Published On: Ming, Apr 19th, 2015

Merunut Jejak Prostitusi di Bumi Wali (1)

Kabupaten Tuban bukan sekadar wilayah gugusan perkotaan, desa dan kecamatan, tapi telah memiliki denyut dan nafas kehidupan yang tak berbeda dengan kota besar lain di Indonesia. Tetapi diam-diam pula dunia prostitusi terus menggeliat seiring kehidupan religi yang kini dijadikan tagline Kabupaten Tuban sebagai Bumi Wali.  

SESAAT: Salah satu kawasan di Kecamatan Rengel yang diduga sering digunakan praktik prostitusi. foto: ARIF AHMAD AKBAR

SESAAT: Salah satu kawasan di Kecamatan Rengel yang diduga sering digunakan praktik prostitusi. foto: ARIF AHMAD AKBAR

seputartuban.com–Menyoal kehidupan dunia esek-esek di Kabupaten Tuban sejatinya serupa dengan daerah lain yang memiliki sejarah panjang.

Hanya saja di kabupaten yang sekarang dipimpin Bupati Fathul Huda dan Wakil Bupati Noor Nahar Husein, jejak sejarah tersebut sampai hari ini tak hanya bisa dirunut, tetapi bahkan aktivitas penjaja cinta sesaat masih dengan gampang didapat.

Salah satu wilayah yang diduga masih memajang deretan dunia esek-esek adalah Kecamatan Rengel.   Menariknya, Camat Rengel M Mahmud, terus terang tidak menampik bahwa di wilayahnya masih terdapat sarana praktik prostitusi.

“Kita tidak memungkiri adanya praktik prostitusi di Kecamatan Rengel. Namun terlepas dari itu kami tetap memberikan tindakan bilamana terdapat PSK (pekerja seks komersial) beroperasi di sana” terangnya.

Yang dimaksud “di sana” oleh Mahmud adalah sebuah eks lokalisasi yang saat ini masih menggeliat yakni RT 03 RW 02 Dusun Cangkring, Desa Kebonagung.

Hanya saja, Mahmud mengaku tidak dapat melakukan pemantauan secara rutin berkala soal praktik prostitusi  di wilayahnya karena keterbatasan personil.

“Selama ini kegiatan pemantauan yang kami lakukan hanya beberapa kali saja dalam sebulan,” tegas dia.

Dari pantauan pihak kecamatan, para PSK yang sering menjajakan diri di eks lokalisasi Cangkring bukan dari warga Kecamatan Rengel. Kebanyakan para wanita pemuas nafsu itu berasal dari luar daerah yang di bawa oleh para sopir kendaraan angkutan barang.

Mereka adalah para perempuan marjinal yang terbelit utang dan kehidupan buruk serta kumuh. Mereka terjebak dalam lingkaran setan kekuasaan para mucikari.

Mereka adalah korban perdagangan manusia yang digusur dan diusir serta kemudian dimarjinalisasikan. Jejaknya sangat mudah untuk ditelusuri dan kasat mata. Rata-rata mereka adalah eksodusan eks lokalisasi Gang Dolly serta sejumlah komplek pelacuran dari Jawa Tengah bahkan Pulau Bali.

Pantauan seputartuban.com di lapangan, menggambarkan bahwasa aktivitas prostitusi di Kecamatan Rengel masih berlangsung pada setiap malamnya. Sedangkan untuk hiburan malam yang ditawarkan di antaranya karaoke dengan tarif Rp 30.000 perjam.

Untuk menghangatkan suasana tak lengkap rasanya tanpa menenggak minuman berbotol “beling”  dengan harga Rp 80.000  untuk setiap stel. Jika mau ditemani “biduan” tinggal order langsung ready. Harga per jamnya Rp50.000.

Namun jika mau layanan lebih hingga ke atas ranjang cukup Rp 150.000. Sang “biduan” ini bisa diboyong kemana saja. Tidak ada itungan jam lagi. Tak seperti di kota besar yang akrab dengan tarif sohrt time maupun long time.

“Lumayan dari pada kerja bener juga susah. Itung-itung kerja sambilan,” tutur seorang “biduan” yang sengaja di booking sejam oleh wartawan seputartuban.com di sebuah warung karaoke di Kecamatan Rengel wilayah “atas”.

Saat dikasih “tips” Rp 100.000 ribu, perempuan yang mengaku janda asal Desa Kedungpelem, Blora, Jawa Tengah ini pun, lantas mengoceh panjang lebar.

Menurut dia, rata-rata teman seprofesi serupa mengaku melakukan pekerjaan ini sebagai sambilan. Para perempuan ini berasal dari seluruh lapisan masyarakat mulai pelajar, mahasiswi, karyawati ibu rumah tangga dan bahkan pegawai negeri.

Persyaratannya, mereka cantik-cantik. Mereka bekerja sukarela dan fleksibel tanpa diasramakan. Mereka tinggal bebas dan bisa bekerja sesuai jam kerja mereka bisa.

Indikasi tempat prostitusi selain berada di eks lokalisasi Cangkring juga sering terjadi di sebuah hotel tak jauh  SPBU 54.623.15 Rengel. Juga di ruas jalan penghubung Kecamatan Rengel menuju Tuban.

Saat seputartuban.com mendatangi hotel tersebut pukul 08.15 WIB, terlihat seorang wanita berjilbab baru saja keluar kamar diringkan seorang lelaki yang usianya tampak jauh lebih tua. Keduanya tampak buru-buru.

Dari gelagatnya mereka buka pasangan suami isteri. Terbukti, si perempuan memilih lebih dulu meninggalkan hotel. Sementara si lelaki terlihat menelpon seseorang minta dijemput.

Seorang resepsionis atau lebih tepatnya penjaga hotel, hanya mengatakan “biasa” ketika ditanya apakah kedua pasangan itu suami isteri sah.

Saat ditanya berapa harga sewa kamar, lelaki kurus berwajah tirus itu menerangkan sewa kamar dengan fasilitas AC harganya Rp 85.000. Sedangkan kamar dengan fasilitas kipas angin Rp 60.000. Kedua tarif tersebut berlaku untuk booking 24 jam.

Kedua harga kamar tersebut juga berlaku untuk sewa satu jam bagi pasangan beda jenis yang akan memadu kasih.

“Tapi jangan lama-lama karena sering ada razia. Kalau mau aman nyewa kamarnya jam 03.00 WIB dini hari saja,” katanya pelan.

Sementara Kapolsek Rengel AKP Desis Siswanto, mengatakan pihaknya terus melancarkan razia pada sejumlah titik yang diduga kantung prostitusi dengan melibatkan Satpol PP Kabupaten Tuban dan staf Kecamatan Rengel.

“Patroli memang gencar kita laksanakan. Selain untuk memantau praktik prostituisi juga  untuk menghindari terjadinya tindakan kriminalitas,” tegas Desis. ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author