Published On: Sab, Mar 12th, 2016

Kebesaran Jiwa Mbah Musfiah Hadirkan Kepedulian

KENDURUAN

BERBAGI : Kehidupan sehari-hari Mbah Musfiah mengandalkan pemberian orang lain

BERBAGI : Kehidupan sehari-hari Mbah Musfiah mengandalkan pemberian orang lain

seputartuban.com – Musfiah (76), warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jumat (11/3/2016) mendapat kunjungan dari pimpinan dan staf seputartuban.com, tokoh masyarakat asal Kecamatan Semanding serta Kapolsek Kenduruan. Kunjungan itu karena terpanggil atas kebesaran jiwa wanita renta, buta dan sebatangkara itu dalam menjalani hari-harinya.

GAYENG : Saat Mbah Musfiah menceritakan kisah hidupnya yang sulit namun dijalani dengan tegar

GAYENG : Saat Mbah Musfiah menceritakan kisah hidupnya yang sulit namun dijalani dengan tegar

Perempuan yang dulu pejuang agama itu menjawab salam dengan fasih ketika rombongan memasuki rumahnya. Nampak raut wajah kaget karena dia mendengar suara beberapa orang berbincang. Setelah dijelaskan, dia mempersilahkan duduk. Wanita itu tetap ditempatnya, sebuah tempat tidur dari kayu yang tidak lebar dan beralaskan kain. Karena kondisinya yang buta dia tidak dapat bergerak leluasa.

Lalu bercerita kisah hidupnya bahwa dia sehari-hari seorang diri ditengah segala kekuranganya. “Masak ya sendiri sebisanya, bawang brambang garam ya sebisanya. Kalau goreng ya kadang minyaknya kelebihan atau bahkan kurang. Kadang kalau ndak ada yang dimasak cukup minum air putih saja,” katanya dalam bahasa jawa.

Dia hidup dari pemberian orang lain. Kadang berupa beras atau uang seadanya. Seluruh kehidupanya dijalani sendiri.  Bahkan pimpinan seputartuban.com sempat mematikan kompor yang masih menyala. Karena melihat masakan berkuah yang dimasak sampai mengering dia lupa. “Beras kadang diberi orang saya masak. Kalau diberi uang saya harus dikasih tahu masing-masing uangya,” imbuhnya.

Pimpinan seputartuban.com, Cipnal Muchlip M menjelaskan dia memilih blusukan langsung dari pada acara ceremonial karena banyak faktor. Diantaranya dengan datang langsung ikut merasakan kehidupan sehari-harinya. “Ini pelajaran hidup bagi saya maupun kita. Mbah Musfiah guru kehidupan. Meski dia tidak diperhatikan tetap sabar, syukur dan rajin ibadah,” katanya.

Sepanjang waktu, tasbih kecil tidak terlepas dari tanganya. Meski didalam rumah juga tidak melepas jilbabnya. “Ini sudah menjadi program media kita sejak berdiri. Kalau kita yang tahu tidak peduli terus siapa lagi. Katanya mbah tadi dia tidak pernah dikunjungi pejabat atau tokoh manapun  bahkan perangkat,” imbuhnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat asal Kecamatan Semanding, Rustamaji yang juga memberikan santunan mengatakan atas kebesaran jiwa perempuan itu dia terketuk. Hingga mau jauh-jauh menyambangi langsung. “Saya hanya perantara saja, ini karena kebesaran jiwa dan do’anya mbah tadi sehingga menggerakkan hati kita agar kesini. Semoga akan banyak pihak yang lebih peduli sama beliau,” ungkapnya.

Sementara itu, Kapolsek Kenduruan, AKP Subagiyo yang nampak tertegun mendengarkan cerita hidup mbah Musfiah mengaku sangat kagum dengan ketabahan, kesabaran, syukur dan taat beribadahnya wanita renta itu. “Semoga selanjutnya akan ada perhatian, saya akan bantu sebisanya,” tegasnya.

Dia sejak tahun 1970 sudah tinggal di Kenduruan untuk membantu warga dalam hal beragama. Setelah itu ditinggal meninggal suaminya. Kemudian 6 tahun lalu saat rombongan perjalanan dari pengajian rutin pimpinan tokoh ternama di Tuban, matanya terkena sesuatu yang terasa perih hingga menyebabkan kebutaan. USUL PUJIONO

Berita Sebelumnya :  Pejuang Agama Yang Terabaikan; Renta, Rabun Dan Sebatangkara
Facebook Comments

About the Author