Published On: Rab, Jun 25th, 2014

TPI Bancar, Megah Nan Mempesona Tapi Sia-sia

Share This
Tags

Upaya pemerintah membuat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bancar lebih hidup justeru tambah sekarat. Bangunan anyar dengan design modern dan berkapasitas besar disamping TPI Bancar yang lama, meski dari luar terlihat megah tapi sesungguhnya di dalam tak aktifitas alias mangkrak. Fakta ini kian menguatkan tengara jika pembangunan TPI Bancar tidak dilakukan kajian mendalam.   

MANGKRAK: Bangunan TPI Bancar yang megah dan indah ini hingga sekarang belum berfungsi sesuai namanya.

MANGKRAK: Bangunan TPI Bancar yang megah dan indah ini hingga sekarang belum berfungsi sesuai namanya.

seputartuban.com- Terbukti, TPI Bancar yang peresmiannya dilakukan Gubenur Jatim Sorkarwo dua tahun lalu itu hingga kini belum beroperasi. Ironiya, para nelayan justru lebih memilih melelang ikannya pada tengkulak ikan ketimbang dibawa ke dalam gedung TPI yang megah dan indah di tepian pantai Desa Bulu, Kecamatan Bancar ini.

Akibatnya, bangunan seluas 800 meter persegi di atas tanah negara tepian pesisir ini hingga sekarang  belum berfungsi seperti namanya. Sebelumnya, TPI bancar yang berada persis di bagian barat bangunan baru sangat ramai sebagai pusat pelelangan ikan nelayan. Tidak hanya nelayan sekitar, bahkan nelayan di pesisir Kabupaten Rembang, Jepara ikut meramaikan.

Sejalan dengan itu, pemerintah membuat program untuk mengelola penjualan dengan membuat TPI Bancar berkapasitas lebih besar. Namun, setelah fasilitas lengkap justru mangkrak. Terlihat di bagian depan TPI hanya ada pos keamanan yang kosong, membuat warga
bebas keluar masuk.

Tak cuma itu. Sepinya nelayan yang melelang ikan menjadi penyebab utama bangunan yang menelan dana sekitar Rp 1 miliar itu tidak berfungsi maksimal. Banyak nelayan yang menggunakannya sebagai lokasi tambat labuh kapal usai melaut. Tak jarang, nelayan
juga membeber jaring meski sekedar untuk diperbaiki.

Salah warga setempat, Sukirman, menyatakan  nelayan justru lebih memilih melelang ikannya pada tengkulak dibandingkan menjual pada pengelola TPI Bancar. Carut marutnya pengelolaan TPI diduga menjadi penyebabnya. Sejak dibuka untuk umum, belum ada upaya tinm pengelola yang dihandle oleh paguyuban desa setempat untuk memiliki modal dalam membeli ikan.

Sehingga, nelayan kuwatir apabila hendak melelang ikan takut tidak dibayar. Ketidak percayaan kepada tim pengelola menjadi alasannya.

“Setahu saya, sejak dibuka belum pernah dipergunakan. Banyak nelayan yang tidaak suka dengaan tim pengelolanya,” kata lelaki 45 tahun ini.

Pernyataan sama disampaikan Ikhwal, nelayan setempat lainnya. Lelaki 30 tahun  ini,  menjelaskaan persoalan manajemen TPI diduga bermasalah. Akibatnya, pengelolaannya amburadul. Ini berimbas pada nelayan, yang seharusnya bisa menggunakan fasilitas negara, justru beralih fungsi.

Disamping untuk memperbaiki jaring, banyak hewan ternak warga yang dilepaskan di dalam TPI bercat warna biru itu.

“Warga hanya menunggu. Kalau tidak dipergunakan tunggu saja rusaknya,” ucap ikhwal.

Terkait kasus diatas, salah satu pengurus koperasi yang sebelumnya ditunjuk untuk mengelola TPI Bancar, menjelaskan polemik dalam pelelangan tidak semuanya bisa diselesaikan dengan mudah. Banyak aspek. Salah satunya permodalan dan sistem yang terlalu rumit.

“Kita sudah melaksanakan sesuai kesepakatan. Namun terkadang aturan ini sangat mengikat. Sehingga banyak yang belum terselesaiakan.“ jelasnya.

Terpisah Kadin Kelautan dan Perikanan Tuban, Sunarto, mengatakan proses reorganisasi dalam pengelolaan ulang TPI sudah dipersiapkan secara matang. Diharapkan bagi pengurus baru bisa mengelola TPI dengan baik.

“Sudah disepakati bersama untuk diulang koperasi lelangnya. Rencana kita ambil alih saja,“ singkatnya.  HANAFI

Facebook Comments

About the Author