Published On: Rab, Mar 25th, 2015

Pasca Subsidi Kompor Gas, Pedagang Rencek Tuban Tiarap

Beralihnya masyarakat modern dalam urusan dapur, terutama penggunaan kompor elpiji yang saat ini dinilai lebih efisien dan terjangkau membuat Yuni, salah satu pedagang kayu bakar di Kecamatan Semanding, kena imbas buruknya.

TAK LAKU: Yuni, di antara tumpukan kayu bakar yang kini sepi pembeli, di rumahnya Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Rabu (25/03/2015) siang.

TAK LAKU: Yuni, di antara tumpukan kayu bakar yang kini sepi pembeli, di rumahnya Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Rabu (25/03/2015) siang. foto: WANTI TRI APRILIANI

seputartuban.com-Akibatnya, tumpukan kayu bakar yang menggunung di depan rumahnya Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, sekarang boleh dibilang jarang disasar pembeli. Kalau pun ada hanya saat momen tertentu saja. Seperti warga yang menggelar hajatan dan lainnya.

Tapi, maraknya jasa katering dan jasa penyewaan alat dapur lainnya seprti kompor elpiji ukuran besar, makin membuat warga berpaling meninggalkan kayu bakar. Selain ruwet, nyala apinya tak bisa konsisten seperti kompor elpiji.

Padahal, di eranya dulu atau persisnya sebelum pemerintah melakukan droping kompor gas bersubsidi, kayu bakar atau biasa juga disebut rencek menjadi primadona pada hampir semua rumah tangga di Kabupaten Tuban.

Yuni menuturkan, warga terpaksa menggunakan kayu bakar ketika harga tabung elpiji kemasan 3 kilogram mengalami kenaikan. Walau demikian, perempuan bersahaja ini tak lantas berharap pemerintah menaikkan harga elpiji, agar kayu bakarnya menjadi laris.

“Dulu waktu pertama ada kompor elpiji masih banyak yang membeli. Dari kalangan masyarakat ekonomi menengah sampai bawah masih memakai kayu karena saat itu harga kompor elpiji masih mahal. Tapi setelah pemerintah memberikan subsidi kompor elpiji kepada masyarakat kurang mampu, penjualan kayu langsung anjlok,” tutur Yuni saat ditemui di rumahnya RT 02 RW 03 Prunggahan Kulon, Rabu (25/03/2015) siang.

Menurut dia, meski pasarnya semakin anjlok namun setiap harinya Yuni masih menerima pasokan lima ikat kayu bakar dari warga setempat. Seikat dilempar dengan harga Rp 16.000. Padahal semasa jayanya dulu Yuni mampu menjual sedikitnya 30 ikat dalam sehari.

”Saya Cuma ambil untung sekitar Rp 1.500 perikatnya. Niatnya tidak mau menjual lagi,” katanya.

Ketika ditanya kenapa masih mempertahankan bisnis yang tidak menjanjikan lagi ini, Yuni menerangkan semata kasihan kepada penebang. Kalau dia menghentikan usaha menjual kayu bakarnya, maka otomatis akan memujtus pula sumber kehidupan pencari rencek.

Yuni menyebut, tak setiap hari warga butuh kayu bakar. Hanya pada momen-momen tertentu warga membutuhkan kayu bakar seperti hajatan besar, siswa yang akan pesta api unggun dan pedagang lontong.

“Dari dulu saya tidak menaikkan harga karena takut malah tidak ada yang membeli. Padahal kayu bakar ini memiliki kelebihan seperti aroma yang diciptakan lebih membuat masakan menjadi sedap. Dan untuk dibuat memasak dalam jumlah besar akan lebih cepat matangnya,” ungkap Yuni sembari mengelap peluh di wajahnya dengan punggung tangannya yang mulai timbul keriput di sana sini.  WANTI TRI APRILIANA

Facebook Comments

About the Author