Published On: Jum, Agu 28th, 2015

Setelah Dipukuli Siswa MTS Ini Kemudian Disetrap

SOKO

illustrasi: tim grafis seputartuban.com

illustrasi: tim grafis seputartuban.com

seputartuban.com-Rabu (26/08/2015) pagi pukul 09.30 wib menjadi hari paling mengerikan dalam hidup AP.

Siswa kelas VIII MTs Salafiyah Prambon Tergayang, Soko, ini benar-benar apes. Gara-gara dituduh mencuri meski tak terbukti, dia harus disetrap alias dihukum berdiri di depan kelas hingga satu jam setengah.

Padahal, sebelumnya siswa 14 tahun ini sudah menerima hukuman dari guru fiqihnya Ja’a Zulkifli dengan cara dipukuli telapak tangannya menggunakan penggaris kayu, hingga tulang jari kelingkingnya retak.

Perlakuan biadab yang diterima AP ini kian menegaskan kelas yang seharusnya sebagai tempat aman berubah menakutkan. Realita ini sekaligus jungkir balik dengan fungsi kelas sebagai pendidikan karakter.

“Dari pengakuan korban kepada kami, dia hanya melihat isi tas temannya itu. Tidak mengambil barang apapun Tetapi masalahnya kenapa guru harus menggunakan hukuman dengan kekerasan yang seharusnya tidak patut untuk dilakukan ” ujar Ketua Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban, Imanul, yang memberikan pendampinan pada korban, Jumat (28/08/2015) siang.

Menurut dia, peristiwa itu bermula atas laporan orang tua salah satu siswi yang menuduh AP telah membuka tas dan mengambil barang-barang miliknya, Rabu (26/08/2015) pagi.

Berdasar kronologi yang diterima KPR dari ortu korban, usai jam istirahat AP yang akan masuk kelas langsung diseret menuju ruang guru oleh Ja’a.

Ja’a kemudian memukuli telapak tangan dan paha kiri AP. Tujuannya agar AP mengakui perbuatannya. Tapi karena merasa tak mencuri Ap pun bersikukuh tidak mau mengaku.

Rasa sakit akibat pukulan gurunya tersbut AP berusaha menangkis pukulan Ja’a yang ke empat menggunakan tangan kirinya. Akibat pukulan benda tumpul itu jari kelingking langsung bengkak.

“Setelah itu bahkan AP masih dihukum dengan disuruh berdiri di depan kelas selama satu jam setengah,” tutur Imanul.

Kepala Sekolah Tidak Merespon

KORBAN PEMUKULAN: Sejumlah KPR Tuban saat berkunjung ke rumah korban kekerasan guru di Desa Prambon Tergayang, Kecamatan Soko.

KORBAN PEMUKULAN: Sejumlah aktivis KPR Tuban saat berkunjung ke rumah korban kekerasan guru di Desa Prambon Tergayang, Kecamatan Soko.

Setelah pulang sekolah AP kemudian minta pijat pak denya. Khawatir terjadi sesuatu AP kemudian di bawa ke Puskesmas Soko. Tak mau ambil risiko dokter puskesmas kemudian merujuk AP ke RSUD dr Sosodoro Djatikusumo Bojonegoro.

“Hasil foto ronsen ternyata tulang jari kelingkling AP mengalami retak akibat pukulan benda tumpul,” tandas Imanul.

 

Pihak keluarga kemudian melaporkan kejadian itu pada kepala MTs di mana AP menempuh pendidikan. Karena tidak ada respon keluarga kemudian memutuskan untuk melaporkan kasus itu ke Polsek Soko.

Namun Wakapolsek Soko, Aiptu Geng Wahono mengatakan jika perkara tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

“Persoalan pemukulan tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan dengan pihak desa sebagai mediasi. Sekarang sudah selesai, Mas. Jadi tidak sampai ke ranah hukum,” ujar Geng saat dihubungi melalui ponselnya.

Guru Ja’i hanya dikenakan wajib lapor oleh aparat Polsek Soko yang menangani persoalan itu. Hingga sejauh ini AP sendiri belum bisa masuk sekolah.

“Ternyata murid yang menjdai korban kekerasan guru tidak hanya AP. Kasus serupa juga dialami IN dan TH yang merupakan teman sekelas AP,” kata Imanul.  ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author