Published On: Sel, Okt 25th, 2016

Selalu Berpuasa, Menunggu Keajaiban Anaknya Sembuh Dari Hidrosefalus

SOKO

seputartuban.com – Muhammad Syahril Putra (3), terduduk terdiam dipangkuan ibunya, Suparti (40) di ruang tamu rumah saat ditemui seputartuban.com, Senin (24/10/2016). Dengan berlinang air mata dia menceritakan penyakit yang diderita anak semata wayangnya sejak lahir.

TABAH : Syahril rebahan dipangkuan ibunya, dia menderita Hidrosefalus sejak lahir hingga kini belum sembuh

TABAH : Syahril rebahan dipangkuan ibunya, dia menderita Hidrosefalus sejak lahir hingga kini belum sembuh

Warga Dusun Krapyak,RT 6 RW 3, Desa Simo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban itu tak berhenti matanya selalu sembab saat menceritakan penyakit anaknya. Serta pergulatan batin yang dialaminya, saat Syahril merasakan sakit yang teramat akibat penyakitnya.

“Waktu itu lahirnya normal, hanya saja ada benjolan besar biji jagung diantara mata dan hidung. Setelah seminggu kemudian anak saya sering nangis tanpa sebab yang jelas. Lalu saya periksakan kerumah sakit sampai harus menggadaikan motor untuk biaya, karena tabungan sudah habis untuk biaya persalinan,” tuturnya lirih.

Hidrosefalus, atau penyakit yang menyerang organ otak dengan ciri bagian kepala yang membesar itu mulai terlihat setelah 30 hari kelahiran Syahril. Setelah diobati, bukanya sembuh namun benjolan semakin membesar diserta panas tinggi dan kejang-kejang.

Karena keterbatasan perekonomian, karena Suparman (sang ayah) hanya bekerja sebagai buruh tani tidak dapat berbuat banyak karena mahalnya biaya pengobatan. Sehingga dia dan suaminya memilih merawat anaknya dirumah. Ia dirawat di rumah sambil sesekali dibawa ke Puskesmas terdekat jika kejang-kejangnya. Serta terus berdoa, agar kajaiban atau pertolongan tuhan datang untuk kesembuhan anaknya.

Suparti menambahkan, dari cobaan yang kini dialaminya itu tidak menjadikan dirinya berputus asa. Sambil mengusap air matanya yang menetes, ia menceritakan sering berpuasa demi kesembuhan anaknya. Dengan harapan tabungan dari menyisihkan uang untuk kebutuhan pokok dapat dipakai biaya berobat dan kesembuhan anaknya.

“Saya sering berpuasa untuk kesembuhan anak saya. Saya kasihan kalau panas dan kejang kejangnya kumat. Dia hanya mengeram, tanganya menggenggam kaku, dengan matanya yang melotot-lotot namun tidak menangis,” imbuhnya.

Untuk membantu perekonomian keluarga, selama dia sambil menjadi buruh cuci pakaian tetangganya. Selain dapat membantu suami juga dapat disisihkan untuk tabungan berobat anaknya.

Sedangkan didesa setempat, Penyakit dengan ciri-ciri kepala membesar juga dialami Aqila Febri Anggraeni (1,5) dia merupakan anak dari pasangan Cipto (22) dan Siska (21).Tinggal di Dusun Krajan, RT 1 RW 3 desa setempat. Ia divonis hidrosefalus sejak 3 bulan setelah dilahirkan. ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author