Published On: Sab, Agu 1st, 2015

Yang Dibekukan Sistem Online-nya Bukan Kampusnya

TUBAN

HADI TUGUR: Perlu saya mengingatkan, yang dibekukan adalah sistem pelaporan on line bukan lembaganya.

HADI TUGUR: Perlu saya mengingatkan, yang dibekukan adalah sistem pelaporan on line bukan lembaganya.

seputartuban.com-Karut marut yang melanda Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban terus menggelinding pasca statusnya dibekukan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Di tengah tuntutan mundur sivitas akademika yang dialamatkan pada dirinya, Rektor Unirow Hadi Tugur, berjanji akan menuntaskan persoalan kampus yang saat ini membuat resah ratusan mahasiswa baik yang masih aktif maupun alumni.

“Perlu saya mengingatkan, yang dibekukan adalah sistem pelaporan on line bukan lembaganya,” katanya saat dihubungi seputartuban.com melalui sambungan telepon, Sabtu (01/08/2015) sore.

Namun dia mengatakan, pembekuan kampus terbesar di Tuban ini karena rasio jumlah mahasiswa dengan dosen tetap yang ada melampaui ketentuan.

Secara aturan, setiap dosen rasionya harus kurang dari 100 mahasiswa. Sedangkan kondisi sekarang rasionya 1 : 110. Hal ini yang kemudian membuat status Unirow dibekukan.

“Saat ini kita sedang mengusulkan penambahan dosen sehingga bisa mencukupi aturan rasio. Berkas persyaratan dosen sudah dimintakan rekomendasi ke kopertis terus diserahkan ke dikti. Beres lah,” ungkap Tugur.

demoDisebutkan, saat ini Unirow memiliki 9.351 mahasiswa sehingga secara rasio harus memiliki dosen 115 orang. Tapi saat sekarang baru ada sebanyak 85 dosen.

“Kita sedang mengajukan penambahan dosen. Kita siapkan ada 30 dosen. Sebanyak 15 dosen persyaratannya sudah lengkap tinggal menunggu rekomendasi dari Dirjen Dikti,” tandas intelektual kelahiran Kalitidu Bojonegoro ini.

Ketika ditanya tuntutan mahasiswa agar dia mundur, Tugur mengatakan bahwa pengunduran rektor harus melalui prosedur dan aturan yang ada. Dia ingin agar masa jabatannya yang akan berakhir Oktober itu bisa menyelesaikan kisruh yang saat ini terjadi.

Sementara terkait masalah ijazah palsu serta mahasiswa yang sudah memperoleh ijazah tetapi datanya di dikti tidak ada, menurut Tugur, hal itu disebabkan karena kesalahan dari admin.

“Sudah dilakukan perbaikan terhadap data tersebut. Segera semuanya akan pulih,” tegasnya.

Dibekukan Bukan Berarti Ditutup

Sebelumnya, Hadi Tugur menyatakan jika kampus di Jalan Manunggal yang dipimpinnya tetap melakukan aktivitas perkuliahan sesuai standar yang berlaku.

Hanya saja, dia membenarkan bahwa Unirow saat ini berstatus non aktif alias dibekukan oleh statusnya dibekukan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Namun dia berdalih jika pembekuan tersebut karena adanya perubahan peraturan yang hingga saat ini dalam proses untuk kembali dipulihkan.

“Status non aktif ini tidak yang pertama kalinya, sebelumnya juga pernah mengalami hal semacam ini,” tegas Hadi Tugur.

Dia memaparkan, sanksi non aktif ditetapkan pasca Dikti melakukan sidak dan mnemukan ada beberapa arsip yang masih kurang, seperti bukti scaner ijazah dan transkip yang tidak ada.

Selain itu, juga disebabkan karena rasio antara dosen dengan mahasiswa tidak seimbang, sehingga Unirow dibekukan.

“Tetapi status non aktif itu bukan berarti Unirow ditutup. Untuk mengaktifkan kembali status program studi itu, maka harus memenuhi aturan yang berlaku tentang jumlah minimal dosen,” kata Tugur. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author