Published On: Sel, Mei 6th, 2014

Sempuk: Sudah Lama Saya Niati Membunuh Paman

TUBAN

BERDARAH DINGIN: Sempuk Adi Saputra saat menjalani reka ulang di halaman belakang Mapolres TUban, Selasa (06/05/2013).

BERDARAH DINGIN: Sempuk Adi Saputra saat menjalani reka ulang di halaman belakang Mapolres TUban, Selasa (06/05/2013).

seputartuban.com-Masih ingat Sempuk Adi Saputra? Lelaki 43 tahun warga RT 11 RW 03 Dusun Kandang, Desa Margosuko, Kecamatan Bancar, yang membunuh pamannya sendiri dengan sadis 22 April lalu. Dendam kesumat yang melatari rajapati itu seolah membuat Sempuk puas. Juga tak terbersit sedikit pun rasa iba di sudut hati Sempuk setelah membunuh pamannya sendiri yang bernama Tarmu itu.

Hal itu terlihat nyata saat Sempuk menjalani keler ulang yang digelar di lapangan belakang Mapolres Tuban, Selasa (06/05/2014) pagi. Wajahnya terlihat segar dan ceria saat lelaki beranak dua ini menjalani sembilan adegan yang merupakan koronologi trgedi berdarah berujung maut antara keponakan dan paman di galengan tegalan dusun kelahirannya

“Saya tidak menyesal sama sekali. Karena sudah saya niati lama membunuh paman,” tandas Sempuk sebelum menjalani keler ulang.

Mengenakan pakaian tahanan polisi dengan trengginas Sampuk menenteng sebuah replika sabit. Sempuk melakoni sembilan  adegan rekontruksi yang dilakukannya saat membantai pamannya sendiri. Dari kesembilan adegan keler ulang itu bisa disimpulkan bahwa Sampuk benar-benar pembunuh berdarah dingin.

Reka ulang diawali saat pelaku mengambil makanan ternak di kawasan desa setempat. Selanjutnya, Sempuk yang saat itu menggunakan topi petani melihat korban dari kejauhan. Setelah jarak keduanya sekitar 5 meter Sempuk mendekati pamannya yang saat itu mengayuh sepeda angin usai mencari rumput. Tanpa berkata-kata Sempuk langsung membacok Tarmu.

Pada adegan kedua, korban yang terluka dan berdarah-darah masih sempat berlari. Namun oleh keponakannya terus dikejar dan kembali dibacok untuk yang kedua kalinya. Adegan ketiga, korban sempat melawan namun sia-sia. Korban justru terjatuh dan terpeleset ke parit tegalan.

Adegan berikutnya, melihat kondisi itu pelaku makin bringas dan kembali mengayunkan sabitnya tepat mengenai leher korban yang saat itu dalam posisi duduk. Usai melampiaskan dendamnya, pelaku meninggalkan begitu saja korban yang bersimbah darah.

Tak jauh dari tempat itu,  pelaku bertemu saksi berinisial SK. Dia empat berbincang-bincang. Adegan selanjutnya, pelaku menyerahkan diri ke rumah kades dan diserahkan ke Mapolsek Bancar.

Kasubag Humas Polres Tuban, AKP Elis Suendayati, menjelaskan rekontruksi dilakukan sebagai pelengkap berkas persyaratan persidangan. Kejelasan dan praktek yang sebenarnya di lokasi menjadi acuan. ” Rekontrusi sengaja tidak dilakukan di lokasi kejadian  demi keamanan saja,” kata Elis.

Dijelaskan, peristiwa nahas itu terjadi akibat dendam  pelaku kepada korban. Setahun sebelumnya, korban pernah memukul tangan Sempuk hingga patah dan cacat permanen. Hal itu dikarenakan sapi korban memasuki depan rumahnya.

Ternyata memori itu belum hilang sepenuhnya pada pikiran Sempuk. Mesti sempat didamaikan oleh keluarga tapi akhirnya Sempuk muntab juga. Ibarat kata, darah yang tumpah harus ditebus dengan darah pula. HANAFI

Facebook Comments

About the Author