Published On: Kam, Mei 8th, 2014

K-2 Tak Mampu Tutupi Kekurangan Guru

TUBAN

TAK IMBANG: Untuk mengisi kekurangan tenaga didik tersebut banyak sekolah yang menggunakan jasa tenaga guru tidak tetap (GTT) atau guru bantu.

TAK IMBANG: Untuk mengisi kekurangan tenaga didik tersebut banyak sekolah yang menggunakan jasa tenaga guru tidak tetap (GTT) atau guru bantu.

seputartuban.com-Tak sepadannya jumlah kepala sekolah (kasek) tingkat SD dengan lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Tuban tampaknya akan makin lama bisa diatasi. Sebab pada sisi lain, ternyata jumlah guru yang ada di Kabupaten Tuban hingga saat ini masih sangat  kurang jika dibandingkan dengan kelas yang ada.

Upaya menutup kekurangan itu dengan melakukan penambahan jumlah guru melalui jalur K-2, sepertinya juga masih belum cukup memenuhi tenaga didik di semua lembaga pendidikan SD.

Berdasarkan catatan di Disdikpora Tuban, dari jumlah guru yang ada saat ini 3.768 orang. Sedangkan kebutuhan tenaga guru yang masih diperlukan sebanyak 5.261 orang. Di antaranya untuk guru kelas, guru pendidikan agama islam (PAI), guru pendidikan jasmani (penjas) dan kepala sekolah (kasek). Meski dari rekutmen CPNS kemarin secara resmi ada penambahan 257 orng, tetap masih belum mampu mengcover kekurangan yang ada.

Kasi Ketenagaan Disdikpora, Ahmad Syarief, mengatakan besarnya kekurangan tenaga guru yang dibutuhkan sudah sering kali dikomunikasikan dengan pemkab maupun  badan kepegawaian daerah (BKD). Tapi hingga tahun ini penambahan jumlah tenaga guru dari jalur CPNS sangat kurang.

Menurut dia, untuk mengisi kekurangan tenaga didik tersebut banyak sekolah yang menggunakan jasa tenaga guru tidak tetap (GTT) atau guru bantu.

“Kalau dilihat data perbandingannya cukup besar antara yang ada dengan yang dibutuhkan,” tegas Syarif, Kamis (08/05/2014).

Dikatakan, untuk urusan kepegawaian memang tampaknya perlu ada komunikasi yang intensif antara jajaran BKD dan Pemkab Tuban. Sehingga permasalahan tenaga guru bisa segera dilengkapi sesuai denga kebutuhan tenaga yang diharapkan.

Syarif menjelaskan, menindaklanjuti sisa kekurangan tersebut sebenarnya dari pihak Disdikpora tidak pernah menginstruksikan penambahan guru dari jalur GTT maupun guru bantu. Soal kenyataan dilapangan banyak terdapat GTT dan guru bantu adalah fakta yang tak bisa dihoindari.

“Itu sebenarnya bukan instruksi dari kami, hanya saja biasanya itu kebijakan dari kepala sekolah,” imbuhnya.

Sebab, posisi yang disebut GTT maupun guru bantu bukan tanggung jawab dan wewenang Disdikpora, melainkan tanggung jawab kepala sekolah. Karena selama ini posisi mereka kurang diperhatikan.

“Sisa kekurangan tersebut dilengkapi dari tenaga guru yang disebut GTT atau guru bantu itu,” tandas Syarief dia. AMIN

Facebook Comments

About the Author