Published On: Kam, Nov 12th, 2015

Pengelolaan Wisata KPH Jatirogo Tanpa Ijin Rugikan Daerah

TUBAN

WISATA BODONG : Wisata air hangat wilayah Perhutani KPH Jatirogo tetap beroperasi meski tidak mengantongi ijin

WISATA BODONG : Wisata air hangat wilayah Perhutani KPH Jatirogo tetap beroperasi meski tidak mengantongi ijin

seputartuban.com – Pendapatan asli daerah (PAD) yang dari sektor wisata di Kabupaten Tuban dinilai masih minim. Dikarenakan beberapa faktor diantaranya masih banyak wisata yang dikelola dibawah tangan, tanpa perijinan. Sehingga mereka tidak menyetorkan pajak daerah.

Kepala bidang pariwisata, Dinas Perekonomian dan Pariwisata Pemkab Tuban, Sunaryo, mengatakan salah satunya adalah wisata yang dikelola Perhutani KPH Jatirogo. Pemkab Tuban sudah berkali-kali menawarkan kerjasama operasional, namun diabaikan.

“Kita sudah berkali-kali mengupayakan program kemitraan dengan pengelola tempat wisata dibawah tegakan perhutani wilayah KPH Jatirogo, samun sampai saat ini belum ada jawaban tegasnya, jika ini dibiarkan berlarut-larut maka pihak Pemerintah Kabupaten yang dirugikan” terangnya kepada seputartuban.com. Rabu, (11/11/2015) pagi.

Diantaranya tempat pemandian air panas Nganget, di Rayon Pemangku Hutan (RPH) Kejuron, Badan Kasetuan Pemangku Hutan (BKPH) Bangilan, KPH Jatirogo Kabupaten Tuban. Meski sudah ramai dikunjungi warga Tuban dan luar, tidak memberikan kontirbusi sepeserpun kepada daerah.

“Kami memandang bahwa untuk Pengelolaan pariwisata diwilayah itu masih setengah hati. Sebab, pengelolaan yang dilakukan seperti pada objek kawasan wisata pemandian Nganget dan Pantai Sowan tidak ada menguntungkan bagi Kabupaten Tuban. Ya untungnya hanya untuk Perhutani saja,” imbuhnya.

Padahal, Perhutani KPH Jatirogo telah meraup untung yang tidak sedikit dari dua tempat pariwisata tersebut. Menurut Sunaryo, Perhutani tidak mau keuntungannya dibagi, dengan alasan tidak memiliki dasarnya.

Terpisah, KSS PHBM Perhutani KPH Jatirogo Tarsimin, membenarkan pihaknya belum memberikan kontibusi kepada daerah. Namun ia menegaskan bahwa pengelolaanya melibatkan masyarakat lokal.

“Selama ini kami belum melakukan kajian tentang hasil pengelolaan dari kedua titik wisata itu karena masih belum jelas. Sehingga kami belum dapat melibatkan pemerintah Kabupaten, hanya saja tetap kami melibatkan masyarakat dalam seruh aktifitas dimasing-masing tempat tersebut melalui LMDH,” jelasnya.

Peranan masyarakat lokal melalui LMDH yang setiap bulanya diberikan bagi hasil sebesar 15 % dari pendapatan biaya masuk sebesar Rp 3000,- per orang, setelah seluruh penghasilan diakumulasikan dari jumlah pengunjung sitiap bulanya yang rata-rata mencapai 800 hingga 100 pengunjung.

“Kami tidak memiliki data hasil rekapan pengunjun per harinya, Namun kalau di ambil rata-rata jumlah pengunjung dalam satu bulanya antara 800 pengunjung sampai 1000 pengunjung,” pungkas Tarsimin.

Diketahui untuk mengoperasikan wisata di Kabupaten Tuban, meski berada diwilayah Perhutani ada beberapa syarat yang harus diajukan untuk memperoleh ijin hiburan umum. Diantaranya dari Bappeda, BLH, Dinas Pekerjaan Umum hingga pemerintah kecamatan dan desa.

Hasil penelusuran seputartuban.com, pengunjung wisata sumber air hangat (nganget) jika saat malam jumat tembus 1000 pengunjung. Karena selain dianggap malam keramat, juga buka 24 jam. Tiap pengunjung ditarik tiket masuk serta karcis parkir dengan tarif berbeda sepeda motor dan mobil. ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author