Published On: Jum, Apr 17th, 2015

Pemkab Tuban “Emban Cinde Emban Ciladan”

TUBAN

DIPROTES: Komplek makam Tjitrosoman di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, yang merupakan kawasan terlarang bagi PKL. foto: WANTI TRI APRILIANA

DIPROTES: Komplek makam Tjitrosoman di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, yang merupakan kawasan terlarang bagi PKL. foto: WANTI TRI APRILIANA

seputartuban.com-Komitmen keberpihakan APBD kepada rakyat yang pernah dijadikan salah satu tema kampanye duet Bupati Tuban Fathul Huda dan Wakil Bupati Noor Nahar Husein tak semanis yang dikatakan.

Sehingga kemudian kesannya masih banyak yang berhenti di atas kertas dan akhirnya menjadi slogan mati. Pemkab Tuban pun dituding “Emban Cinde Emban Ciladan”, sebuah pepatah Jawa yang dalam bahasa konotasi sehari-sehari berarti tidak adil atau pilih kasih.

Meski belum menjadi bukti sahih, namum sepanjang empat tahun berlalu sejak Fathul Huda dilantik menjadi Bupati Tuban ke-52 tanggal 20 Juni 2011 silam, sepertinya kue APBD untuk pembangunan belum dibagi rata. Masih banyak infrastruktur pedesaan yang belum seluruhnya tesentuh.

Warga desa yang iri lantas menuding kue pembangunan yang bersumber dari APBD menumpuk di kawasan perkotaan dan untuk proyek prestisius seperti sport centre, suksesi terminal dan pantai boom, serta proyek lain yang menyedot anggaran wah tapi kemudian mangkrak di tengah jalan.

Realita tersebut seakan jungkir balik dengan aspirasi masyarakat Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, yang mengajukan proyek pengecoran untuk menutup permukaan saluran drainase depan komplek makam Tjitrosoman (baca: Citrosoman) agar bisa dimanfaatkan berjualan warga, tapi hingga kini belum ditanggapi Pemkab Tuban.

AANG SUTAN: Kalau pengecoran yang baru ini mau dibongkar silahkan, saya ikhlas. Karena itu uang pribadi saya selaku kepala desa. Tapi dengan satu catatan sejahterakan warga Desa Bejagung, perhatikan kami.

AANG SUTAN: Kalau pengecoran yang baru ini mau dibongkar silahkan, saya ikhlas. Karena itu uang pribadi saya selaku kepala desa. Tapi dengan satu catatan sejahterakan warga Desa Bejagung, perhatikan kami.

Kepala Desa Bejagung, Aang Sutan, mengatakan permohonan dana tersebut akan digunakan melanjutkan proses pengecoran di kawasan pemakaman ekslusif trah Adipati Tjitrosomo I, yang sebelumnya sudah dilakukan desa sepanjang 10 meter. Sebelum itu, sebagian permukaan saluan air ini sudah ditutup dengen cor oleh pemkab.

Menurut dia, yang kemudian selain proposal itu sampai hari ini tidak pernah mendapat respon, justeru Pemkab Tuban malah mempersoalkan cor-coran di atas saluran drainase   tersebut. Alasannya, kini di atasnya malah digunakan PKL menggelar dagangannya.

“Sekarang kami dianggap salah karena menutup saluran itu. Katanya (pemkab), bagaimana kalau terjadi banjir. Loh, kami ini warga Bejagung. Kami yang lebih paham kondisi wilayah kami. Kalau pun sampai banjir paling-paling hanya 70centimeter. Sedangkan saluran itu dalamnya tiga meter lebih,”paparnya saat ditemui seputartuban.com di kantornya, Jumat (17/04/2015) pagi.

Meski begitu Pemkab Tuban juga bersikukuh jika tempat ini merupakan kawasan terlarang untuk berjualan. Jika pihak desa tidak mengindahkan larangan tersebut maka pihak pemkab akan membongkar sendiri secara paksa.

“Kalau pengecoran yang baru ini mau dibongkar silahkan, saya ikhlas. Karena itu uang pribadi saya selaku kepala desa. Tapi dengan satu catatan sejahterakan warga Desa Bejagung, perhatikan kami,”ungkapnya.  WANTI TRI APRLIANA

Facebook Comments

About the Author