oleh

Awas….!!! Musim Hujan Baru Pada Pebruari 2016.

TUBAN

RESAH : Kondisi lahan pertanian saat musim kemarau tidak dapat dipakai bercocok tanam
RESAH : Kondisi lahan pertanian saat musim kemarau tidak dapat dipakai bercocok tanam

seputartuban.com – Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan terjadi pada Pebruari 2016. Karena disebabkan dampak El Nino yang menyebabkan perubahan waktu musim.

Musim hujan yang biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai Februari akan mundur menjadi Februari sampai Juli.

“Sebelumnya musim hujan diperkirakan terjadi pada awal atau akhir Desember 2015, namun dari hasil perkiraan BMKG musim hujan baru akan terjadi Pebruari 2016 mendatang,” jelas Kepala BPBD Tuban, Joko Ludiono, Kamis (29/10/2015).

Kemunduran musim ini dikhawatirkan akan berdampak buruk. Diantaranya kebakaran hutan, ketersediaan air bersih, serta meningkatnya demam berdarah. Kekeringan yang saat ini terjadi di sejumlah kecamatan akan semakin meluas.

Sebelumnya tersebar di 7 kecamatan, diperkirakan akan meluas di 10 kecamatan dengan mencakup 46 desa terdampak. “Dengan mundurnya musim hujan ini menambah jumlah desa yang mengalami kekurangan air bersih,” keluh Joko.

Hingga saat ini BPBD Kab. Tuban terus melakukan pengiriman air bersih ke kawasan yang terjadi kekurangan air bersih. 4 armada truk tangki disiapkan untuk melakukan pengiriman air masing-masing sebanyak 3 kali sehari.

Hasil pemetaan daerah yang berpotensi mengalami krisis air bersih ada sebanyak 53 desa. Sedangkan anggaran yang dimiliki oleh BPBD Tuban dari perubahan anggaran keuangan (PAK) ABPBD 2015 sebesar Rp. 150 juta.

 Dipastikan dana tersebut akan sangat kurang untuk memenuhi permintaan pengiriman air bersih. “Kita akan mengajukan bantuan ke Propinsi dan juga BNPB untuk mencukupi kebutuhan penanganan kekeringan ini,” sambungya.

Masyarakat dihimbau dengan mundurnya musim hujan ini masyarakat tetap tenang. Bagi petani bercocok tanaman membutuhkan air banyak, jangan menanam saat peralihan musim. Agar tidak terjadi gagal tanam atau gagal panen.

Upaya lain agar wilayah-wilayan yang menjadi langganan kekeringan, akan diusulkan mendapatkan bantuan pengeboran air bawah tanah (ABT). “Kita akan lakukan koordinasi dengan dinas terkait ada program pengeboran didaerah yang selalu kekeringan, serta mengoptimalkan dari HIPPAM yang ada,” pungkasnya. MUHLISHIN

Print Friendly, PDF & Email

Terbaru