Published On: Rab, Sep 26th, 2012

Jadi Ledek Meong Waranggono Bukan Sekedar Hobi

Share This
Tags

Penulis: Hanafi

SEMANDING

seputartuban.com – Kekayaan budaya melimpah di Negeri ini, salah satunya di Kabupaten Tuban adalah adanya budaya langen tayub yang masih bertahan hingga saat ini. Meski banyaknya musik modern yang semakin menggerus seni tradisional ini, nampaknya tetap saja bertahan ditengah segala tantangan yang merintanginya.

Dalam tradisi Langen Tayub banyak peran seni yang terlibat, mulai dari panjak (penabuk gamelan), waranggono hingga pramugari atau pembawa acara, serta seorang wanita Gondal atau tukang pijat Waranggono. Dan ada satu lagi yang tidak dapat dipisahkan, yakni menjadi “ledek meong”.

Sudiran (51), warga Desa Sumberejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, menjadi Ledek Meong bukan sekedar hobi. Kepada seputartuban.com, Rabu (26/09/2012) saat acara siraman Waranggono dan Pramugari di Pemandian Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban mengatakan dirinya tetap memilih menjadi Ledek Meong karena sejumlah alasan.

Diantaranya karena sebuah wasiat dari leluhurnya untuk tetap menjadi pelaku seni yang memiliki tugas meledek para waranggono saat pentas agar tetap dapat menghibur dengan maksimal ini. “Saya sejak muda sudah jadi meong mas. Seneng saja, bisa meledek waranggono cantik- cantik dan bahenol, ” tuturnya.

Menurut kakek beristri 3 ini melakoni pekerjaanya merupakan hal luhur dan bermartabat. Karena selain memberi semangat waranggono juga sangat diperlukan dalam pentas, agar tetap bisa berlenggak-lenggok dan menhibur para penikmat Langen Tayub  serta bagian dari menjaga tradisi Tayub agar tetap dicintai masyarakat.

“Jangan dilihat tingkahnya, tapi maknanya menjadi meong. Seolah-olah kita menjadi orang nakal yang suka menggoda, tapi pesan luhurnya agar budaya langen tayub tetap digemari, ” ungkapnya.

Disoal dirinya mengikuti ritual siraman ini, serta mengkalungkan sebagian sandal waranggono di lehernya. Hal ini dimaksudkan sebagai simbol kesetian dalam melayani segala bentuk kebutuhan waranggono atau sinden dalam pementasan.

Sedangkan untuk siramannya, dia berharap agar dalam meenjalankan pekerjaan seni sebagai Meong, akan tetap baik. “Biar setiap pentas saya tidak mudah tergoda dengan para biduan, dan selalu mendapat panggilan, ” lanjutnya.

Foto : Sudiran (51) warga Desa Sumberejo, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban seorang Ledek Meong dengan kalung dari sandal para waranggono yang sedang melakukan ritual siraman

Facebook Comments

About the Author