Published On: Sen, Okt 21st, 2013

Menjaga Warisan Leluhur, Buat Jenang Butuh Waktu Seharian

Share This
Tags

KEREK

seputartuban.com – Dua nenek masih terus mempertahankan membuat jenang. Selain untuk menambah penghasilanya, juga sebagai bentuk menjaga warisa leluhur. Karena jenang bagian penting yang harus ada saat hajatan warga.

jenang tuban

TEKUN : Kedua nenek ini menjadi spesialis pembuat jenang. Dengan waktu pembuatan hampir seharian penuh

Kasmijah (80) dan Saringah (80), keduanya warga Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Saat ditemui di sebuah rumah hajatan milik Sutarmuji (62) warga setempat, Minggu (19/10/2013) keduanya terlihat sedang bekerja membuat jenang. Dengan mengaduk bahan jenang yang belum matang. Seperti santan, beras ketan, tepung, gula putih dan merah serta bahan lainnya.

Dengan sebuah alat sederhana berupa kayu sepanjang 1,5 meter. Alat tersebut menyerupai dayung yang dipergunakan mengaduk adonan jenang. Keduanya secara terus menerus saling mengaduk adonan.

Kasmijah bertugas sebagai pengaduk adonan mulai awal sampai jadi. Adonan diaduk, mulai berbetuk cair kental, atau hampir matang. Hal ini membutuhkan waktu sekitar 8 sampai 10 jam. “Biasanya diaduk iku kalau mulai jam 7 selesainya 3 sore. Kalau tidak lama makanan akan mudah leleh dan busuk,” ujar Kasmijah.

Hampir sama, disampaikan Mbah Saringah. Selain bertugas menjadi pengaduk, dirinya juga yang meracik bumbu dan komposisi adonan. Adonan tidak serta merta dicampur tanpa perhitungan yang matang.

Komposisi antar tepung dan santan akan menjadi penentu cita rasa yang akan dihasilkan jenang. Tidak hanya itu, Mbah Saringah yang sudah lama menjanda itu juga harus mengatur besarnya api yang dipakai. Karena jika api terlalu besar, adonan akan rusak atau gosong. Apabila api terlalu kecil, adonan akan tidak berbau wangi. “Awalnya api agak besar, namun lama-lama memakai arang yang menyala saja. Yang penting dibawah wajan itu suhunya panas,” katanya dalam bahasa jawa.

Setiap kali membuat jenang dalam adonan 8 Kg, masing-masing  mendapat upah sebesar Rp. 30 ribu. Dalam sehari keduanya biasanya bisa membuat 2 kali adonan jenang siap saji. Sehingga dalam sehari masing-masing nenek pembuat jenang itu mendapat hasil Rp. 60 ribu.

Pekerjaan yang hanya diperlukan saat ada hajatan itu nampaknya hanya sekedar sampingan saja. Dalam kesehariannya keduanya bekerja menjadi buruh tani. Dengan penghasilan rata-rata setiap hari Rp. 35 ribu. “Kalau buruh jagung atau padi ya dapat Rp. 35 ribu. Cukup buat makan 2 hari, ” lanjut Mbah Saringah.

Nampaknya pekerjaan pembuat jenang yang digeluti kedua nenek itu jarang dilakukan orang. Terbukti, dalam setiap hajatan didesanya atau desa tetangga, pasangan pembuat jenang ini yang dipanggil. Banyak warga mengaku bahwa jenang buatan pasangan nenek itu rasanya sangat enak.

Seperti ungkapkan Sutarmuji (62) , mengaku dirinya selama hajatan berkali-kali selalu memanggil kedua pasangan pembuat jenang ini. “Banyak yang bisa buat jenang tapi buatan mbah Jinah itu lebih awet dan kenyal. Yang mau bekerja membuat jenang ya hanya 2 nenek ini saja, ” ungkapnya. (han)

Facebook Comments

About the Author