seputartuban.com, TUBAN – Keinginan warga Kabupaten Tuban untuk menunaikan ibadah haji masih sangat tinggi. Namun di sisi lain, antrean keberangkatan kini semakin panjang. Berdasarkan dashboard Sistem Informasi Haji Kementerian Agama Republik Indonesia, masa tunggu haji di Tuban saat ini mencapai sekitar 29 tahun.
Data tersebut mencatat jumlah jamaah haji asal Tuban yang masuk daftar tunggu mencapai 41.483 orang. Dari jumlah itu, sekitar 5.314 di antaranya merupakan jamaah kategori lanjut usia (lansia).
Artinya, warga yang mendaftar tahun ini kemungkinan baru dapat berangkat hampir tiga dekade mendatang. Kondisi ini membuat sebagian calon jamaah diperkirakan baru memperoleh giliran saat memasuki usia lanjut. Hingga 9 Mei 2026, jumlah pendaftar baru tercatat sebanyak 102 orang. Angka tersebut turun sekitar 70 persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 344 pendaftar. Meski begitu, antrean panjang belum menunjukkan penurunan signifikan.
Dari sisi gender, jamaah perempuan tercatat lebih banyak dibanding laki-laki. Jumlah jamaah perempuan mencapai sekitar 21.951 orang, sedangkan laki-laki sekitar 19.532 orang. Data pekerjaan menunjukkan kelompok wiraswasta mendominasi daftar tunggu dengan sekitar 10.586 jamaah. Disusul kategori tani dan nelayan sebanyak 9.196 orang serta ibu rumah tangga sekitar 8.591 orang.
Kalangan ASN juga cukup besar dengan jumlah sekitar 4.686 orang. Sementara pelajar dan mahasiswa tercatat sekitar 3.412 orang, menunjukkan minat menabung haji mulai dilakukan sejak usia muda. Pada aspek pendidikan, mayoritas jamaah berasal dari lulusan sekolah dasar sebanyak 13.935 orang. Disusul lulusan SLTA sekitar 10.288 orang dan strata satu (S1) sebanyak 8.674 orang.
Fenomena ini menunjukkan ibadah haji tetap menjadi cita-cita besar masyarakat Tuban lintas profesi dan latar belakang pendidikan. Meski harus menunggu puluhan tahun, minat masyarakat untuk mendaftar belum surut sepenuhnya.
Di sisi lain, panjangnya antrean juga memunculkan tantangan baru. Pemerintah dituntut meningkatkan pelayanan, terutama bagi jamaah lansia yang jumlahnya terus bertambah setiap tahun. Persoalan kesehatan, kepastian keberangkatan, hingga kesiapan fisik menjadi isu yang semakin penting.
Bagi sebagian warga, daftar haji kini bukan sekadar soal kesiapan biaya, tetapi juga perlombaan dengan usia. Tidak sedikit calon jamaah yang harus menunggu hingga masa pensiun untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Pada akhirnya, antrean panjang haji menjadi gambaran besarnya antusiasme masyarakat sekaligus keterbatasan kuota keberangkatan. Warga berharap pelayanan dan kepastian antrean terus diperbaiki agar penantian panjang itu tetap memberi harapan. Nal

