Published On: Jum, Jun 20th, 2014

Ramadhan Bupati Tuban Titip Sedekah

TUBAN

FATHUL HUDA: Harta yang diperoleh harus melalui jalan dan cara yang halal. Apabila tidak seperti itu, maka pada hakikatnya bakal hanya menyengsarakan kita.

FATHUL HUDA: Harta yang diperoleh harus melalui jalan dan cara yang halal. Apabila tidak seperti itu, maka pada hakikatnya bakal hanya menyengsarakan kita.

seputartuban.com-Adalah sebuah keniscayaan, bahawa setiap hembusan nafas dan geliat kehidupan di dunia ini mengandung nilai konsekuensi dan pertanggungjawaban. Di antara empat hal besar yang harus dipertanggungjawabkan adalah harta benda selain umur, ilmu dan kesehatan.

Dalam konteks harta benda ada dua pertanyaan kelak. Pertama, dari mana harta itu dihasilkan? Kedua, untuk apa harta itu dibelanjakan? Sebab, harta benda yang dimiliki setiap insan semata cuma titipan Allah.

Penggalan seputar eksistensi harta benda itu disampaikan Bupati Tuban, Fathul Huda, saat membuka pondok ramadhan di lingkungan sekolah yang digelar di Pendopo Krido Manunggal, Jumat (20/06/2014) siang.

“Karenanya harus cermat dalam memperoleh dan membelanjakannya. Harta yang diperoleh harus melalui jalan dan cara yang halal. Apabila tidak seperti itu, maka pada hakikatnya bakal hanya menyengsarakan kita,” papar bupati kelahiran Desa Pakel, Kecamatan Montong ini.

SERIUS: Sejumlah siswa perwakilan sekolah di Tuban tengah mengikuti pembukaan pondok ramadhan di Pendopo Krido Manunggal, Jumat (20/06/2014) siang.

SERIUS: Sejumlah siswa perwakilan sekolah di Tuban tengah mengikuti pembukaan pondok ramadhan di Pendopo Krido Manunggal, Jumat (20/06/2014) siang.

Berkaitan itu, Fathul Huda bupati menekankan pentingnya ikhal bersedekah sejak dini. Dia menegaskan, bahwa harta yang dimiliki akan ditanyakan pada hari hisab kelak.

“Pada hakekatnya harta hanyalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Tentang bagaimana diperolehnya, penggunannya, dan untuk apa. Sehingga sejak dini, hal itu harus diberitahukan kepada para pelajar yang nantinya akan menyelenggarakan pondok ramadhan ini,” sambung Fathul Huda.

Jika sejenak menoleh ke belakang, apa yang disampaikan Fathul Huda itu sangat relevan dengan sebuah hadits populer yang bunyinya “Sungguh tidak berkurang dengan sedekah” (HR Muslim dan Turmidzi).

Sepintas, hadist tersebut terasa paradoks. Dalam logika materi, sesuatu yang diambil pasti berkurang nilainya. Demikian juga dengan harta. Ketika disedekahkan, pasti juga berkurang. Lalu apakah sabda Rasulullah SAW diatas bertentangan dengan logika, padahal beliau berbicara tentang materi? Apakah beliau berbicara tentang sesuatu yang absurd? Jelas tidak.

Jangan-jangan logika yang dangkal membuat pandangan kita menjadi dangkal pula. Bukankah selama ini kita sering tertipu oleh logika dangkal dalam memandang banyak persoalan, meski biasanya kesadaran akan muncul di saat semua sudah terjadi.

Sementara pada bagian lain Bupati Fathul Huda menekankan akan bahayanya pergaulan antar remaja. Apabila salah akan berimbas buruk. Untuk membentengi rusaknya moral, imbuh dia, salah satunya adalah dengan  mengikuti pondok ramdhan.

Meski terbilang instan, Huda berharap siswa bisa memetik hasilnya. Rusaknya zaman sangat mempengaruhi generasi penerus bangsa. Dalam hal ini, Pemkab Tuban akan mewajibkan setiap instansi sekolah untuk melaksanakan pondok ramdhan. “Tidak serta merta hanya ilmu sekolah. Melainkan pemahaman tentang agama itu juga penting,“ tandas dia. HANAFI

Facebook Comments

About the Author