Published On: Sel, Mar 14th, 2017

Sejumlah Keluarga Keselamatnya Terancam Sungai Bengawan Solo

seputartuban.com, PLUMPANG – Sejumlah keluarga di Dusun Kemlaten, RT 03 RW 02, Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban dihantui rasa cemas. Karena rumahnya terancam longsor, karena tibing sungai bengawan solo makin meluas dekat rumah mereka.

WARGA RESAH : Kondisi rumah warga yang terancam amblas karena bibir sungai bengawan solo makin meluas. Hingga saat ini belum ada penanganan dari pihak manapun

Bibir sungai makin melebar karena tebing terkikir air sungai bungawan solo saat banjir. Semakin sering banjir, maka tebing tersebut makin melebar. Kondisi itu hingga saat ini belum mendapat penanganan dari pihak terkait. Sehingga rasa cemas 8 keluarga tersebut semakin menjadi.

Kondisi saat ini jarak antara rumah dengan bibir sungai tinggal 2 meter. Bahkan jalan raya desa setempat juga sudah terkikis longsor. Sehingga sangat bahaya untuk dilalui kendaraan. Karena bisa saja sewaktu-waktu mengalami longsor.

Warga berharap agar pemerintah segera turun tangan menangani kondisi itu. “Longsor setiap debit bengawan solo meningkat. Paling parah Agustus 2016 lalu. Pihak desa sudah menanggulangi dengan melakukan pengurukan. Namun longsor lagi saat banjir diakhir tahun kemarin,” terang Zuliatin (35) warga setempat. Senin, (13/3/2016) siang.

Warga berharap kepada pemerintah agar turun tangan membuan tembok penahan tanah, talud atau bronjong. Bangunan tersebut berfungsi menahan lapisan tanah agar longsor tidak semakin parah. Mengingat wilayah desa setempat merupakan desa yang dilingkari aliran sungai Bengawan Solo.

Sedangkan upaya sementara yang saat ini sudah dilakukan masyarakat, sejak seminggu lalu warga sudah melakukan penanaman pohon jenis waru dibekas longsoran. Fungsinya, selain mampu sebagai peneduh jika pohon sudah besar, diharapkan akar dari pohon bernama latin talipariti tiliaceum atau hibiscus tiliaceus tersebut mampu mencengkeram tanah sehingga longsor tidak kembali terjadi dikemudian hari.

Kepala Desa Kebomlati, Muntholip melalui Kepala Dusun Kemlaten, Suyono (43) mengatakan bahwa pihak desa saat ini tidak dapat berbuat banyak. Karena tanah kas desa (TKD), seluruhnya sudah habis digunakan untuk merelokasi warga setempat pada beberapa tahun sebelumnya.

Sebenarnya sudah diajukan pembangunan dalam musyawarah pembangunan (Musrenbang) di Pendopo Kecamatan Plumpang awal tahun 2017 lalu. Pemerintah Desa mengusulkan agar dilakukan pembangunan tanggul atau tembok pembatas. “Dulu kami pernah menyampaikan ke bupati saat melakukan peninjauan kesini. Tapi sampai sekarang-pun belum ada bentuk penangananya sama sekali,” imbuhnya.

Diketahui, sejak tahun 2008 hingga awal tahun 2016 lalu, pihak Pemdes setempat sudah merelokasi 78 Kepala Keluarga (KK) untuk menempati tanah kas desa. Hal itu dilakukan sebagai solusi bagi warga yang tanah rumahnya mengalami longsor.

Sedangkan saat ini, pihak Pemdes belum dapat merelokasi 8 rumah warga yang terancam longsor. Karena seluruh TKD sudah habis digunakan untuk menyelamatkan warga sebelumnya.

Selain mengakibatkan, 8 rumah warga terancam tidak dapat ditempati lagi. Longsor tersebut mengakibatkan badan jalan lingkungan yang menghubungkan Dusun Kemlaten dengan Dusun Ngablak nyaris putus dan hanya dapat diilalui oleh kendaraan roda 2.

Saat dikonfirmasi terkait hal ini, Camat Plumpang, Sholahuddin melalui ponselnya tidak mendapat jawaban. Baik saat dihubungi maupaun dikirimi pesan singkat hingga melalui aplikasi perpesanan juga tidak ada jawaban. ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author