Published On: Sel, Des 22nd, 2015

Kecewa Berat, Warga Gaji Tolak CSR PT SI Rp. 250 Juta

KEREK

Berprinsip : Warga Desa Gaji saat pertemuan dengan Kasi Bina Lingkungan PT Semen Indonesia menolak dana CSR Rp. 250 juta

Berprinsip : Warga Desa Gaji saat pertemuan dengan Kasi Bina Lingkungan PT Semen Indonesia menolak dana CSR Rp. 250 juta

seputartuban.com – Warga Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban konsisten menolak seluruh aktivitas PT Semen Indonesia (persero) Tbk hingga penyelesaian kasus tanah warga. Mereka menolak dana Corporate Social Responsibility (CSR) Rp. 250 juta yang akan diberikan melalui pemerintah desa.

Selasa (22/12/2015), 28 warga Desa Gaji bersama Kepala Desa, Subroto bertemu dengan manajemen PT Semen Semen Indonesia. Warga diundang pukul 09.00 WIB akan ditemui Kabag Humas dan CSR PT Semen Indonesia, Wahyu Darmawan. Namun hingga pukul 11.30 WIB tidak ditemui, beralasan menemui tamu. Sedangkan yang berdialog dengan warga Kasi Bina Lingkungan, Hery Kurniawan.

Koordinator warga, Abu Nasir mengatakan tetap menolak semua aktivitas dan bantuan dari PT SI. Karena kasus tanah warga yang masuk peta bidang belum ada penyelesaian. Sehingga warga tetap konsisten menolak dana sosial tersebut. Dia yakin masyarakat dan pemerintah desa tetap dapat membangun atau memperbaiki desa tanpa dibantu Semen Indonesia. Karena memiliki sumberdana dari pemerintah daerah maupun pusat.

“Pendapatan desa masih banyak, untuk apa kita menerima bantuan bila permasalahan yang sudah berjalan 12 tahun tidak ada penyelesaiannya. Bila bantuan tersebut diterima maka akan menambah emosi pemilik lahan,” kata Abu Nasir, saat pertemuan di Kantor PT. Semen Gresik, Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek.

Warga menyayangkan keseriusan manajemen Semen Indonesia menyelesaikan kasus tanah. Karena selama ini reaksi warga tidak mendapat respon positif dari perusahaan. “Kalau sejak awal komunikasi perusahaan dengan warga terjalin baik, maka tidak mungkin kita menolak semua aktivitas perusahaan di desa kita,” sambungnya.

Warga tetap menolak segala aktivitas Semen Indonesia. Salah satu wujudnya adalah melakukan boikot Pemilukada 2016 lalu. Serta menyebar spanduk penolakan BUMN perusahaan semen itu akan diperluas diluar Kecamatan Kerek.

Diberikanya CSR tidak sebanding dengan keresahan masyarakat akibat sengkarut kasus tanah yang belasan tahun tidak selesai. Warga tidak menjual namun status tanahnya sudah dibeli PT Semen Indonesia. Selain itu tidak dapat membuat sertifikat kepemilikan tanah, karena statusnya sudah dibeli perusahaan.

“Kita akan memberikan pemahaman kepada masyarakat Gaji bahwa selama ini perusahaan tidak pernah memberikan manfaat. Terbukti kasus kita saja hingga saat ini masih belum ada penyyelesaiannya, sebab yang menjadi biang keladi masalah ini adalah perusahaan karena ketidak telitian saat membeli tanah,” kecam Abu Nasir.

Dengan diberikan dana sosial itu menurut salah satu pemilik lahan justru akan mengadu domba sesama warga. Karena keluarnya bantuan itu setelah warga memasang spanduk penolakan Semen Indonesia. “Kenapa bantuan itu baru keluar sekarang, apakah perusahaan hanya untuk mengadu domba antar warga,” ujar H. Ro’is, salah satu pemilik lahan.

Senada disampaikan Kepala Desa Gaji, Subroto ia berharap perusahaan segera bertindak menyelesaikan masalah warganya. Agar masyarakat yang dipimpinya tidak menjadi korban akibat permasalahan yang tidak selesai. Serta bantuan perusahaan tetap dapat diterima dan memberikan manfaat kepada masyarakat Desa Gaji yang juga masuk kawasan Ring 1. “Perusahaan harus secepatnya mencari jalan keluar dalam penyelesaian masalah ini, sebab kita yang dibawah yang menjadi korban,” kata Subroto.

Kades juga mengaku kecewa sikap Manajemen Semen Indonesia yang mengundang akan ditemui Kabag Humas dan CSR PT Semen Indonesia. Karena setelah ditunggu 2 jam setengah tidak menemui warga. “Kita diundang disini tetapi tidak ditemui, kita sangat kecewa,” keluh Kades.

Kabag Humas dan CSR PT. Semen Indonesia, Wahyu Darmawan mengaku acara tersebut sudah diagendakan sejak awal. Namun, ia mendapat tugas mendadak dari perusahaan sehingga belum sempat menemui warga, tetapi warga sudah pulang.

Pertemuan tersebut sebenarnya untuk memberikan pemahaman terrhadap warga terkait program yang akan dilaksanakan oleh perusahaan di Desa Gaji. Pihaknya berkeyakinan bahwa bantuan dana Rp. 250 juta yang akan diberikan tersebut memberikan manfaat kepada masayarakat. “Tetapi saya menerima apa yang menjadi kesepakatan warga dan tidak akan melarang warga menolak bantuan ataupun program kita,” jelas Wahyu kepada seputartuban.com.

Wahyu menegaskan pihaknya telah bersungguh-sungguh ingin menyelesaikan masalah tersebut. Namun karena sering berganti pimpinan, membuat proses penyelesaian lambat. Sebab pejabat yang baru butuh memahami permasalahan.

“Kita sungguh-sungguh dan berharap masalah ini cepat selesai, buktinya kita sudah membuat tim. Namun tim tersebut untuk menjalankan tugasnya harus mendapat persetujuan dari manajemen,” keluhnya.

Wahyu menambahkan bahwa sebenarnya perusahaan berharap agar permasalahan tersebut terselesaikan secara hukum. Sehingga ada dasar hukumnya dalam mengambil keputusan. MUHLISHIN

Facebook Comments

About the Author

Displaying 1 Comments
Have Your Say
  1. wong edan berkata:

    kalau bisa permasalahan di laporkan ke presiden, dan harus di liput seluruh media di indonesia biar cepat kelar masalah tanah, kalau masalah ini hanya di urus di daerah saja mungkin sampai 100 tahun tidak akan pernah selesai, trimakasih