Published On: Kam, Okt 13th, 2016

Saksi Hidup Tragedi Santri Langitan Tenggelam Angkat Bicara

WIDANG

seputartuban.com – Pada hari Jumat (7/10/2016) menjadi menjadi tragedi yang yang sulit untuk dilupakan bagi Syamsul Dhuha (23), warga Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Karena dia salah satu satri yang selamat dari peristiwa yang memilukan itu.

JAMAAH : Ribuan santri langitan saat melakukan sholat jenazah di Masjid Baiturrahim Widang terhadap 6 jenazah santri yang ditemukan hari Sabtu (8/9/2016)

JAMAAH : Ribuan santri langitan saat melakukan sholat jenazah di Masjid Baiturrahim Widang terhadap 6 jenazah santri yang ditemukan hari Sabtu (8/9/2016)

Saat ditemui di rumahnya, mengatakan dia dan teman-temanya memilih naik perahu itu dibanding melalui jalan raya karena jaraknya lebih dekat. Hal itu juga sudah menjadi rutinitas saat akan ke Pasar Babat untuk membeli keperluan santri. “Tiap kali belanja di pasar Babat selalu naik perahu karena lebih dekat,” ujarnya, Senin (10/10/2016).

Selain lebih dekat, biayanya juga murah untuk tarif penyebrangan pulang-pergi sebesar Rp 4.000. Sedangkan kalau jalan kaki melalui jalan raya harus menempuh waktu hingga setengah jam lebih, Sehingga para santri memilih naik perahu penyeberangan tradisional.

Sudah menjadi kebiasaan, sekali jalan perahu dinaiki lebih dari 25 santri, termasuk barang belanjaan. Serta tanpa dilengkapi standar pengamanan yakni jaket pelampung.

Karena sudah menjadi kebiasaan, kondisi itu tidak dianggap bahaya. “Kita tidak takut karena selain lebih cepat juga biayanya murah,” sambungnya.

Kebiasaan itu nampaknya berbeda pada Jumat itu, perahu yang ditumpangi 25 santri saat akan tiba ditepi sekitar 4-5 meter tiba-tiba perahu terguling. Semua penumpang tercebur kesungai, dan kepanikan luar biasa terjadi.

“Saat perahu terbalik saya panik dan tidak memikirkan apa-apa, saya berusaha sekuat tenaga untuk berenang ketepi,” sambungnya.

Kondisi saat itu masing-masing santri berjuang menyelamatkan diri. Ada yang berenang, ada juga usai tercebur dan berupaya mempertahankan diri agar tidak tenggelam lalu memegang perahu yang terbalik. Ada juga yang ditolong orang yang naik perahu dan melintas disekitar lokasi kejadian.

Paling tidak dilupakan adalah peristiwa detik-detik terakhir, rekan satri sekamarnya, yakni M. Arif Mabruri, santri asal Kec. Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro.

Anak sulung dari 4 saudara itu saat berenang, kakinya dipegang Arif. Karena arus sungai bengawan solo sangat deras, pegangan itu nyaris lepas. Kemudian tangan arif berupaya diraih agar tidak terlepas, namun nampaknya usaha itu gagal. Arif lenyap ditelan air dan tenggelam tidak muncul lagi. Hingga akhirnya dia ditemukan sudah meninggal dunia pada hari kedua pencarian. Atau ditemukan terakhir dari 7 korban tenggelam.

Sesampainya di tepi sungai, ia dan teman-temanya berteriak mencari santri lainya. Serta berteriak minta tolong kepada warga sekitar. Mendegar teriakan itu, warga mendatangi ke bibir sungai bengawan solo dan menolong korban selamat dibawa ke Puskesmas. “Saya sudah tidak memikirkan teman-teman, yang saya pikirkan bisa selamat dan sampai ketepi,” tandasnya.

Pemuda sudah nyantri di Langitan selama 3 tahun itu hampir saja putus asa dan kehabisan nafas untuk mencapai tepi. Ia beranggapan semua temannya selamat dari tragedi maut itu, namun ketika dihitung ada 7 anak yang hilang.

“Ketika saya hitung ternyata ada 7 teman saya yang hilang, kita semua menangis dan berteriak minta tolong,” jelasnya sambil meneteskan air mata. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author