Published On: Sen, Agu 10th, 2015

Rasmani Diwaduli Polindes, Sungai Kumuh Hingga Poktan Fiktif

TUBAN

GALAU WARGA: Ketua Fraksi Nasdem Nurani Rakyat DPRD Tuban Rasmani saat menggelar reses di Desa Sugiharjo, Senin (10/8/2015) sore.

GALAU WARGA: Ketua Fraksi Nasdem Nurani Rakyat DPRD Tuban Rasmani saat menggelar reses di Desa Sugiharjo, Senin (10/8/2015) sore.

seputartuban.com-Blusukan anggota DPRD Tuban saat menggelar acara di luar gedung dewan atau reses
menangkap sejumlah fenomena buram dan ketimpangan sosial di tengah masyarakat.

Paling mencolok belum meratanya fasilitas kesehatan sangat dirasakan warga Dusun Karangrejo dan Taraan Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak.

Di wilayah ini masyarakat mengeluh tidak adanya polindes. Akibatnya, warga harus menempuh jarak hingga dua kilometer untuk berobat. Apalagi saat ada ibu-ibu hamil yang mau melahirkan.

“Mereka mengeluh belum adanya polindes. Apalagi jarak dengan rumah bidan cukup jauh,” kata Ketua Fraksi Nasdem Nurani Rakyat DPRD Tuban Rasmani usai menggelar reses, Senin (10/8/2015) sore.

Sementara di Desa Sumurgung dan Sugiharjo Kecamatan Tuban, warga mengeluhkan keberadaan sungai setempat yang dijadikan ajang pembuangan limbah kerajinan batik.

Kondisi sungai tersebut kian karut marut karena sampah industri lain juga menumpuk sehingga membuat aliran airnya dangkal.

Lebih parahnya, salah satu sampah organik yang dibuang adalah pembalut wanita. Saking banyaknya sehingga sungai itu berubah menjadi sungai pembalut.

Sedangkan yang membuang sampah itu tidak hanya warga setempat tetapi banyak warga luar desa yang juga membuang sampah di sungai ini.

“Masalah pembuangan sampah di sungai ini harus segera ada penanganan dari pemkab, sebab sangat mengganggu kebersihan lingkungan,” tutur anggota Komisi B DPRD Tuban ini.

Berdasar kabar yang diterima dia, sebelumnya pernah ada bantuan berupa pengelolaan limbah kerajinan batik dari Pemkab Tuban.

Namun para perajin masih banyak yang membuang limbahnya ke sungai. Limbah itu selain berbau, juga mengandung zat kimia berbahaya yang dapat merusak tanaman pertanian.

Sementara saat melakukan reses di Desa Sugiharjo, Rasmani mencium adanya aroma ketidak beresan bantuan program pertanian untuk kelompok tani.

Dia menduga ada kelompok tani fiktif. Dugaan itu mencuat karena bantuan untuk petani ternyata hanya dinikmati orang-orang tertentu.

“Kita akan meminta kepada pemerintah daerah dan dinas terkait untuk membenahi kelompok tani, agar bantuan sampai pada petani,” tandas Rasmani.

Menurut dia, dengan banyaknya kelompok tani fiktif menyebabkan para petani yang ada tidak tersentuh. Tak sedikit kelompok tani yang ada di Tuban itu di ketuai oleh perangkat desa.  “Padahal sesuai aturan hal itu tidak diperbolehkan,” katanya.  MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author