Published On: Ming, Jan 17th, 2016

Pertegas Sikap, Golkar Jatim Konsolidasi Kader Tuban-Bojonegoro

TUBAN

PERTEGAS SIKAP : Kader Golkar Tuban - Bojonegoro saat pertemuan di Gedung Golkar Tuban

PERTEGAS SIKAP : Kader Golkar Tuban – Bojonegoro saat pertemuan di Gedung Golkar Tuban

seputartuban.com – DPD Partai Golkar Jatim, Jumat (15/1/2016) menunjuk DPD Golkar Tuban sebagai tuan rumah dalam konsolidasi kadernya wilayah Tuban-Bojonegoro. Acara itu untuk mempertegas posisi dalam dualisme DPP Golkar.

Sekretaris DPD Partai Golkar Jatim, Gesang Budiarso, Jumat (15/1/2016) mengatakan dengan temu kader itu diharapkan mampu menjaga kader Golkar agar bersikap dengan bijak terkait dinamika internal partai.  “Oleh karena itu, saat ini kita adakan temu kader Golkar Tuban dan Bojonegoro, untuk menyikapi opini-opini yang berkembang,” katanya.

Ditegaskan, masyarakat umum bisa mengerti siapa orang yang sengaja tidak mau paham. Karena jelas dari dinamika hukum maupun politik, DPP Golkar versi Munas Ancol tidak sah. “Sebenarnya kesalah pahaman itu tidak ada, yang ada hanyalah mereka-mereka yang tidak mau paham, biar publik yang menilai,” ungkapnya.

Bagi Gesang, masyarakat sebenarnya sudah dapat menilai siapa yang bermain untuk kepentingan pribadi dalam dualisme Partai Golkar. DPP Golkar Jatim selalu bersikap yang benar dan terbaik. “Sudahlah, ini dinamika, wajar saja. Jatim dan khususnya Tuban mampu memposisikan diri dengan baik. Saya pikir publik juga sudah tahu, kita sudah lakukan yang terbaik,” sambungnya.

Dia menjelaskan sesuai putusan MA nomor : 490K/TUN/2015 tanggal 20 Oktober 2015, bahwa Munas Ancol tidak sah. “Putusan MA membatalkan SK Pengesahan DPP Golkar versi Ancol. Makna dari putusan MA itu adalah DPP partai Golkar hasil Munas Ancol batal demi hukum dan tidak sah dari tingkat pusat sampai tingkat ke bawahnya,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Tuban, Haeny Relawati Rini W, mengatakan kepengurusanya wajib memberikan pemahaman kepada seluruh kadernya. Agar mereka dapat bersikap dengan benar dan bijak dalam situasi dinamika partai.

“Meskipun ada satu dua yang tidak tahu, atau tidak mau tahu. Saya pikir, seharusnya sebagai kader tidak perlu tahu sih. Setidaknya perlu kita sampaikan agar tidak sepotong-sepotong menyikapi dinamika di internal partai,” ujarnya.

Karena dualisme itu, dampak yang harus dirasakan salah satunya adalah DPD Golkar Tuban tidak dapat mengusung Calon Bupati atau Wakil Bupati dalam Pemilukada 2015. Itu diharapkan menjadi menjadikan pelajaran yang terbaik untuk partainya.

“Dengan pertikaian itu, kita dapatkan konsekuensi, pada Pilkada 2015 kemarin. Dimana kita tidak bisa berangkat karena dualisme, harus bagaimana lagi, kita tetap lapang dada,” pungkasnya. USUL PUJIONO

Facebook Comments

About the Author