Published On: Ming, Agu 7th, 2016

KPR Sarankan Sanksi Berat Terlapor GTT Bangilan

TUBAN

seputartuban.com – Guru Tidak Tetap (GTT) di Sekolah Menengah Pertama (SMP) diwilayah Kecamatan Bangilan terlapor kasus penganiayaan terhadap 4 siswa kelas VIII disarankan agar dijerat dengan sanksi berat.

ilustrasi

ilustrasi

Tokoh senior aktivis perempuan Tuban dan Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR), Nunuk Fauziyah mengatakan untuk memberikan efek jera, para pelaku kejahatan kekerasan terhadap anak perlu diberikan sanksi berat. “Jika pelakunya hanya dikenakan pasal 352 ayat 1 KUHP maka hal itu belum masuk dalam unsur penganiayaan, sehingga pelaku tidak bisa ditahan. Dan biasanya hanya dikenakan hukuman luar atau wajib lapor di Polres atau Polsek setempat,”.  katanya.

Sanksi yang seharusnya dikenakan petugas kepada terlapor adalah undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. Hal itu dikarenakan terlapor telah terbukti memperlakukan anak secara deskriminatif yang mengakibatkan kerugian materil maupun moril hingga menghambat fungsi sosialnya. Sedangkan ancaman pidana sesuai pasal tersebut ialah pidana paling lama selama 5 Tahun, atau denda paling banyak Rp 100 juta.

Kasubbag Humas Polres Tuban, AKP Elis Suendayati mengatakan kasus dugaan penganiayaan itu masih ditangani penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tuban. Terancam akan dikenakan pasal 352 KUHP karena cukup memiliki bukti kuat melakukan penganiayaan ringan. “Tindakan penganiayaan itu hanya menyebabkan korbanya menderita cedera ringan, dan tindakan penaniayaanyapun tidak menggunakan alat. Maka terlapor hanya dapat dikenakan sanksi ringan,” katanya.

Ancaman hukuman pidana penjara 3 bulan sesuai dengan tindakan penganiayaan ringan yang dilakukan. Tidak menimbulkan penyakit, cacat fisik atau halangan untuk melaksanakan rutinitas pekerjaan. Informasi yang dikumpulkan seputartuban.com menyebutkan terlapor diduga melakukan penganiayaan kepada korban yang masih dibawah umur tersebut. Dengan menyebabkan luka lebam atau memar dibagian pelipis. Lengkap dengan bukti visum dari petugas medis Puskesmas setempat.

Sedangkan sesuai isi pasal dalam kasus penganiayaan tersebut, dimana pelakunnya menggunakan kepalan hingga mengakibatkan korban mengalami luka memar dan berdarah. Dikuatkan pernyataan dari korban serta melihat kondisi luka yang tidak membuat halangan baginya menjalankan sesuatu, maka perkaranya dikategorikan pidana ringan. “Pengenaan sanksi tersebut bertujuan untuk memberikan efek jera terhadap terlapor, agar tidak kembali mengulangi perbuatan serupa dikemudian hari,” tegas Elis.

Diketahui, terlapor NJ yang berstatus GTT di SMP II Kecamatan Bangilan tersebut telah dilaporkan para wali murid yang tidak terima atas tindakan dugaan  pengaaniayaan terhadap MS, ARN, GY, dan AN siswa kelas VIII. ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author