seputartuban.com, MERAKURAK – Berbagai Persiapan menjelang kunjungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Dusun Bribin Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban, Sabtu (16/05/2026). Tepatnya di kawasan hutan petak 57e, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Merakurak, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Merakurak, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Tuban.
Lokasi sebelumnya merupakan kawasan pertanian hutan yang digarap oleh penggarap (pesanggem). Usai ditanami kacang tanah. Kemudian dipakai acara ini dan dilakukan perubahan drastic dari kondisi semula. Bahkan mengerahkan dari berbagai pihak untuk menyiapkan landasan helicopter (Helipad) dan lokasi pendirian tenda acara seremonial. Hingga Jumat (15/05/2026) sore, terpantau 2 alat berat masih bersiaga di lokasi kegiatan dengan berada di bawah tegakan pohon jati.
Lahan yang sebelumnya terdapat sejumlah tegakan pohon jati, ditebang dan diangkut menggunakan truk. Sehingga lokasi kegiatan layaknya lapangan luas tanpa pohon satupun. Namun sekitarnya yang tidak dipakai kegiatan, masih dipertahankan pohon jatinya. Sedangkan pemadatan lahan dilakukan dengan menimbun menggunakan semen reject dari Semen Indonesia.
Senior Manager of Corporate Communication SIG Pabrik Tuban, Dharma Sunyata, saat dikonfirmasi Jumat (15/05/2026) sore membenarkan penimbunan ini dari semen reject perusahaanya atas permintaan Polres Tuban. “Tersebut permintaan bantuan dari Polres (Polres Tuban), berupa semen rijek. Totalnya belum menghitung,” tegasnya.
Salah satu petani sekaligus Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMD) setempat, Jaswadi yang juga penggarap lahan yang kini diratakan itu mengaku sebelumnya tidak diberitahu atau dilibatkan dalam penentuan lokasi kegiatan. “Diawal saya tidak dilibatkan, saya diundang ketika lahan garapan saya sudah diratakan menggunakan alat berat. Sebenarnya saya juga kaget kok seperti ini, tapi yang mau gimana lagi inikan lahan juga milik negara (Perhutani),” katanya.
Jaswadi juga merasa kebingungan harus mengadu pada siapa ketika mau minta ganti rugi. Untuk membenahi kembali lahan garapannya yang sebelumnya sudah ditata batu-batu yang digunakan sebagai penahan tanah ketika hujan. Serta dampak penimbunan semen reject tersebut, sangat berdampak hasil pertaniannya.
“Kemarin sudah tak belikan batu umpak untuk penahan tanah agar tanahnya tidak hilang waktu hujan. Sekarang semua batu- batu yang sudah saya tata sudah hilang dan lahan juga ditimbun. Saya sebagai orang kecil bingung harus mengadu pada siapa nantinya, minimal ada untuk beli batu umpak lagi,” harapnya.
Bagaimana dampak perubahan “wajah hutan” menjadi seperti ini. Bagaimana sistem pengelolaan kawasan hutan, bagaimana dampak lingkungan maupun pertanian atas penimbunan semen reject di kawasan tersebut. Serta mekanisme penebangan pohon jati tersebut, seputartuban.com sudah berupaya konfirmasi ke Administratus KPH Tuban,Mada Yuwono Hadhi. Namun pesan singkat yang dikirimkan tidak mendapatkan tanggapan. RHOFIK SUSYANTO

