Published On: Sel, Jun 10th, 2014

Varian Kreatif Gerus Batik Asli Tuban

TUBAN

Tak gampang memang mempertahankan jati diri. Hal paling kecil salah satunya adalah corak batik asli yang menjadi ikon sebuah daerah. Tuban misalnya dengan corak batik yang disebut “Ririan” dan “Sidomukti”. Padahal jika kita tengok sepuluh tahun ke belakang, dua motif ini sangat digemari tak hanya warga lokal.

DIGERUS ZAMAN: Kin banyak banyak gerai batik Tuban banting stir dengan menjual batik modern.

DIGERUS ZAMAN: Kian banyak banyak gerai batik Tuban banting stir dengan menjual batik modern.

seputartuban.com- Namun, seiring membanjirnya batik kreatif model printing, sekarang corak batik asli Tuban ini mulai ditinggalkan. Alasannya, seni batik lokal pesisir itu dianggap tak mewakili zaman yang serba inovatif dan kreatif.

Maka tak salah jika kemudian banyak gerai batik yang dulu mempertahankan “Ririan” dan “Sidomukti” sebagai cover dagangannya kini berangsur-angsur banting setir. Hampir tak ada lagi dua corak lokal Tuban itu menghuni etalasenya.

Salah satunya adalah sebuah toko batik di Jalan Letda Sucipto Tuban yang sekarang lebih banyak memajang corak kreatif. Bahkan, toko batik milik Sholeh, warga Kecamatan Kerek ini, mirip sebuah perpustakaan batik. Sebab di sini ada berbagai corak dan motif batik lukisan tinta.

Namun disinggung soal corak batik asli tuban, dirinya sempat terbelalak dan kaget. Alasannya, peminatnya untuk  corak batik bergambar seperti duri ikan (Ririan) dan seperti lembaran daun menyerupai sayap burung (Sidomukti) kian redup. Terkesan jadul dan tua, mungkin lebih tepat untuk mengisi alasan sepinya peminat. Dalam sebulan saja, toko hanya mampu menjual tak lebih dari 30 lembar corak tersebut.

Untuk itu, dirinya kini lebih banyak menyajikan corak batik yang diminati konsumen. Seperti corak batik terbaru, “Dangkel Sungsang”. Jenis corak yang menyerupai batang pohon dengan akarnya. Corak ini sangat diminati karena warnanya sangat banyak, motifnya bervariasi, dan sangat cocok untuk pakaian jenis apapun.

Lainnya, corak “Kedelai Lengser” dan “Tujuh Rupa” juga masih menjadi primadona. Sebab, batik ini juga banyak dipergunakan untuk seragam kerja PNS dan pelajar di Tuban. “Dengan diberlakukannya seragam pegawai dan pelajar sangat membantu penjualannya,” kata Sholeh.

Sementara Sintya Sari selaku ketua komunitas batik Tuban, mengaku bahwa corak batik sangat banyak. Namun sebagian terdapat sejarah untuk kotanya, dan sebagian lainnya hasil kombinasi baru. Ramainya peminat batik, dimulai dengan diwajibkannya seragam bagi pegawai. Selain itu, para desainer fashion  juga menggunakan dasar batik dalam rancangan busananya.

“Fashion memang selalu berubah, khususnya batik. Jadi kalau coraknya jadul sulit dipakai. Kalau bisa banyak corak dan motif,” ucap ibu satu anak ini.

Menurut dia, lahirnya  komunitas batik yang dipimpinnya ini disebabkan adanya stereotif negatif di tengah masyarakat yang menganggap batik identik dengan “jadul dan kampungan”. Padahal sejatinya  tidak. Terbukti, 200 pembatik msauk menjadi anggota komunitas pecinta batik Tuban.

“Tapi yang pasti, tujuannya agar batik khas Tuban tetap eksis dan banyak peminatnya, ” terang Sintya. HANAFI

Facebook Comments

About the Author