Published On: Sen, Mar 2nd, 2015

Masalah Klasik, Petani Selalu Meradang Saat Panen

TUBAN

TAK BERUNTUNG: Seorang petani di Kecamatan Plumpang dengan gelisah mengusung onggokan jagung yang dipanen dari ladangnya, Rabu (25/06/2014) siang.

PETANI TUBAN SAAT PANEN

seputartuban.com – Keberadaan Resi Gudang di Kabupaten Tuban yang pembangunanya menghabiskan dana milyaran, nampaknya belum mampu memberikan angin segar kepada petani. Karena saat masa panen, harga komuditas hasil pertanian selalu anjlok mengakibatkan petani meradang.

Sebelum masa panen, harga komuditas jagung basah di Kabupaten Tuban hingga Rp. 2.000 per-Kg lebih. Sedangkan saat memasuk panen raya, para tengkulak membeli dengan harga Rp. 1.700 per-Kg. Untuk harga jagung kering kisaran Rp. 2.600 hingga Rp. 2.800 per-Kg, berbeda tiap kecamatan. Jika lokasi berdekatan dengan gudang pengusaha jagung, harga relatif lebih mahal dibanding dengan wilayah yang tidak terdapat gudang.

“Benih, obat-obatan dan pupuknya mahal, tapi saat panen harganya murah. Petani selalu sengsara kalau begini terus,” ungkap Ahmad, petani Kecamatan Jatirogo, Minggu (01/03/2015).

Petani semakin meradang ketika jagung hasil panen tidak terbeli. Karena para tengkulak beralasan gudang jagung di Kabupaten Tuban milik para pengusaha besar tidak lagi mampu menampung. Sehingga mereka menghentikan pembelian dari petani. “Barangnya ada tapi tidak ada yang beli, karena katanya gudangnya tutup. Padahal sudah butuh uang untuk kebutuhan hidup maupun untuk bertani lagi,” kata Cipto, warga Kecamatan Montong.

Kepala Dinas Pertanian Pemkab Tuban, Hery Prasetyo tidak dapat berkomentar banyak atas kondisi ini. Karena untuk penanganan pasca panen, bukan kewenanganya. Melainkan tugas dari Dinas Perekonomian dan Pariwisata Pemkab Tuban.

“Disperta tidak punya kewenangan dalam tataniaga hasil pertanian. Harga komoditas tentu mengikuti mekanisme pasar tergantung supplai dan demand. Pemkab melalui Dinas Perekonomian telah mengambil langkah menyiapkan Resi Gudang untuk menyimpan produk pertanian. Saat supplai melimpah dengan harapan pada saat harga sudah bagus baru dijual,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perekonomian dan Pariwisata Pemkab Tuban, Farid Achmadi juga tidak dapat berkomentar banyak. “Karena sosulis yang ada memang sangat terbatas biayanya,” katanya.

Bangunan di Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban yang dipakai Sistem Resi Gudang (SRG) dibangun dengan luas 1,4 hektar  dan menghabiskan anggaran total  Rp. 7 miliar 21 juta. Dari anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja  Daerah (APBD) tahun 2011. Berkapasitas 2.500 ton. Data dari Disperpar pada 2013 lalu hanya digunakan 14 petani. Dengan total sebanyak 149.550 Kg atau senilai Rp. 553.870.000.

Sesuai amandemen UU no. 9 tahun 2009 tentang sistem Resi gudang, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Saat masa penen dan harga komoditas pertanian anjlok, petani menyimpan dengan sistem resi gudang.

Kemudian petani mendapatkan resi yang dapat dijadikan agunan Bank untuk mendapat pinjaman. Setelah harga naik, baru petani menjual hasil pertanianya. Nampaknya sistem resi gudang di Kabupaten Tuban belum optimal, karena hingga saat ini hanya dimanfaatkan oleh kelompok tertentu atau belasan petani saja. MUHAIMIN

Facebook Comments

About the Author

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. Kopdianto berkata:

    tiap panen menjadi panennya para tengkulak, sedangkan petani yg hampir 5 bulan bekerja menuju panen hanya kebagian sedikit dari hasil keringatnya