Published On: Sab, Jun 21st, 2014

Tetap Berjuang Ditengah Keterbatasan, Sarini Wanita Tangguh

Share This
Tags

KEREK

WANITA TANGGUH : Ditengah keterbatasan yang dimilikinya, Sarini tetap tekun melakoni pekerjaanya membuat tikar pandan untuk membantu ekonomi keluarganya

WANITA TANGGUH : Ditengah keterbatasan yang dimilikinya, Sarini tetap tekun melakoni pekerjaanya membuat tikar pandan untuk membantu ekonomi keluarganya

seputartuban.com Meski memiliki keterbatasan tidak membuat Sarini (61), warga Desa Hargoretno, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban patah arang untuk mengarungi kehidupan. Kaki kirinya yang tidak normal dan usia yang mulai senja, dia tetap tekun melakoni pekerjaanya sebagai pembuat tikar dari pandan untuk membantu ekonomi keluarganya.

Berbekal kemahiran membuat tikar pandan, Sarini sejak puluhan tahun lalu menekuni pekerjaanya. Bahkan saat ini dia satu-satunya pembuat tikar dari pandan. Namun permintaan konsumen menurun, karena sebagian besar pembeli tikarnya untuk keperluan pemakaman. Karena masyarakat umum sudah mulai jarang menggunakan tikar dari pandan untuk alas tidur.

Namun ditengah kondisi serba sulit ini dia tetap tekun bekerja menjadi pembuat tikar. Karena dengan segala keterbatasanya tidak ada pilihan pekerjaan lain yang dapat dilakukanya. Toh buktinya dengan pekerjaan ini dia tetap bisa membantu ekonomi orang tuanya.

TABAH : Sarini hanya tinggal serumah bersama ibunya yang sudah berusia senja

TABAH : Sarini hanya tinggal serumah bersama ibunya yang sudah berusia senja

“Kita mau kerja apa lagi mas, ya membuat tikar ini saya tekuni dan lumayan bisa untuk menyambung hidup. Kita mau buruh tani juga gak kuat, tepi ladang saya yang sempit itu saya tanami pandan agar kita tidak membeli kalau membuat tikar,” ungkap Sarini saat ditemui seputartuban.com dirumahnya, Jum’at (20/6/2014).

Sarinah (79) ibunya selalu membantu membuat tikar. Daun pandan diambil dari ladangnya yang berjarak sekitar 2 kilometer, yang ditempuh dengan berjalan kaki. Kemudian dijemur hingga kering agar tidak mudah putus saat dianyam. Setelah daun dipotong selebar 1 centimeter. kemudian dianyam hingga menjadi tikar dengan ukuran 1 meter kali 2 meter. “Kalau tidak dikeringkan dulu daunnya mudah putus mas,” tuturnya.

Untuk membuat 1 buah tikar dibutuhkan daun pandan sebanyak 100 lembar lebih, dan lama pembuatan 4 hari. Laku dijual dengan harga Rp. 30 ribu, dalam setiap bulan ia bisa menghasilkan 6 buah tikar pandan. “Kita menunggu daunnya kering dulu baru bisa membuatnya, saya tidak penah menjual kemana-kemana, mereka yang datang kemari membeli tikar saya ini,” sambungnya.

Dia serumah hanya dengan ibunya. Seangkan saudara laki-laki dan perempuannya sudah beda rumah dengan keluarganya masing-masing. Diusianya yang mulai senja, ia hanya berdoa semoga selalu diberikan kesehatan sehingga masih dapat bekerja membuat tikar untuk membantu ekonomi ibunya. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author