Published On: Rab, Mar 9th, 2016

SPI Tuban; Petani Semakin Terasing di Negeri Agraris

TUBAN

MERANA : Petani jagung menunjukkan tanamanya yang akan dipanen saat harga jual semakin menurun

MERANA : Petani jagung menunjukkan tanamanya yang akan dipanen saat harga jual semakin menurun

seputartuban.com – Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Tuban menganggap pemerintah tidak serius meningkatkan kesejahteraan petani. Hal itu terbukti semakin merosotnya harga jagung. Sehingga menyebabkan para petani resah, karena baru padahal baru awal panen sudah turun harga, sehingga diperkirakan saat panen raya harga jagung semakin anjlok.

Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Kabupaten Tuban, Nurhadi mengatakan indikator paling mudah pemerintah tidak serius adalah anjloknya harga jagung. Petani tidak mendapat proteksi agar tidak semakin rugi. “Melindungi tidak rugi saja tidak bisa apalagi menyejahterakan,” ungkapnya, Selasa (8/3/2016).

Petani membutuhkan bantuan alat pertanian dan bibit tepat sasaran dan benar-benar dimanfaatkan petani. Harga hasil pertanian stabli, Namun hampir dapat dipastikan ketika panen raya harga jagung merosot tajam. Sehingga biaya bertani dan hasil panen berbanding jauh membuat semakin merugi.

“Bila petani tidak punya jagung harganya setinggi langit, tetapi bila waktunya panen harganya setinggi tanah,” kecamnya.

Sesuai program pemerintah, swasembada pangan, juga harus dibarengi dengan peningkatan pendapatan petani. Kalau hal itu tidak dilakukan, menurut Nurhadi program itu tidak akan berjalan. Karena petani merupakan ujung tombak dari program akan enggan karena tiap kali panen selalu rugi.

Peran pemerintah daerah untuk membuat kebijakan lokal yang menguntungkan para petani di Tuban saat ini masih dibutuhkan. Karena belum ada kebijakan nyata yang dirasakan petani agar mereka tidak selalu rugi tiap panen. “Kita tidak hanya butuh alat pertanian saja, tetapi juga harga hasil pertanian kita ditingkatkan sehingga kami tidak selalu merugi,” ungkapnya.

Serupa disampaikan oleh Rohmad (46), petani asal Kecamatan Kerek, ia mengeluh  semakin merosotnya harga jagung. “Hasilnya bisa untuk bayar hutang saja kita sangat bersyukur dan ini selalu terjadi tiap kali musim panen. Kapan kita bisa sejahtera kalau begini terus,” keluhnya.

Diketahui, harga jagung 3 minggu yang lalu bisa mencapai harga Rp 5.600 per-Kg  untuk pipilan kering. Namun saat ini masih belum waktunya musim panen raya harga jagung sudah menurun hingga harga Rp. 3.000 sampai Rp 3.200 per-Kg untuk pipilan kering.

Sementara itu, pada musim panen raya tahun lalu harga jagung mencapai harga Rp 2.100 per-Kg untuk pipilan kering. Kalau petani menjual jagung basah langsung dari lahan maka harganya jauh lebih rendah. Sebagian besar petani menjual hasil panenya langsung dari lahan, karena selain membutuhkan uang segera juga tidak mampu mengeringkan jagung. Selain fasilitas tidak ada juga faktor cuaca musim hujan sangat tidak memungkinkan.

Selain faktor harga yang turun, petani juga meradang akibat cuaca tidak menentu. Banyak diantaranya musim panen ini hanya mendapatkan setengahnya dari hasil panen musim lalu. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author