Published On: Rab, Jun 4th, 2014

“Paparazi” Sunan Bonang Berjudi dengan Nasib

Keberadaan makam Sunan Bonang di belakang Masjid Agung Tuban di antara gang sempit bernama Kutorejo, ternyata tak hanya sebagai media menggapai derajat dan kemuliaan, dengan bermunajat dekat pusaranya. Salah satu yang menarik adalah sisi kehidupan para fotografer amatir yang menjual jasa dengan memotret para peziarah dari berbabagi angle momen. Tapi uniknya, hal itu dilakukan dengan untung-untungan. Dibeli dapat rezeki, dicuekin siap-siap dapur tak mengepul. Jika lagi sepi tak jarang yang banting setir menjadi asongan.  

BERBURU REZEKI: Sejumlah peziarah melihat berbagai angle foto hasil jepretan "paparazi" Sunan Bonang.

BERBURU REZEKI: Sejumlah peziarah melihat berbagai angle foto hasil jepretan “paparazi” Sunan Bonang.

seputartuban.com-Bagi para “paparazi” yang banyak bertebaran di seputar lokasi wisata ikon Wali Sanga ini, hidup tak lebih sekedar perjuadian dengan nasib. Meski para fotografer amatir ini tetap meyakini bahwa ikhtiar membuka pintu kemudahan yang namanya rezeki.

Tak berlebihan jika mereka menyebut pekerjaan yang dilakoni berjudi dengan nasib. Dari pagi sampai malam, para para “paparazi” ini nyanggong peziarah yang datang berombongan maupun personal. Pendek kata, setiap polah tingkah mulai dari area parkir hingga sampai makam Bonang adalah fokus momen yang dijepret. Harapannya, ketika foto diminati peziarah yang kena jepret sudah pasti dapat rezeki.

“Tidak ada perjanjian sama sekali, Mas. Dikasih duit Alhamdulillah, nggak ya belum rezakinya,” tutur sejumlah juru foto amatir yang mengaku sering pulang tak bawa uang sepeserpun.

Penggalan pernyataan diatas, sepertinya hanya secuil sisi buram dari banyak kisah yang mencuat dari “paparazi” yang biasa mangkal di lokasi wisata Sunan Bonang. Mulai
peziarah yang datang dan memarkir kendaraannya maka kuli jepret itu bak ayam yang diberi makan. Langsung mendekat dan memotret setiap pengunjung yang turun dari bus.
Fenomena ini setiap hari bisa dijumpai di sekitar parkir wisata rohani itu.

Sedikitnya ada 41 “paparazi”  yang ikut tergabung dalam paguyuban wisata Sunan
Bonang Tuban. Setiap hari semua fotografer yang menyajikan foto jadi itu
menenteng kamera untuk membidik calon pembeli. Caranaya dengan mengambil foto
peziarah saat berjalan menuju makam. Nantinya setelah peziarah kembali di
lokasi bus akan ditawari foto untuk membelinya.

Salah satu fotografer, Salam, menejelaskan setiap hari dia harus bersaing dengan rekan sejawatnya. Setiap pagi, harus mnerima undian untuk menentukan urutan. Nomor urut itu akan diamnfaatkan untuk melakukan sesi pemotretan pada bus peziarah yang datang.
Tujuannya agar sesame pekerja tida saling berebut.

Cara menjualnya juga tergolong unik. Setiap peziarah akan ditawari hasil foto ketika kembali di bus. Hasil foto dipampang pada sebuah etalase mirip papan tulis untuk dipilih dan dibeli.

Menurut Salam, setiap lembar foto ditawarkan Rp 20 ribu. Tapi tentu saja ini harga nego, bisa ditawar. Jatuhnya  bisa Rp 10 ribu. Namun tidak sedikit yang menawar Rp 1.000. “ Biasa, Mas kalau nawarnya cuma RP 1.000 mungkin tidak minat membeli, “ ucap Salam, lelaki asli Tuban ini.

Dalam kesemopatan itu Salam juga mengisahkan sepenggal cerita nelangsa. Sudah terlanjur difoto tak jarang tidak laku sama sekali. Bahkan untuk satu  bus dengan 50 penumpang terkadang Cuma 10 foto yang terjual. Hasil tersebut tidak menutup kemungkinan merugi.

Meski begitu Salam dan “paparazi” lainnya tidak lantas patah arang. Hari-hari biasa, mereka dapat membawa pulang bersih uang Rp 100. Kalau sedang “panen” seperti momen haul Sunan Bonang dan Jumat Wage bisa sampai dapat Rp 400 ribu.

“Kita ini cuma pekerja. Sudah ada bosnya. Kamera dan kertas foto dari bos. Kita terima bersih,“ imbuh fotografer amatir lainnya.

Perjudian nasib dengan menjalani hidup sebagai “paparazi” juga dilakukan Siti Badriyah, perempuan 33 asal Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Meski dirinya bukan fotografer handal, namun dia mengaku hasil fotonya masih laku. Setiap lembarnya bisa terjual anatar Rp 5 ribu sampai RP 20 ribu. Apabila sepi foto, Badriyah beralih profesi menjadi tukang kopi keliling. “Saya sudah empat tahun kerja sebagai fotografer amatir,” katanya.

Sementara Ketua Paguyuban Wisata Sunan Bonang, Teguh S, mengatakan semua pedagang dan profesi di tempat ini memiliki paguyuban yang legal. Seluruhnya akan diberi seragam. Hal ini untuk mempermudah dalam pengawasan.

“Kalau iuran cuma Rp 1.000 untuk kas paguyuban. Kalau terkumpul juga untuk mereka sendiri. Untuk santunan kematian, sakit dan lainnya,“ ungkapnya. HANAFI

Facebook Comments

About the Author