Published On: Rab, Mei 6th, 2015

PT SI Akan Gelar Rembug Warga Soal Kasus Tanah Gaji

TUBAN

MENUNTUT HAK: Sejumlah warga dari Desa Gaji Kecamatan Kerek saat menggelar aksi halaman PT Semen Indonesia, Rabu (06/05/2015) pagi.

MENUNTUT HAK: Sejumlah warga dari Desa Gaji Kecamatan Kerek saat menggelar aksi halaman PT Semen Indonesia, Rabu (06/05/2015) pagi.

seputartuban.com – Konflik antara warga pemilik lahan di Desa Gaji Kecamatan Kerek dengan PT Semen Indonesia (PT SI) yang telah berlangsung hampir 12 tahun, berpeluang masuk meja perundingan dengan melibatkan kedua pihak yang berseteru dengan cara duduk bersama.

Namun sebelum membuka meja perundingan dengan agenda rembuk warga tersebut, PT SI menyatakan akan melakukan pendekatan mendalam dengan pemilik lahan serta tokoh masyar0akat kawasan ring.

“Kita intensifkan komunikasi dengan warga, Kita ingin masalah ini segera selesai,” tegas Kabiro Humas dan CSR PT SI, Wahyu Darmawan, saat membuka dialog dengan warga pemilik lahan dari Desa Gaji yang kembali mendatangi pabrik semen plat merah ini, Rabu (06/07/2015) pagi.

Dia mengatakan, pihak perusahaan akan melakukan komunikasi secara intensif dengan warga untuk menyelesaikan kasus tanah tersebut. Apalagi umur sengketa yang melibatkan warga pemilik lahan yang kini sudah masuk peta terdampak PT SI sudah memasuki tahun ke-12.

“Kasus yang sudah lama berlangsung itu harus segera ada penyelesaiannya. Sebab perusahaan tidak ingin keberadaannya malah merugikan masyarakat,” tutur Wahyu.

Menurutnya, dalam meja perundingan kelak selain akan menghadirkan perwakilan warga pemilik lahan turut hadir pula pemerintah desa, pihak perusahaan, kepolisian, BPN dan Pemkab Tuban.

Diharapkan dalam pertemuan tersebut, kebenaran data yang dikantongi PT SI bisa menjelaskan dengan gamblang kepada warga pemilik lahan dan masyarakat kawasan ring. Rencananya  mediasi itu akan dilaksanakan di kantor PT SI Tuban, Selasa (13/05/2015) mendatang.

Menanggapi rencana itu perwakilkan warga pemilik lahan, Abu Nasir, berharap dari meja perundingan milik PT SI tersebut menghasilkan kesepakatan yang obyektif serta tidak berpihak kepada yang kuat. Dalam konteks ini Nasir menyebut pihak yang kuat adalah PT SI dan antek-anteknya.

“Kita ingin melihat kebenaran data yang dimiliki PT SI. Sebab dari pertemuan awal ada ketidaksamaan antara pemilik yang ada di nota penjualan dengan kondisi di lapangan,” jelas Abu Nasir usai berdialog dengan manajemen PT SI disamping puluhan warga pemilik lahan lainnya.

Pada sisi lain warga merespon positif upaya PT SI yang tampaknya akan memilih pendekatan humaniora dalam menuntaskan konflik yang menyedot waktu dan materi para pemilik lahan.

“Kami akan menunggu bagaimana hasil dari mediasi nanti. Yang jelas kami juga sangat senang karena perusahaan sudah siap terbuka dalam penyelesaian kasus ini,” kata Nasir.¬† MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author