Published On: Sel, Sep 2nd, 2014

Proyek Pelebaran Jalan Rengel Berubah Jadi “Black Spot”

RENGEL

BLACK SPOT: Sejumlah kendaraan tengah melintas di atas proyek gorong-gorong di jalan raya KM 30 Dusun Logawe,  Selasa (02/09/2014) siang.

BLACK SPOT: Sejumlah kendaraan tengah melintas di atas proyek gorong-gorong di jalan raya KM 30 Dusun Logawe, Selasa (02/09/2014) siang.

seputartuban.com-Lambannya proses pengerjaan renovasi gorong-gorong yang menjadi bagian proyek pelebaran jalan jurusan Rengel-Bojonegoro di KM 30 di jalan raya Dusun Logawe berpotensi rawan kecelakaan.

Hal ini terjadi akibat proyek gorong-gorong yang belum rampung 100 persen ditinggalkan begitu saja oleh rekanan yang mengerjakan proyek tersebut.

Akibatnya, kondisi jalan yang ambles karena belum diaspal serta amburadulnya permukaan atas gorong-gorong, memaksa pengguna jalan baik yang mengunakan motor dan kendaraan roda empat lainnya harus ekstra hat-hati.

Kondisi ini makin berbahaya karena selain tidak ada rambu peringatan, juga tak tampak  petugas proyek yang mengatur pengguna jalan dengan sistem buka tutup. Anehnya, kondisi ini dibiarkan begitu saja oleh pihak terkait di Kecamatan Rengel maupun Pemkab Tuban.

“Situasi tambah berbahaya saat malam hari. Tidak ada lampu peringatan maupun penjaga,” kata Iman disamping warga setempat lainnya, Selasa (02/09/2014) siang.

Petani 54 tahun ini, menjelaskan banyak pengendara roda empat dan dua hampir mengalami celaka saat alan memasuki kawasan gorong-gorong “mangkrak” itu.

Rata-rata, sambung Wadi warga lainnya, mereka yang melintas  tak sadar permukaan jalan di depannya lebih rendah alias ambles

“Ya karena memang tidak tahu kalau di depan ada pembangunan gorong-gorong yang belum kelar,” terang wadi yang diamini Uwi, Jono, Abi serta warga lainnya.

Berkaitan itu, warga berharap para pemangku kepentingan secepatnya melakukan upaya pencegahan sebelum jatuh korban. Apalagi, jalan raya Dusun Logawe merupakan padat lalu lintas dan menjadi lintasan utama kendaraan berat yang mengangkut perbekalan Petrochina di Kecamatan Soko serta obyek vital lainnya.

Debu Beterbangan Rumah-rumah “Kemproh”

Sementara sejumlah warga Dusun Logawe lainnya di RT 03 RW 05 dan RT 01 RW 06, mengeluhkan mangraknya proyek gorong-gorong yang berimbas debu beterbangan ke seantero dusun. Hujan debu tersebut berasal dari permukaan tanah proyek gorong-gorong yang belum diaspal. Dampak hujan debu dari proyek yang sudah dikerjakan bulan puasa lalu, membuat rumah dan pepohonan nyaris tertutup debu.

Upaya warga membersihkan rumah mereka yang kumuh dan seperti rumah “suwung” karena kena guyuran debu seperti sia-sia. Karena hujan tak turun membuat intensitas penyebaran semakin bertambah tebal. Rekanan proyek yang hingga sejauh ini tak diketahui identitasnya karena tak ada papan proyek yang bisa dibaca, sepertinya lepas tangan.

“Kalau pemborong beritikad baik harusnya menyiram pagi dan sore. Lah, ini kok malah kesannya seperti tak mau peduli dengan nasib warga. Pada prinsipnya siapapun tidak bisa menolak proyek pembangunan. Silahkan membangun tapi jangan sengsarakan rakyat,” urai Kar, warga yang tinggal RT 03 RW 06 Dusun Logawe.

Kepada siapa warga harus mengadukan persoalan ini juga tak jelas. Para mandor dan pekerja yang berada di lokasi proyek juga hanya memberikan jawaban sekedarnya. Ketika didesak mereka cuma menjawab persoalan di luar pekerjaan konstruksi adalah tanggungjawab bosnya.

“Lah, bosnya siapa sama sekali tak jelas. Lha wong tak ada papan proyek, apalagi sosialisasi,” imbuh warga lainnya yang nongkrong di depan Balai Dusun Logawe.  MUHAIMIN

Facebook Comments

Print Friendly, PDF & Email

About the Author

Berita Terkini

Videos