Tak Sekadar Skripsi, Mahasiswa RPL Kampus Ungu Bojonegoro Hasilkan Aplikasi Layanan Digital Potensi Jadi Startup

seputartuban.com, BOJONEGORO – Mahasiswa Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Fakultas Sains dan Teknologi, Institut Sains dan Teknologi Insan Cendekia Husada Bojonegoro atau yang dikenal sebagai Kampus Ungu, tidak hanya menyelesaikan skripsi sebagai syarat akademik. Sejumlah mahasiswa berhasil menghasilkan aplikasi yang dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat, sekaligus menyelesaikan proses akademik hingga dinyatakan lulus melalui yudisium.

Karya yang dihasilkan mahasiswa RPL tersebut meliputi aplikasi layanan barbershop online, aplikasi layanan terapis online, aplikasi toko grosir digital, hingga aplikasi manajemen pengelolaan ruang kelas.

Berbeda dengan karya yang hanya berhenti pada rancangan atau prototype, aplikasi yang dikembangkan mahasiswa menjadi bagian dari hasil tugas akhir yang menunjukkan kemampuan mereka dalam menerapkan ilmu rekayasa perangkat lunak secara utuh, mulai dari analisis kebutuhan, perancangan sistem, pemrograman, hingga pengujian aplikasi.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, K.R.A.T. Cipnal Muchlip M, S.E., M.M., saat diwawancarai Rabu (12/8/2026), mengatakan mahasiswa perlu didorong untuk tidak berhenti pada kemampuan membuat aplikasi, tetapi juga mampu mengidentifikasi persoalan dan menghadirkan solusi yang dapat diterapkan.

“Mahasiswa diharapkan menjadi problem solver, sehingga hasil akademiknya dapat ditindaklanjuti menjadi solusi kekinian untuk masyarakat, serta berpotensi menjadi komoditas ekonomi besar apabila dikembangkan lebih lanjut,” katanya.

Menurutnya, pola pengembangan tugas akhir seperti ini menjadi penting karena perkembangan teknologi membutuhkan sumber daya manusia yang bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan produk digital berdasarkan kebutuhan masyarakat.

Hasilkan Beragam Aplikasi

Salah satu karya mahasiswa adalah aplikasi layanan barbershop online. Sistem tersebut dirancang untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan dalam memperoleh informasi layanan, melakukan pemesanan, hingga menentukan waktu pelayanan tanpa harus menunggu antrean terlalu lama.

Bagi pemilik usaha, aplikasi tersebut juga dapat dikembangkan untuk membantu pengelolaan pelanggan, jadwal pelayanan, transaksi, hingga pencatatan aktivitas bisnis.

Mahasiswa lainnya menghasilkan aplikasi layanan terapis online yang dapat menjadi penghubung antara masyarakat dengan penyedia layanan terapi. Sistem tersebut dirancang agar masyarakat dapat memperoleh informasi layanan dan menentukan kebutuhan terapi secara lebih mudah melalui platform digital.

Tidak hanya sektor jasa, mahasiswa RPL Kampus Ungu juga menyentuh sektor perdagangan melalui aplikasi toko grosir digital. Aplikasi tersebut dapat digunakan untuk membantu pengelolaan stok barang, transaksi, data pelanggan, hingga aktivitas administrasi usaha yang sebelumnya masih banyak dilakukan secara manual.

Sementara itu, untuk menjawab kebutuhan pengelolaan fasilitas pendidikan, mahasiswa juga menghasilkan aplikasi manajemen ruang kelas. Sistem tersebut dirancang untuk mempermudah pengaturan jadwal penggunaan ruangan, mengetahui ketersediaan kelas, serta membantu mencegah terjadinya benturan pemakaian ruang.

Beragam aplikasi tersebut menunjukkan bahwa tugas akhir mahasiswa tidak semata-mata berorientasi pada penyelesaian kewajiban akademik, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan karya yang memiliki fungsi dan manfaat nyata.

Lulus Yudisium

Setelah menyelesaikan penelitian, pengembangan aplikasi, serta tahapan akademik yang dipersyaratkan, para mahasiswa tersebut kemudian mengikuti proses yudisium sebagai penetapan kelulusan akademik. Dengan demikian, aplikasi yang dihasilkan menjadi bagian penting dari perjalanan akademik mahasiswa hingga menyelesaikan pendidikan pada Program Studi RPL.

Cipnal Muchlip menilai, keberhasilan mahasiswa menyelesaikan tugas akhir sekaligus menghasilkan aplikasi merupakan capaian yang perlu diapresiasi karena memperlihatkan keterkaitan antara proses pembelajaran dengan kebutuhan dunia nyata. “Karya mahasiswa ini bukan hanya menjadi bagian dari skripsi, tetapi menunjukkan bahwa selama proses akademik mereka mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk menghasilkan aplikasi yang memiliki fungsi dan manfaat,” ujarnya.

Menurut dia, aplikasi yang telah dihasilkan tersebut juga tidak seharusnya berhenti setelah mahasiswa dinyatakan lulus. Produk digital itu masih memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh melalui penyempurnaan fitur, pengujian kepada pengguna, pengembangan model bisnis, maupun kerja sama dengan dunia usaha dan industri.

Berpeluang Dikembangkan Menjadi Startup

Cipnal Muchlip yang juga dikenal sebagai pegiat budaya menilai sejumlah aplikasi hasil tugas akhir mahasiswa tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk komersial maupun usaha rintisan atau startup digital.

Menurut dia, pengembangan lanjutan dapat dilakukan dengan melihat kebutuhan pengguna, menguji penerimaan pasar, memperbaiki fitur, serta membangun model bisnis yang sesuai. “Hasil karya mahasiswa ini berpotensi tinggi untuk direalisasikan menjadi startup baru yang siap bersaing karena masing-masing memiliki ciri khas sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Setiap aplikasi, lanjut dia, lahir dari persoalan yang berbeda. Karena itu, peluang pengembangannya juga terbuka pada segmen pengguna yang berbeda. Aplikasi barbershop online, misalnya, dapat dikembangkan dari sistem yang digunakan satu usaha menjadi platform yang menghubungkan banyak barbershop dengan pelanggan.

Demikian pula aplikasi terapis online yang dapat dikembangkan menjadi platform penyedia jasa berbasis lokasi maupun kebutuhan pengguna.

Aplikasi toko grosir berpeluang dikembangkan menjadi layanan digital bagi pelaku usaha perdagangan, sedangkan aplikasi manajemen ruang kelas dapat diperluas penggunaannya untuk sekolah, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, hingga institusi yang memiliki banyak fasilitas ruangan. “Bukan sekadar skripsi, namun kampus mendorong lahirnya inovator baru serta berorientasi pada produk solutif dan bernilai ekonomi tinggi,” imbuhnya.

Mahasiswa Didorong Menjadi Pencipta Teknologi

Pengembangan aplikasi dalam tugas akhir juga menjadi bagian dari upaya mendorong mahasiswa RPL agar memiliki pola pikir sebagai pencipta teknologi. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami bahasa pemrograman, basis data, desain antarmuka, maupun pengujian perangkat lunak. Mereka juga harus mampu membaca kebutuhan pengguna dan menerjemahkannya menjadi sistem yang dapat digunakan.

Dengan pendekatan tersebut, tugas akhir menjadi proses yang menghubungkan kemampuan akademik, keterampilan teknologi, dan kebutuhan nyata di lapangan.

Sebuah persoalan sederhana di lingkungan masyarakat dapat menjadi titik awal munculnya inovasi.

Antrean pada tempat potong rambut dapat mendorong lahirnya aplikasi reservasi digital. Kesulitan masyarakat menemukan penyedia terapi dapat menjadi dasar pengembangan platform layanan terapis. Pengelolaan toko yang belum tertata dapat ditransformasikan menjadi aplikasi grosir digital, sementara persoalan penggunaan ruang kelas dapat dijawab dengan sistem manajemen fasilitas yang lebih efisien.

Orientasi tersebut sekaligus membuka kemungkinan hasil karya mahasiswa untuk dilanjutkan melalui pengembangan minimum viable product (MVP), pengujian kepada pengguna, perlindungan kekayaan intelektual, inkubasi bisnis, hingga kerja sama dengan dunia usaha dan industri.

Harapannya, produk yang lahir dari lingkungan akademik tidak hanya menjadi dokumentasi kelulusan, tetapi memiliki keberlanjutan dan dampak nyata bagi masyarakat.

Melalui karya mahasiswa RPL tersebut, Fakultas Sains dan Teknologi Kampus Ungu Bojonegoro ingin membangun tradisi bahwa perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat mempelajari perkembangan teknologi, tetapi juga ruang untuk melahirkan inovator dan produk teknologi baru. Dari proses akademik hingga yudisium, mahasiswa tidak hanya membawa gelar kelulusan, tetapi juga membawa hasil karya berupa aplikasi yang berpotensi terus dikembangkan. Dari skripsi menjadi aplikasi, dari aplikasi menjadi produk, dan dari produk diharapkan dapat berkembang menjadi layanan yang memiliki nilai sosial sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.