Published On: Sel, Jan 13th, 2015

Kades dan Sekdes Socorejo Tertangkap Tangan Terima Pelicin Rp. 25 Juta

TUBAN

DISERGAP POLISI : Kades Socorejo, Kecamatan Jenu, Kab. Tuban, (kaos putih) dan Sekdes (kaos bergaris) saat tertangkap tangan menerima uang Rp. 25 juta dari Notaris di Rumah Makan Kayu Manis, Minggu (11/01/2015) petang. (istimewa)

DISERGAP POLISI : Kades Socorejo, Kecamatan Jenu, Kab. Tuban, (kaos putih) dan Sekdes (kaos bergaris-kanan) saat tertangkap tangan menerima uang Rp. 25 juta dari Notaris di Rumah Makan Kayu Manis, Minggu (11/01/2015) petang. (istimewa)

seputartuban.com – Kepala Desa (Kades) Socorejo, Kecamatan Jenu, Kab. Tuban,  Syaiful Bakhri (44) dan Sekretaris Desa (Sekdes), Parlan (55), tertangkap tangan saat menerima uang pelicin Rp. 25 juta. Dari seorang Notaris yang mengurus tanah untuk PT. Kawasan Industri Gresik (KIG) di Tuban. Minggu (11/01/2015), di Rumah Makan Kayu Manis, jalan Basuki Rahmat Tuban, sekitar pukul 17.45 WIB.

Dari operasi tangkap tangan ini Polisi menyita uang tunai Rp. 25 juta yang terbagi dalam 2 amplop. 1 amplpo coklat berisi Rp. 18 juta dan 1 amplop putih berisi Rp. 7 juta. “Kita tindak lanjuti hasil OTT ini. Kedua tersangka langsung kita tahan,” ungkap Kasat Reskrim Polres Tuban, AKP Suharyono, Senin (12/01/2015).

Kedua tersangka memasuki Rumah makan sekitar pukul 17.00 WIB, kemudian sekitar pukul 17.45 WIB keduanya disergap Unit II Sat Reskrim Polres Tuban bersama Kasat Reskrim saat transaksi. Setelah tertangkap tangan langsung dibawa ke Mapolres Tuban untuk diperiksa. Kemudian Senin (12/01/2015) pukul 02.00 WIB keduanya ditetapkan sebagai tersangka dan langsung di tahan. Dengan terancam hukuman minimal 4 tahun penjara.

“Dijerat pasal 12 huruf E UU No. 20 tahun 2011 tentang perubahan atas UU No. 30 tahun 199 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi,” ungkap Kasat Reskrim.

Hasil penyidikan Polisi menyebutkan, peristiwa ini bermula saat Juni 2014 korban menerima kepercayaan dari PT KIG. Untuk mengurus surat tanah pembaharuan 103 berkas. Kemudian korban ke Pemerintah Desa dengan datang kerumah Kades didampingi Sekdes. Pada pertemuan tersebut Kades berjanji menyelesaikan berkas pada Juli. Namun akan meminta pertimbangan dengan perangkat desa lainya.

Kemudian pada September, korban didatangi kedua tersangka. Meminta uang pengurusan 103 berkas tanah Rp. 5 juta. Kemudian pada Oktober korban kembali mendatangi rumah Kades dan memberikan uang Rp. 1 juta untuk biaya foto copy buku C desa.

Kemudian pada November, korban kembali dimintai uang oleh Sekdes Rp. 5 juta untuk diserahkan Kades. Bulan Desember korban kembali mendatangi rumah Kades menanyakan nasib berkasnya. Sekdes yang datang karena dipanggil Kades menjelaskan biaya 1 berkas tanah umumnya Rp. 1,5 juta.

Merasa keberatan korban menawar harga Rp. 750 ribu dan diturunkan lagi Rp. 200 ribu tiap berkas. Tawar-menawar ini belum ada kesepakatan harga, hingga dilain hari Kades menghubungi korban dengan menyampaikan untuk pengurusan 103 berkas tersebut biayanya Rp. 25 juta. Korban sempat menawar namun tetap ditolak Kades.

Hingga akhirnya pada saat hari penangkapan disepakati transaksi pemberian uang ini. Penangkapan dilakukan saat korban memberikan uang kepada kedua tersangka. Polisi yang ada di sekitar lokasi langsung meringkusnya dengan uang tunai masih di meja makan.

Hasil pemeriksaan Polisi kepada kedua terangka dan korban, total uang yang telah diminta Rp. 36 juta. Sedangkan temuan lain adalah amplop 2 yang disita saat penangkapan tersebut karena atas permintaan Kades. Rp. 7 juta diminta Kades agar korban tidak memberitahukan kepada Sekdes. Sedangkan amplop warna coklat berisi Rp. 18 juta diberikan sepengetahuan kedua. MUHAIMIN

Facebook Comments

About the Author