Published On: Kam, Mar 3rd, 2016

Pejuang Agama Yang Terabaikan; Renta, Rabun dan Sebatangkara

KENDURUAN

Musfiah (76), warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, dulu pejuang agama kini sebatangkara

Musfiah (76), warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, dulu pejuang agama kini sebatangkara

seputartuban.com – Dulu ia dan suaminya menjadi pejuang agama, kini hidupnya terabaikan. Musfiah (76), warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, tinggal seorang diri di rumah kumuh.  Karena suaminya sudah meninggal 7 tahun lalu dan dia tidak memiliki anak serta keluarga. Karena dia dulunya seorang pendatang dari Bojonegoro yang kemudian menetap.

Pada tahun 1970-an dia dan suaminya dikenal sebagai pejuang agama di desanya. Menyiarkan Islam di desa tersebut, bahkan hingga saat ini masyarakat mengenal wanita tua itu sangat taat beribadah ditengah keterbatasanya. Kini hidupnya seolah terasing di desa yang dulunya menjadi ladang dakwahnya.

Musfiah tinggal dirumah digubuk yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu. Rumah sangat sederhana itulah yang melindunginya dari sengatan matahari dan dinginya malam. Serta menjadi saksi bisu bagaimana hari-hari berat Musfiah dijalani dengan tabah.

Tidak banyak perabot rumah tangga yang ia miliki. Karena keterbatasan penglihatanya dia tidak dapat berbuat banyak. Ia hanya memiliki 2 piring dan 1 sendok makan. “Sebelum saya rabun, saya dulu jualan ikan, tapi sekarang tidak bisa berbuat apa apa,” kata Musfiah lirih.

Wanita renta itu, dalam keseharianya hanya bisa menunggu bantuan tetangga dan orang orang yang dermawan terhadap dirinya. “Ya menunggu dikasih, karena saya tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya.

Dia sudah mendapatkan bantuan rumah ukuran 3 meter X 5 meter yang dibangun didepan rumahnya sendiri. Namun tidak ditempati karena selain terasa sempit juga saat siang hari panas. Sehingga dia lebih nyaman tinggal dirumah lamanya. “Saudara saya yang di Bojonegoro keadaannya juga sama, tidak memiliki anak dan kesehariannya hanya sebagai buruh tani,” katanya.

Karno, tetangga Mbah Musfiah mengungkapkan wanita yang hingga saat ini dikenal agamis. Dulunya adalah seorang pejuang agama di desanya. Dimasa mudanya sangat giat mensyiarkan Islam untuk warga sekitarnya. “Namun sekarang, banyak yang melupakan jasanya. Bahkan dengan keadaan hidupnya yang serba susah, jarang ada yang peduli dengannya,” katanya. USUL PUJIONO

Update : Kebesaran Jiwa Mbah Musfiah Hadirkan Kepedulian

Facebook Comments

About the Author

Displaying 1 Comments
Have Your Say