Published On: Sab, Jun 2nd, 2018

Saat Ramadan Musim “Paceklik” Pedagang dan Abang Becak Sunan Bonang

seputartuban.com, TUBAN – Hampir dapat dipastikan tiap Ramadan tiba, peziarah makam waliyullah Sunan Bonang menurun drastis dibanding biasanya. Sepinya wisatawan religi itu menyebabkan penurunan pendapatan ekonomi para tukang becak maupun para pedagang.

MENURUN DRASTIS : Kondisi lengang di kawasan yang biasa dipakai abang becak mangkal maupun lapak pedagang kawasan Wisata Religi Sunan Bonang

Menurut salah satu pengurus Makam Sunan Bonang, H. Tarom mengatakan menurunnya peziarah dikarenakan, para masyarakat saat ramadan lebih banyak beraktifitas di rumah untuk menjalankan ibadah selama puasa. Peziarah yang masih datang sebagian besar dari lokal atau tidak jauh dari Tuban.

“Karena bulan puasa itu kebanyakan mereka peziarah melakukan ibadah di rumah masing-masing, sehinga tidak melaksanakan ziarah. Tetapi untuk yang terdekat-dekat masih ada, dan mereka para peziarah pada bulan puasa melakukan ziarah biasanya berziarah saat sehabis sholat trawih,” kata Bendahara II itu.

Menurunnya jumlah peziarah itu berdampak terhadap pendapatan pedagang menurun. Seperti diungkapkan seorang pedagang di sekitar Makam Sunan Bonang, Rohmanin, seorang pedangang asal Desa Panyuran Kecamatan Palang yang sudah berjualan 22 tahun itu.

MAKAM LENGANG : Selama Ramadan, kondisi sekitar makam Waliyullah Sunan Bonang lengang. Berbeda malam hari usai sholat tarawih ada peziarah lokal

Pendapatannya menurun hingga 90 persen dibanding hari biasa. “Penurunan pendapatan untuk bulan puasa sekarang sekitar 90%. Yang semula pendapatan yang biasanya mencapai Rp. 600 ribu dalam sehari sekarang menurun menjadi Rp. 100 ribu atau bahkan Rp. 50 ribu dalam sehari,”, ungkapnya, Jumat (1/6/2018).

Senada disampaikan seorang abang becak yang biasa mengangkut peziarah Sunan Bonang, Didik (33) asal Desa Klumpet, Kecamatan Soko. Pendapatannya juga menurun tajam dibanding bulan diluar Ramadan.

“Dikarenakan kegiatan di rumah banyak saat puasa jadi yang datang dari dalam kota saja. Jadi semula mendapatkan hasil rata-rata tujuh puluh ribu rupiah perhari sekarang hanya mencapai Rp. 10 ribu, itupun kalo ada,” katanya. (RUSWANTO)

Facebook Comments

Print Friendly, PDF & Email

About the Author