Published On: Sel, Sep 2nd, 2014

Petani Kian Sengsara. Setelah Banjir Ganti Anomali

RENGEL

DIRUNDUNG NESTAPA: Nasib petani dari waktu ke waktu tetap tak bernjak. Seperti lingkaran tak berujung.

DIRUNDUNG NESTAPA: Nasib petani dari waktu ke waktu tetap tak bernjak. Seperti lingkaran tak berujung. (foto: ISYIMEWA)

seputartunban.com-Getir nasib kaum petani di Kabupaten Tuban seperti lingkaran tak berujung. Setelah musim tanam kedua tahun lalu gagal panen karena tanaman padinya terendam banjir, kini meski bisa membawa bulir padi dari sawah namun hasilnya jauh api dari panggang alias tak seindah yang diangankan.

Walau demikian, jika dibandingkan dengan kondisi awal Desember 2013 lalu para masih bisa dikatakan “beruntung”. Tak sepahit akhir tahun lalu. Ketika itu sejatinya kondisi tanaman padi milik petani tergolong dalam puncak produksi terbaik. Sayangnya, hanya dalam hitungan hari hamparan padi yang siap dipanen mendadak disapu banjir.

Ketua Kelompok Tani Desa Sawahan, Mohamad Muti`ullah, tidak menampik nasib yang dialami petani tak setragis akhir 2013. Tapi jika dihitung dari hasil panen yang jauh merosot dari standar “ilmu” pertanian, sesngguhnya nasib petani di wilayahnya jau lebih mengenaskan. Kendati harga gabah kering sawah berkisar antara Rp 3.800-4.200 per kilonya tetap tak menolong.

“Karena memang hasilnya benar-benar jeblok. Ibarat pegawai, dengan kondisi seperti sekarang sama dengan tidak gajian enam bulan,” tutur dia, Selasa (02/09/2014) sore.

Menurut Mutik, jika biasanya sepetak sawah ukuran 1 hektar mampu menghasilkan gabah 5 ton tapi panen musim kering (MK) pertama tahun 2014 ini paling banter hanya 2 ton saja. Berdasar itungan kasar 2 ton sama dengan 2 ribu kilo kali Rp 3.800. Ketemunya Rp 7,6 juta.

Dia menjelaskan, gagal panen yang dialami petani tahun ini terjadi karena berbagai serangan penyakit seiring cuaca yang tidak menentu. Sebenarnya, sambung Mutik, segala daya sudah dilakukan petani mengatasi anomali tersebut. Mulai mensiasati dengan sistem dempplot hingga pemberian pestisida dan obat-obatan lain.

“Ini semata karena cuaca yang tidak mendukung. Tampaknya alam makin sulit diajak kompromi,” tamdas Mutik disamping petani lainnya.

Cerita tak kalah mengenaskan dituturkan Parman, petani 45 tahun asal Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel. Sepetak sawah yang dikerjakan dengan sistem “maro” berukuran 3 ribu meter ppersegi malah jauh lebih terpuruk. Jika dalam keadaan normal dapat menghasilkan gabah kering sawah 2 ton, namun kali ini hanya dapat kurang dari 4 kwintal saja.

“Ini benar-benar tak masuk akal. Masak ukuran segitu cuma dapat sepuluh sak saja. Kalau dirata-rata persaknya isi 40 kilo berarti ketemunya ya empat kwintal,” tutur Man getir seraya menyatakan untuk musim tanam selanjutnya dirinya berniat “mundur” alias tidak digarap. MUHAIMIN

Facebook Comments

Print Friendly, PDF & Email

About the Author

Berita Terkini

Videos