oleh

Enam Tahun Belum Cukup Biaya, Akhirnya Mengikuti Operasi Katarak Gratis

TUBAN

seputartuban.com – Menjadi tulang punggung keluarga, Edrap (60), warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban  tetap bekerja keras dibawah terik matahari. Kakek ini tetap melakukan pekerjaanya sebagai pencari sisam padi di sawah untuk menghidupi istrinya, Suti (60).

Operasi katarak gratis Semen Indonesia
BERSYUKUR : Edrap usai menjalani operasi katarak gratis

Karena keterbasan biaya, dia menahan rasa sakit dan melemahnya fungsi kedua matanya sejak 6 tahun silam. Kemudian dengan adanya operasi katarak gratis yang digelar PT Semen Indonesia, dia tidak mau meninggalkan kesempatan emas ini. Karena jika fungsi kedua matanya terganggu, maka akan mempengaruhi saat dia memilah sisa padi yang tertinggal diantara sekam usai dipanen pemiliknya.

Saat ditemui usai menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Koesma Tuban, Minggu (29/09/2013), dia menunggu kesemapatan ini untuk mengobati fungsi kedua matanya yang mulai menurun.  Karena pendapatanya yang terbatas tidak cukup untuk membayar biaya operasi.

Dalam sehari dia hanya mampu memperoleh sekitar 5 Kg gabah. Setiap 1 Kg gabah hanya terjual Rp 2.500. Sehingga pendapatnnya hanya sekitar Rp. 12.500. Jumlah itu sangat tidak mencukupi kebutuhannya. Untuk menambah penghasilan, dirinya harus bekerja menjadi kuli angkut sekam. Setiap 1 truk sekam, tenaga kulinya hanya dihargai sekitar Rp. 25 ribu. Kerjaan itupun tidak setiap hari diperolehnya. Hanya waktu panen dan tertentu saja.

Untuk menambah penghasilan, dia juga rela menjadi tenaga tanam padi. setiap 1 petak sawah, dibayar sekitar Rp. 20 ribu. Bila tidak musim tanam, dia juga bekerja menjual rumput untuk ternak. Tak jarang upah yang diterimanya hanya dihargai dengan sebungkus nasi dengan lauknya. “Kerja seadanya, mata saya sudah tidak mampu melihat dengan baik. Yang bisa apa ya saya kerjakan, ” tuturnya dalam bahasa jawa.

Karena tidak kunjung dapat berobat, setiap hari dia harus merasakan nyeri serta penglihatan yang kabur. Hal inilah yang mendorong dirinya menjadi peserta pengobatan katarak gratis ini. Awal mula dirinya merasakan sakit saat usai bekerja. Setiap hari selalu bergelut dengan asap dan debu dari sisa perontokan padi. Sedikit demi sedikit serabut padi menempel pada selaput bola matanya.

Hal ini mengakibatkan, bola matanya mengalami katarak atau rabun. “Saya bisa berobat gratis ini dari Bidan desa saya. Saya didaftarkan terus ikut operasi ini. Kata bidan, terlalu banyak terkena debu sekam, ” ujarnya.

Sejak pukul 07.00 WIB dirinya mulai melaksanakan operasi. Dan berakhir sampai pukul 11.00 WIB. Terlihat, dia ditemani keponakannya yang bernama Hariyati (33), warga desa yang sama. Karena sang istri sudah tidak bisa bepergian, karena sudah renta. “Sama keponakan itu, diantar naik sepeda motor, ” lanjutnya.

Salah satu dokter operasi katarak, dr. Bagus Prayogi saat ditemui di rumah sakit mengatakan 28 peserta dinyatakan layak mengikuti operasi gratis ini. Sedangkan sekitar 29 warga lainya tidak bisa mengikuti program ini dikarenakan secara medis tidak dimungkinan dilaksanakan operasi.

“Total sebanyak 39 bola mata, karena ada yang satu orang 1 bola mata ada yang 2. Yang tidak bisa mengikuti itu karena gula darah tinggi, cek kerusakan mata sudah parah dan tidak bisa. Pengecekan di puskesmas sebelumnya,” ungkapnya. (han)

Terbaru