Published On: Jum, Mei 11th, 2018

Pasca Dilepas Pemkab, Pengelolaan Pasar Montong Berupaya Lebih Baik

seputartuban.com, MONTONG – Sejak 1 April 2016 berdasarkan Peraturan Bupati (Perbup) No. 6 tahun 2016 Tentang Pengelolaan dan Penyerahan Pasar Desa, status pengelolaan Pasar Montong diserahkan kepada desa. Sehingga sejak saat itu status dan sistem pengelolaan juga turut berubah total.

Lokasi Pasar Montong

Berdasarkan data Litbang seputartuban.com, Pasar Montong saat dikelola Pemkab Tuban menyumbang pendapatan puluhan juta rupiah dari berbagai sumber retribusi di pasar. Yakni Diketahui, tahun 2015 mampu menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Tuban sebesar Rp. 79,8 juta. Sedangkan pada tahun 2014 menyumbang PAD Rp. 75,6 juta.

Sekretaris Pasar Montong, Sono didampingi Sekretaris 2, Baroto Yuwono belum lama ini mengatakan dalam pengelolaan Pasar Montong diperlukan niat tulus ikhlas mengabdi kepada masyarakat. Bukan niat bekerja, karena honor yang diterima amat sedikit. Tidak sebanding dengan beban kerja maupun banyaknya perbaikan kinerja yang dilakukan. “Gajinya hanya Rp. 250,000 tapi kita senang karena bertemu orang banyak,” katanya.

Gaji petugas parkir lebih mahal dibanding gaji pengurus. “Yang penting sementara ini sama-sama jalan, ini perjuangan, motivasi pengurus mengabdi dan alhamdulillah pengurus kompak. Kita senengnya kumpul dan ketemu orang banyak,” katanya.

Sejumlah perbaikan sistem pengelolaan dilakukan untuk membuat pasar lebih baik. Diantaranya sistem sewa kios atau lapak yang dulunya jangka waktu lima tahunan atau waktu lama, dirubah menjadi sistem tahunan. Dengan diberikan sertifikat Izin sewa tahunan kalau di depan Rp. 50,000 dan kalau di dalam los Rp. 35,000. Hal itu dilakukan untuk untuk menanggulangi penyakit lama.

Yakni pemilik sewa menjual lagi ke pedagang lainnya dengan harga lebih mahal. “Masalahnya penyakit lama dijual belikan bisa sampai puluhan juta. Kita pakai sistem itu untuk menanggulangi penjualan gelap. Kalau 3 tahun atau 5 tahun itu rawan sekali,” katanya.

Keberadaan pasar harapannya bisa membuka lapangan pekerjaan masyarakat. Saat ini jumlah pedagang yang terdata sebanyak 400 orang. Jumlah itu belum termasuk pedagang tidak tetap, yang menjual dagangannya pada pagi hari saja. Sebenarnya diperlukan perluasan pasar, namun rencana tersebut dapat direalisasikan menyesuaikan kondisi keuangan pasar.

“Kalau ada perluasan baru bisa menambah karyawan maupun pelaku pasar. Perluasan juga membutuhkan dana yang besar, untuk untuk jangka menengah dan panjang. Karena yang diurusi desa tidak hanya pasar. Belum lagi pemahaman masyarakat, kalau pasar minta dana desa maka ada pemahaman masyarakat, pasar tempatnya uang kok malah minta uang desa. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu,” ungkapnya.

Direncanakan pengembangan yang dimaksud lahan seperempat hektar disisi utara pasar. Akan digunakan sebagai lokasi bongkar muat barang. Sekaligus dibangun kios yang juga berfungsi sebagai pagar pasar. “Karena pada ramadhan dan lebaran puasa tidak muat, serta untuk memperbesar pengembangan ekonominya,” ungkapnya.

Soal pendapatan pasar, sejak diserahkan desa mendapatkan penghasilan dua kali lipat dibanding sebelumnya. Januari 2018 mampu mendapatkan penghasilan kotor Rp. 16 juta lebih. Pebruari dan Maret 2018, Rp. 15 juta dan Rp. 14 juta lebih. Hasil usaha tersebut digunakan untuk biaya operasional maupun pengembangan pasar. Sedangkan per tahun, desa ditetapkan meminta hasil Rp. 10 juta rupiah. “Kita sudah memperbaiki sistem kelistrikan, membuat toilet baru serta dipakai beban gaji karyawan dan pengurus. Kita terus perbaiki sesuai kemampuan,” pungkasnya. RUSWANTO/SUBEKTI

 

Facebook Comments

Print Friendly, PDF & Email

About the Author