutkan, kehidupan petani harus lebih makmur dan menghapus stigma jauh dari kesan tentram dan sejahtera. Petani tidak lagi dalam suasana ketertinggalan dengan kondisi kehidupan yang mengenaskan.

“Mendidik petani menjadi maju saya rasa lebih bijaksana ketimbang terus-terusan membangun  proyek prestisius. Maju secara fisik tetapi lemah di pendidikan. Petani adalah penyokong pangan Indonesia.

Tanpa  mereka tak ada nasi dan bahan makanan lainnya,” ungkap Rakhmad sembari memaparkan pembuktian dari konsep pendidikan gratis dan kesehatan murah bagi rakyat jelata.

Sementara acara reses yang digelar duta PKS DPRD Tuban itu terasa makin gayeng dan tidak membosankan, karena diselingi rancak musik elekton yang melantunkan tembang-tembang bertema kerakyatan.  ARIF AHMAD AKBAR

Print Friendly, PDF & Email

Komentar

1 komentar

  1. Petani kelompok masyarakat yg mulai termarjinalkan,ketika pilkada,pileg,janji2 palsu di obral pra politikus ketika sudah jadi pling2 hanya ucapan terimakasih,liat aja saat musim tanam padi yg ada kelangkaan pupuk,tahun kmarin petani daerah soko sampai membeli pupuk ke daerah bjn meski harganya mahal,ketika panen raya harga gabah pasti anjlok,bahkan ketika ada dana puso pun jatah merekapun bnyak yg disunat aparat,makanya di negri ini orang smakin mlas jadi petani krn tdak pernh di hargai profesinya

Komentar ditutup.

Terbaru