Published On: Sab, Nov 23rd, 2019

Inilah Salah Satu Warisan Sunan Kalijaga, Masih Perlu Upaya Serius Pelestarian Sekaligus Sarana Investasi Bangsa

seputartuban.com, TUBAN – UNESCO pada tanggal 7 November 2003 telah menetapkan Wayang Kulit sebagai salah satu warisan budaya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur atau (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Salah satu pagelaran wayang kulit yang rutin tiap tahun diselenggarakan salah satu perguruan silat di Tuban

Dalam sejumlah literatur menyebutkan pagelaran wayang kulit yang berkembang hingga saat ini adalah atas sentuhan dakwah dari Sunan Kalijaga, Raden Said. Banyak penulis menyebutkan bahwa sang Sunan dengan banyak panggilan nama lain itu putra Adipati Tuban, Raden Ahmad Sahuri (Adipati Tuban VIII) dan Dewi Nawangarum (putri Raden Kidang Telangkas/Abdurrahim Al-Maghribi).

Dalam pagelaran wayang kulit banyak mengandung filosofi pendidikan ketuhanan maupun budi pekerti. Misalkan tokoh Semar, Petruk, Garong, Bagong memiliki arti yang berbeda-beda dalam penafsirannya. Sehingga bukan sekedar pementasan seni namun juga penuh dengan pendidikan.

Menurut salah satu Dalang asal Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Edi Siswanto, Sabtu (23/11/2019) mengungkapkan kekhawatirannya wayang kulit kian meredup. Masih perlunya para pihak terkait berperan lebih untuk menjaga dan mengembangkan agar tidak terkikis zaman. Masyarakat lupa dengan budaya sendiri yang luhur dan lebih mengagungkan budaya luar.

Edi Siswanto dalang asal Kecamatan Kerek yang punya nama panggung Ki Jaduk.

Tuban sudah sepantasnya lebih berperan aktif dalam menjaga, melestarikan dan mengembangkan pagelaran wayang kulit. Karena sang kreator wayang adalah Sunan Kalijaga asli putra Tuban. Ini dapat dijadikan identitas masyarakat agar berpedoman pada nilai-nilai luhur masyarakat jawa maupun agama seperti yang telah dimasukkan dalam wayang oleh sang sunan tersebut.

“Dengan kondisi meredupnya wayang di Tuban yang seperti ini, kalau tidak ditangani sedini mungkin nanti efeknya juga di moral dalang. Karena punya tanggungjawab moral untuk melestarikan,” katanya.

Perlu penataan dan perencanaan sedini mungkin. Agar dalang juga tertata. Tidak meninggalkan negara dan tata krama. “Padahal sudah di gariskan di situ ada kata ki dalang, ki itu kelasnya setara dengan kiai atau orang yang dituakan. Tapi kenapa masih ada perilaku dalang yang kurang udo negoro,” jelasnya.

Menurut dalang yang punya nama panggung Ki Jaduk itu mengatakan peran pemerintah saat ini masih kurang. Baik peran mengorganisir, melestarikan hingga anak muda masih lemah. “Karena ya itu tadi dari pihak pemerintah kurang peduli, penataan dari pihak terkait juga tidak ada. Sampai saat ini generasi penerus sudah ada cuma sudah banyak yang sepuh, yang muda hanya beberapa orang dari kalangan pelajar belum ada. Makanya Tuban kemarin ada festival dalang muda di Surabaya tidak bisa berangkat,” imbuhnya.

Sebaiknya juga ada program wayang masuk sekolah agar siswa juga tahu tokoh pewayangan itu seperti apa bentuknya. Karakternya,dan silsilahnya seperti apa. Harapannya budaya lestari masyarakat terdidik jiwanya. “Tujuannya agar ada ketertarikan dan edukasi untuk siswa ,bahwasanya kesenian di tuban tentang wayang itu seperti apa dan tahu kalau wayang tidak ketinggalan jaman. Padahal wayang itu fleksibel di masuki apa aja bisa,” tegasnya.

Salah satu penggiat sosial di Tuban yang juga pimpinan media ini, Cipnal Muchlip M, mengatakan ada salah satu konsep yang bisa diterapkan untuk menjawab keresahan kondisi wayang kian meredup ini. Selain dibuatnya rancangan program daerah yang bertahap dan terintegrasi lintas OPD, juga bisa membuat program mandiri jangka pendek. Misalkan para pihak terkait membuat kelas wayang yang diperuntukkan perwakilan sekolah SMA sederajat di Tuban.

Mereka diberikan pengetahuan dasar tentang wayang. Baik sisi sejarah, filosofi dasar hingga lainnya. “Kalau mereka tahu selain bisa menimbulkan suka juga ada nilai pendidikan moral yang luhur. Ini tugas kita bersama tidak hanya pemerintah saja. Siapa saja yang peduli masa depan Tuban, masa depan bangsa. Baik perorangan, lembaga maupun perusahaan. Apalagi ada Raden Said putra Tuban dibalik dakwah wayang ini. Jadi bukan sekedar budaya tapi sangat lebih dari itu. Mulai identitas wilayah dan bangsa sekaligus investasi karakter masa depan generasi bangsa,” tegasnya. RHOFIK SUSYANTO

Facebook Comments

Print Friendly, PDF & Email

About the Author

komentar dengan santun

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Videos