Published On: Kam, Mar 12th, 2015

Menatap Maha Karya Masa Lalu Masjid Agung Tuban

Zaman boleh berubah dan segala penanda arsitektur bangunannya diobrak-abrik.

ACHMAD MAWARDI: Tangga ini membawa ke lantai atas dengan tujuan menara. Bentuknya masih asli dan tidak pernah dipindah. Juga tidak pernah tersentuh renovasi. (foto: WANTI TRI APRILIANA)

ACHMAD MAWARDI: Tangga ini membawa ke lantai atas dengan tujuan menara. Bentuknya masih asli dan tidak pernah dipindah. Juga tidak pernah tersentuh renovasi. (foto: WANTI TRI APRILIANA)

seputartuban.com-Termasuk keberadaan Masjid Agung Tuban yang di-“face off” tahun 2004 lalu semasa pemerintahan Bupati Tuban Haeny Relawati Rini Wisdiastuti.

Namun begitu masih ada yang tersisa karya seni di masjid yang diperkirakan didirikan pada tabun 1894 dan diresmikan oleh Bupati Tuban Raden Tumenggung Kusumodikun kala itu.

Yakni, tangga besi di atas mimbar terbuat yang menghubungkan menuju menara Agung Tuban, yang sebelumnya bernama Masjid Jami’. Benda antik yang konon merupakan maha karya Sunan Bonang tersebut hingga kini tetap tegak di tempatnya.

Tangga putar yang menjadi penghubung masa lalu tersebut tidak tersentuh oleh ambisi dan renovasi.

“Tangga ini membawa ke lantai atas dengan tujuan menara. Bentuknya masih asli dan tidak pernah dipindah. Juga tidak pernah tersentuh renovasi,”ujar Seksi Perpustakaan dan TPQ Masjid Agung Tuban, Achmad Mawardi, Kamis (12/03/2015) pagi.

Menurut dia, tangga putar tersebut dipertahankan karena merupakan benda paling tua dengan mahan  material baja murni yang kuat. Tangga putar itu sekarang tampak paling eksotik di antara ornamen lain, karena motif Jawa klasik yang sulit ditiru di era seperti sekarang.

Dari berbagai catatan yang ada, disebutkan sebelum mencapai bentuk megah seperti yang terlihat saat ini, masjid telah dipugar beberapa kali. Tahun 1894 dilakukan perombakan pertama dengan menggunakan jasa arsitek Belanda, B.O.W.H.M. Toxopeus. Renovasi berikutnya pada tahun 1985 bertujuan memperluas bangunan masjid. Pemugaran terakhir dilakukan pada tahun 2004.

Pada renovasi terakhir dilakukan beberapa perubahan yang signifikan, seperti penambahan lantai dari satu menjadi tiga lantai, pembangunan sayap kanan dan kiri bangunan, pembangunan enam menara, dan sebagainya. Hasilnya, Masjid Agung Tuban menjadi sangat megah seperti yang bisa disaksikan saat ini.

Tampilan luar bangunan masjid mengingatkan pada Masjid Imam di Kota Isfahan, Iran. Pengaruh ini juga yang menjadikan Masjid Agung Tuban tampak memancarkan pesona 1.001 malam dengan permainan warna, terutama pada malam hari.

Bagian dalam masjid yang banyak menggunakan pola lengkungan untuk menghubungkan tiang penyangga sehingga menghasilkan pola ruang dengan kolom-kolom, sepertinya terinspirasi dari ruang dalam Masjid Cordoba, Spanyol.

Gaya arsitektur khas Nusantara dapat ditemui pada pintu dan mimbar yang terbuat dari kayu dengan ornamen ukiran khas Jawa. Di sayap mihrab terdapat tangga dari bahan kuningan mencirikan gaya khas ornamen Jawa Klasik.

Selain pola arsitekturnya, Masjid Agung Tuban memiliki keistimewaan lain. Sekitar sepuluh meter dari masjid, berdiri Museum Kembang Putih yang menyimpan berbagai beres bersejarah seperti kitab Al-Quran kuna terbuat dari kulit, keramik Cina, pusaka, sarkofagus dan sebagainya.

Masjid Agung Tuban, yang pada awalnya bernama Masjid jami’, kini tak sekadar berdiri megah, namun sekalgus menjadi simbol semangat religius masyarakat Tuban. WANTI TRI APRILIANA

Facebook Comments

About the Author