Published On: Sel, Mar 17th, 2015

Spirit Warga Desa Guwoterus Menjaga “Mudun Lemah” di Tepi Zaman

Di tengah zaman yang terus bergulir, budaya Jawa boleh dibilang perlahan luntur dan mengalami kemunduran. Tapi tidak demikian dengan warga Desa Guwoterus, Kecamatan Montong. Salah satu budaya Jawa yang hingga sekarang masih tetap terjaga adalah tradisi “Mudun Lemah”. Apa itu?.  

MUDUN LEMAH: Java Agung Mahardika, putra pertama pasangan Darul dan Cinaroh saat kali pertama menginjak bumi.

MUDUN LEMAH: Java Agung Mahardika, putra pertama pasangan Darul dan Cinaroh saat kali pertama menginjak bumi.

seputartuban.com-Bagi warga Guwoterus, sebuah desa di belahan barat Kabupaten Tuban, sedikit dari kawasan yang masih menyisakan hutan alami ini, kebudayaan Jawa merupakan “paham” yang menjunjung tinggi filosofi keseimbangan, keselarasan serta keserasian.

“Sebab kemurnian dari sebuah budaya dapat terjaga dengan bagaimana cara manusianya itu sendiri dalam menjaga keberlangsungan supaya tetap ada. Salah satunya adalah tradisi “Mudun Lemah” ini,” tegas Abdul Muchit, salah satu mentor budaya Jawa asli pribumi Guwoterus, saat mengahadiri syukuran tradisi yang dalam level bahasa Jawa halus juga disebut “Tedak Siten”,
di rumah pasangan Darul Huda dan Cinaroh Dusun Jaten, Desa Guwoterus, akhir pekan kemarin.

Lelaki bersahaja yang kini merambat usia 60 tahun ini, menjelaskan acara “Mudun Lemah” adalah tradisi turun temurun yang tetap terjaga hingga sekarang. Paling tidak di Desa Guwoterus.

“Mudun Lemah” umumnya dilakukan ketika anak berumur tujuh selapan atau sekitar delapan  bulan. Karena pada saat itu anak sudah mulai belajar menapakkan kakinya ke tanah atau bumi. Ini sekaligus mengajarkan anak agar hati-hati dalam menjalani kehidupan di bumi. Akan banyak rintangan, cobaan, godaan yang kelak akan dihadapi.

“Tradisi ini juga dimaksudkan mengedukasi anak agar tetap membumi dan memasyarakat. Tidak boleh sombong, egois apalagi menang sendiri. Kesetaraan di masyarakat harus dijunjung tinggi. Cita-cita kita harus digantungkan setinggi-tingginya di langit. Namun hatinya harus tetap membumi. Hati kita ada bersama orang-orang banyak. Sehingga keberadaannya dapat diterima lainnya,” papar Mbah Muchit ketika menjadi saksi bersama warga lainnya waktu Java Agung Mahardika, putra pertama pasangan Darul dan Cinaroh “Mudun Lemah”.

Peristiwa budaya ini merupakan momentum saat bayi dapat diturunkan ke tanah atau lantai, yang sebelumnya hanya boleh dipangku atau digendong. Tradisi “Mudun Lemah” ini syarat dengan doa maupun ajaran hidup.

Mula-mula, bayi dibacakan salawat kemudian diinjakkan kakinya diatas jaddah (jajanan olahan beras ketan), kemudian dinaikkan tangga yang terbuat dari tebu hitam dengan jumlah lima anak tangga. Kemudian bayi disuruh memetik buah pisang raja yang disiapkan setandan utuh.

Sementara Darul Huda, ayah Java, mengimbuhkan tradisi turun temurun ini tetap dipertahankan karena tidak bertentangan dengan syariat Islam. “Ini warisan leluhur yang perlu terus dilestarikan. Asal tidak bertentangan dengan agama,” katanya.

Menurut Darul, bayi menginjakkan kaki di atas jaddah maksudnya adalah sebagai awal mula dia menginjak bumi. Jaddah dibuat dengan tekun dan kerja keras agar kental hingga mengeras. Artinya, memberikan pelajaran hidup di bumi harus kerja keras dan tekun agar berhasil.

Sedangkan menaiki lima anak tangga tebu hitam terkandung maksud dalam hidup harus selalu menurut pada ibu atau orang tua (tebu-netepi ibu). Hitam dan manis menandakan harus selalu berbuat hal-hal baik. Disertai melaksanakan lima rukun Islam dan mampu mengontrol lima jenis hawa nafsu.

Sedangkan pisang raja setandan yang di petik bermaksud agar setelah anak menjalani ritual  tersebut mendapat kehormatan, kejayaan, kemudahan dan keberkahan layaknya seorang raja yang bersatu dengan lainya (setandan).

Setelah itu kemudian dilantunkan salawat dan bacaan barzanji seluruh warga yang hadir.  Barzanji adalah suatu rangkai doa, puji-pujian dan kisah  Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada.

Selain dilantunkan ketika kelahiran, barzanji juga biasa dikumandangkan saat khitanan, pernikahan dan tentu saja Maulid Nabi Muhammad SAW.

Isi Barzanji bertutur tentang kehidupan Rasulullah, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

Menariknya, bagi keluarga yang tidak memiliki dana cukup untuk melakukan tradisi ini, sebagian masyarakat tetap mempertahankannya. Yakni dengan cara sederhana. Syukuran  tumpeng dengan mengundang tetangga terdekat. MUHAIMIN

Facebook Comments

About the Author