Published On: Kam, Okt 20th, 2016

Paralayang, Potensi Olahraga dan Wisata Yang Terabaikan

KEREK

seputartuban.com – Sebagai daerah dengan mayoritas wilayah perbukitan kapur, Kabupaten Tuban sangat berpotensi untuk perkembangan olahraga Paralayang. Banyak perbukitan tinggi bisa digunakan untuk area pemberangkatan (take off), dan melakukan pendaratan secara aman. Hembusan angin yang relatif stabil juga sangat mendukung kegiatan olahraga yang memacu andrenaline itu.

MASIH DIABAIKAN : Atlet paralayang saat melakukan uji coba di Bukit Desa Trantang, Kecamatan Kerek

MASIH DIABAIKAN : Atlet paralayang saat melakukan uji coba di Bukit Desa Trantang, Kecamatan Kerek

Paralayang adalah olahraga terbang bebas dengan menggunakan parasut, dimana cara untuk lepas landas ataupun mendarat menggunakan tumpuan kaki penerbang. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan di lereng bukit dengan memanfaatkan angin. Tujuannya bisa untuk sekedar rekreasi, olahraga, atau kompetisi.

Beberapa lokasi di Tuban yang bisa digunakan untuk take off , diantaranya sudah diuji coba adalah Bukit Ngandong di Desa Ngandong, Kecamatan Grabagan. Lalu Bukit Sigro di Kecamatan Senori dan Bukit Desa Trantang, Kecamatan Kerek dengan lokasi pendaratan di Desa Wolutengah.

Potensi ketinggian tersebut diperkuat dengan hembusan angin. Posisi Kabupaten Tuban yang berada di pesisir pantai utara memiliki hembusan angin relatif stabil. Dalam kondisi normal angin berhembus antara 17 hingga 19 knot, sehingga sangat cocok untuk terbang.

TERBANG LAMA : Hembusan angin laut membuat kawasan ini layak dipakai olahraga maupun wisata paralayang

TERBANG LAMA : Hembusan angin laut membuat kawasan ini layak dipakai olahraga maupun wisata paralayang

“Itulah kelebihan alam Tuban, sangat mendukung untuk berbagai aktivitas Paralayang,” ujar Sekreatris Harian Cabor Paralayang, Ari Waspodo, kemarin.

Ari menambahkan ada tiga titik potensial untuk take off, belum lagi kawasan pantai. Umumnya kawasan pantai cocok dijadikan olahraga Paralayang, dengan teknik Towing (ditarik).

Meski didukung potensi alam luar biasa, namun perkembangan olahraga ini di Tuban penuh dengan rintangan. Salah satunya adalah masalah tempat untuk take off. Lokasi tersebut bukan lahan pemerintah, melainkan berstatus lahan Perhutani, dan adapula yang milik perseorangan.

WISATA GRATIS : Aktivitas atlet paralayang menjadi tontonan warga dan anak-anak sekitar lokasi

WISATA GRATIS : Aktivitas atlet paralayang menjadi tontonan warga dan anak-anak sekitar lokasi

Area take off Bukit Ngandong, misalnya, lahan tersebut milik perseorangan. Sementara area Bukit Sigro, dan Bukit Trantang berada di dalam wilayah Perhutani.

Problema pertama soal anggaran, kedua adalah lokasi. Untuk lokasi sendiri sebelum digunakan minimal lahan dinormalisasi sebagai start terbang, masalahnya lahan itu masih milik Perhutani. “Kalau kita minta pengajuan dana dari APBD juga tak mungkin,” ungkap Ari.

Kini sudah ada komunikasi baik antara pengurus olahraga paralayang dengan pihak Perhutani selaku pemilik lahan. Perhutani menyambut baik, dan memberikan ijin kegiatan Paralayang di kawasan Bukit Desa Trantang.

Bahkan Memory of Understanding (MoU) antar dua lembaga telah ditandatangani pada akhir tahun 2015 lalu. “Yang masih jadi hambatan saat ini adalah anggaran karena peralatan terbang ini cukup mahal,” imbuh Ari.

Melihat potensinya sangat besar, pemerintah daerah berencana mengembangkan Paralayang tidak hanya sebagai olahraga tapi juga sebagai destinasi wisata, seperti yang berada di kota Batu dan Malang.

Sebelum itu masih dibutuhkan proses panjang untuk menyiapkan wisata Paralayang. Diantaranya, menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) instruktur yang profesional dan handal, serta pembelian peralatan yang memadai dan aman bagi pengguna.

Semuanya sangat mungkin dilakukan, apalagi pernah ada rencana dari pemerintah menjadikan olahraga ini sebagai salah satu obyek wisata. Apalagi Kecamatan Kerek mempunyai banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan.

Dengan adanya kerjasama antara KPH Tuban, Paralayang, Pemdes Trantang dan Wolutengah menjadi sembuah potensi yang perlu dikembangkan. Sehingga juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat bila dibuat wisata di lokasi itu.

Selain itu, kedepan event-event Paralayang tingkat nasional akan digelar lokasi itu, mulai Porprov 2019. TROY Tuban merupakan venue ke 3 di Jawa Timur setelah Batu dan Bondowoso. Namun tetap membutuhkan pembenahan fasilitas pendukung mulai peralatan dan akses jalan.

“Atlet yang kita miliki baru 4, kita mau buka rekrutmen baru masih terkendala alat dan juga tempat latihan masih perlu pembenahan,” keluh pengurus Paralayang yang juga Staf Bapemas dan KB Pemkab Tuban itu.

Pihaknya sudah melakukan koordinasi dan mengajukan bantuan ke Pemkab dan juga PT Semen Indonesia berupa peralatan (parasut). Untuk Pemkab belum ada jawaban, sedangkan PT Semen Indonesia belum bisa merealisasikannya. “Kita tetap semangat meskipun keterbatasan alat dan sarana prasarna belum memadai,” pungkasnya. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author