Published On: Rab, Mar 4th, 2015

Pelajar Tuban Gencar “Didoktrin” KB dan “Anti” Perkawinan Dini

TUBAN

SUPRIHONO: Di SMA dan SMP wilayah pinggiran Tuban sudah kami lakukan. Tapi untuk sementara kami legasikan pada rekan-rekan penyuluh KB yang berada di wilayahnya masing-masing.

SUPRIHONO: Di SMA dan SMP wilayah pinggiran Tuban sudah kami lakukan. Tapi untuk sementara kami legasikan pada rekan-rekan penyuluh KB yang berada di wilayahnya masing-masing.

seputartuban.com-Jalur sekolah mulai dirambah Kantor Badan Perlindungan Masyarakat dan Keluarga Bencana (Bapemas dan KB) Kabupaten Tuban, untuk mengenalkan program KB dan “anti” perkawinan dini.

Hal itu dilakukan sebagai upaya menata pola pikir siswa sejak dini berkaitan merencanakan dan menata keluarga ideal di masa datang. Tema utama yang disasar di kalangan siswa SMP dan SMA di Kabupaten Tuban adalah progran KB, sebuah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran.

Jumlah anak dalam sebuah keluarga yang dianggap ideal adalah dua. Gerakan ini mulai dicanangkan pada tahun akhir 1970-an. Sederhanya adalah perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi.

Kepala Bidang KB pada Kantor Bapemas dan KB Kabupaten Tuban, Suprihono, menjelaskan sosialiasi tersebut dimaksudkan agar para siswa siswi wilayah Tuban dapat memahami risiko bahaya hamil di usia muda sejak dini.

Menurut dia, selain itu juga sebagai ikhtiar mengoptimalkan pemahaman mengenai program KB guna mengurangi angka kelahiran pada kalangan remaja. Program ini tidak hanya merambah SMP dan SMA di pusat kota saja. Tapi juga bergerak bergerak ke sekolah pinggiran.

“Di SMA dan SMP wilayah pinggiran Tuban sudah kami lakukan. Tapi untuk sementara kami legasikan pada rekan-rekan penyuluh KB yang berada di wilayahnya masing-masing,” kata Suprihono di kantornya, Rabu (04/03/2015) siang.

Hanya saja, imbuh dia, akibat kurangnya teknisi penyuluh KB sehingga membuat penyuluhan program ini bergerak lambat di sekolah-sekolah pinggiran.

Pada bagian lain Suprihono, mengungkapkan usaha paling strategis guna menekan laju perkembangan penduduk di Kabupaten Tuban adalah dengan upaya pendewasaan perkawinan di kalangan siswa tingkat siswa SMP dan SMA kabupaten Tuban.

“Tujuannya agar para siswa memahami risiko untuk hamil dini. Program ini disambut sangat antusias pihak sekolah,” klaim Suprihono sembari menjelaskan tahun ini banyak rencana yang akan dilaksanakan dalam penyuluhan program KB, tidak hanya di sekolah-sekolah, tapi juga mengembalikan sosial ke jalur mainstream sebagaimana dilakukan pada masa lalu.

Sekedar mengingatkan zaman boleh jungkir balik dan kecanggihan teknologi bisa mengubah segalanya. Tapi, di antara dua fakta masa ini budaya kawin muda seolah masih menjadi fenomena cukup populer di Kabupaten Tuban dalam dua tahun terakhir.

Potret budaya kawin dini tersebut tampak jelas berdasar data yang diperoleh seputartuban.com dari Pengadilan Agama (PA) Tuban, Rabu (04/06/2014) silam.

Dalam data itu disebutkan, laporan perkara tingkat pertama yang diterima PA Tuban sepanjang Januari hingga Mei 2014 angka diska (dispensasi kawin) tercatat 75 perkara. Kasus ini meningkat dalam kurun waktu sama tahun 2013 lalu yakni sebanyak 63 perkara.

Artinya dari beda tahun tersebut terjadi selisih 15 perkara. Sehingga asumsinya tidak menutup kemungkinan untuk bulan-buan berikutnya perkara diska akan semakin bertambah.

Wakil Panitera PA Tuban, Sholihin Jami’, mengatakan perkawinan yang diatur dalam pasal 7 ayat 1 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan adalah jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun, dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.

Sementara dampak dari perkawinan dini tersebut mencatat laju perkembangan penduduk di Kabupaten Tuban tergolong “meledak”. Jika pada tahun 2008 total penduduk Kabupaten Tuban mencapai 1.137.708 jiwa, namun pada tahun 2013 data di BPS Kabupaten Tuban menyebutkan naik mejadi 1.288.975 jiwa.

BPS menyebut hal ini karena rasio angka kelahiran di wilayah Kabupaten Tuban berlangsung pesat. WANTI TRI APRILIANA

Facebook Comments

About the Author