Banyubang Rawan Bencana Tanah Longsor

GRABAGAN

MIRIS: Salah satu bahu jalan di Desa Banyubang, Kecamatan Grabagan, yang ambles sejak bulan Februari 2014 lalu. (foto: ARIF AHMAD AKBAR)
MIRIS: Salah satu bahu jalan di Desa Banyubang, Kecamatan Grabagan, yang ambles sejak bulan Februari 2014 lalu. (foto: ARIF AHMAD AKBAR)

seputartuban.com–Seiring datangnya musim penghujan kali ini membuat warga Desa Banyubang, Kecamatan Grabagan, miris mengingat kawasan pemukiman di punggung bukit kapur tersebut sejak dua tahun terakhir dikepung “jurang” menganga akibat maraknya penambangan galian C.

Menyaksikan tata letak sebagian pemukiman warga yang berada di bibir tebing, jika sewaktu-waktu turun hujan sangat berpotensi terjadi longsor. Sebab, menilik pengalaman musim penghujan tahun lalu curah air yang turun dari langit cukup mengkawatirkan.

Tahun kemarin gelontoran air hujan dari kawasan perbukitan di atas pemukiman warga Desa Banyubang cukup besar dan kencang. Tahun ini gerusan air diperkirakan akan semakin mengerikan. Selain terus habisnya tanaman besar dan keras yang bisa menahan gelontoran air, makin meluasnya galian tambang C juga jadi salah satu pemicu utama terjadinya bencana tanah longsor.

KOndisi ini membuat warga yang tinggal di Desa Banyubang kebingungan. Apalagi tanda-tanda longsor sudah mulai terlihat dari badan jalan desa yang semula rata kini sebagian ambles.

Widji, salah satu warga setempat, mengaku sangat khawatir bilamana musim penghujan tiba akan menyebabkan longsor di daerah tempat tinggalnya .

“Kami merasa was-was dengan kejadian alam ini. Dilihat dengan mata telanjang saja sudah jelas bahwa sebagian badan jalan sudah ambles. Kami sangat khawatir memasuki musim penghujan nanti akan terjadi longsor,” papar dia saat ditemui di rumahnya, Senin (10/11/2014) pagi.

Sementara Kepala Desa Banyubang Rosidin, mengatakan pihaknya sudah mengajukan permohonan ke Pemkab Tuban untuk pembangunan tembok penahan tanah, plengsengan atau bronjong.

Rosidin menjelaskan, peristiwa amblesnya sebagian badan jalan desa yang dikuatirkan akan berimbas ke perumahan warga sudah terjadi Februari 2014 lalu. Saat itu juga pihak desa langsung melaporkan kondisi tersebut ke Pemkab Tuban.

“Namun sampai bulan ini (November 2014) belum ada tindakan apa-apa dari Pemkab Tuban,” jelasnya.

Menurut Rosidin, untuk mengantisipai agar bahu jalan yang ambles tidak semakin meluas terpaksa dilakukan rekayasa kontruksi dengan cara memasang bronjong bambu dan kemudian dipadatkan menggunakan pedel. Anggarannya murni swadaya masyarakat Desa Banyubang sendiri.

Dikonfirmasi terpisah Kepala Bidang Jalan Dan Jembatan Dinas PU Pemkab Tuban Izudin, menjelaskan tentang pembangunan yang diselenggarakan dari biaya APBD tahun 2014 hanya dialokasikan untuk delapan kecamatan. Grabagan tidak termasuk kecamatan yang masuk daftar dimaksud.

Izudin menyebutkan, Untuk pembangunan tembok pengaman jalan (plengsengan, Bronjong)  di Kabupaten Tuban tahun ini dilaksanakan di Kecamatan soko, Semanding, Jatirogo, Kenduruan, Bangilan, Singgahan, Senori dan Kecamatan Tambakboyo

“Sedangkan pada P-APBD 2014 hanya untuk peningkatan sarana jalan dan pemeliharaan jalan serta jembatan,” tandas dia.  ARIF AHMAD AKBAR

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses