Published On: Sel, Des 29th, 2015

Modal Tekad, Kerajinan Kaligrafinya Mulai Laris

KEREK

TELATEN : Imam Syafi'i sedang membuat kerajinan kaligraffi

TELATEN : Imam Syafi’i sedang membuat kerajinan kaligraffi

seputartuban.com – Imam Syafi’i (38), warga Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban mulai merasakan manisnya hasil ketekunan dan kesabaranya. Kerajinan kaligrafi yang ditekuninya sejak 2008 mulai diminati masyarakat.

Awalnya dia bermodalkan Rp. 100 ribu. Uang itu digunakan membeli kaligrafi di pasar. Sesampainya dirumah, dipakai contoh untuk membuat sendiri. Hasilnya ia jual dengan cara menawarkan dari rumah kerumah. Kemudian berkembang hingga dia menawarkan ke sejumlah toko di Tuban. Jerih payah itu membuahkan hasil, ia kini mendapat banyak pesanan tanpa harus berkeliling mencari pelanggan.

 “Saya tidak pernah berguru atau sekolah membuat kaligrafi. Saya belajar sendiri dan setelah jadi saya jual dengan keliling kerumah-rumah,” katanya, Senin (28/12/2015).

Inilah hasil karya Imam Syafi'i siap dijual

Inilah hasil karya Imam Syafi’i siap dijual

Kaligrafi yang dibuat terdapat 2 jenis, bahan aluminum foil proses pembuatannya lebih lama. Karena harus membuat gambar  atau lukisan sebagai dasar kaligrafi terlebih dahulu. Sedangkan yang dari bahan aluminium lebih mudah karena dasarnya dengan memakai kain bludru dan dihias dengan benang bordir. Saat terpapar sinar matahari terkesan menyala.

Dia menjual dari hasil karyanya mulai dari harga Rp. 100 ribu hingga Rp. 1,5 juta tiap buahnya. “Selain ada pesanan juga saya jual ke toko yang ada di Plumpang dan Babat, Lamongan,” ungkap bapak 1 anak itu.

Bahan baku membuat kerajinan kaligrafi dibeli dari Surabaya. Untuk menambah koleksi karya kerajinanya, dia juga Selain membuat pigura. Sehingga saat membeli kaligrafi sudah sekaligus piguranya. Saat ini dia sudah mempekerjakan 3 orang yang masih keluarganya sendiri.

Saat ini ia mengaku kesulitan modal, lokasi usaha dan ketersediaan tenaga kerja. Karena saat permintaan banyak, dia harus bekerja 24 jam untuk memenuhi pesanan. Dalam sehari 3 pekerjanya mampu membuat 5 sampai 7 kaligrafi berbagai ukuran. “Saat ini ada juga pesanan dari luar pulau seperti Medan dan Kalimantan. Tetapi kita tidak bisa melayaninya karena keterbatasan tenaga,” keluhnya.

Imam mengaku belum pernah mendapat bantuan atau pinjaman modal dari manapun. Baik pemerintah maupun swasta. Pemkab Tuban sudah mengetahui usahanya. Namun dia dihubungai atau didatangi kalau akan diajak pameran.

“Dari Pemkab melalui Disperpar hanya diajak pameran bila ada kegiatan pameran. Tetapi kita juga butuh bantuan pinjaman modal untuk mengembangkan usaha dan memenuhi kebutuhan pasar,” harapnya.

Saat ini total omzet perbulan mencapai Rp. 40 juta. Dia berharap terus dapat membesarkan usahanya. Sehingga semakin banyak orang yang akan terlibat dalam pekerjaanya. Sehingga secara perlahan membantu perekonomian masyarakat sekitar dengan lapangan pekerjaan baru. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author