Published On: Kam, Jan 28th, 2016

Inilah Cerita Eks Anggota Gafatar Tuban Usai Dipulangkan

PALANG

    MASIH BINGUNG : PBS (33), YW (28) suami istri eks anggota Gafatar saat dirumahnyaMASIH BINGUNG : PBS (33), YW (28) suami istri eks anggota Gafatar saat dirumahnya

seputartuban.com – Keluarga Sunarko (54) dan Murdiarti (49), warga Perumahan Tasikmadu, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Selasa (26/1/2016) sore sangat bahagia. Anak, suami dan cucunya kembali kerumah setelah beberapa bulan pergi ke Kalimantan dan tidak ada komunikasi.

Tangis bahagia pecah ketika PBS (33), YW (28), dan JAS (5) tiba dirumahnya dalam keadaan sehat. Ketiganya dipulangkan dari Kalimantan, karena pemukiman Eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dibakar warga.

“Alhamdulilah seluruhnya kembali sampai dirumah dengan selamat. Semoga mereka betah kembali tinggal serumah dengan kami. Baik susah, senang yang penting bisa bersama-sama dengan keluarga,” tutur Murdiarti dengan sesenggukan.

YW menceritkan dia sama sekali tidak merasa dirugikan, meski sebelum diberangkatkan ke Kalimantan tersebut harus memakai uang saku sebesar Rp. 6 juta. Untuk modal menjalani hidup sebagai petani penanam palawija seperti  jagung, padi, dan kebutuhan sayur mayur.

“Disana kami difasilitasi tanah seluas 43 Hektar. Yang 10 hektar untuk pemukiman kami bersama seluruh warga. 33 hektar sisanya untuk lahan pertanian yang kami manfaatkan untuk ditanami padi, jagung, serta kebutuhan sayur mayur bersama seluruh warga lainya” lanjutnya.

Selama tinggal berdampingan dengan suku dayak, masyarakat asli kalimantan tersebut merasa tidak ada jarak dengan komunitasnya. Karena ajaran organisasinya mengedepankan sikap toleransi serta sikap sosial yang tinggi terhadap sesama sesama manusia.

Bahkan menurutnya komunitasnya dan warga setempat sering bertukar pendapat terkait cara bercocok tanam agar hasilnya melimpah. Hidup hampir setengah tahun ia banyak mendapat pelajaran berharga. Diantaranya saling berbagi sesama, tidak ada klasifikasi masyarakat. Yakni tidak ada merasa golongan bawah, tidak ada kemiskinan, semuanya sama. Bahkan menurutnya aturan yang dijalankan sudah sangat tertata dengan baik.

Aktifitas seluruhnya sudah dijadwal dengan sistematis. Bagi anak-anak harus tetap mengikuti pendidikan dengan sistem klasikal berbeda dengan umumnya. Kelas A yang berlaku untuk siswa sekelas PAUD. Kelas B untuk siswa sekelas TK A dan B. Serta Kelas C untuk mereka yang menempuh pendidikan Jenjang SD dan SMP.

Sedangkan bagi mereka yang berusia remaja wajib menyampaikan dan memberikan materi ajar sebagaimana yang sudah termaktub dalam aturan Sekolah Berbasis Rumah (SBR) itu. Yang diperuntukkan bagi anak-anak eks anggota Gafatar.

Sedangkan kaum ibu, bertugas di Dapur umun untuk menyediakan makan. Dengan menu nasi jagung setiap pagi, nasi putih setiap makan siang, dan nasi jagung saat makan malam beserta lauknya. Diantaranya tahu, tempe dan sesekali ikan lele dan ayam hasil ternak. Sedangkan beberapa lainya membantu para suaminya berkebun.

YW membantah jika ia sengaja memutus hubungan komunikasi dengan keluarga. Karena dia disana hanya memperoleh aliran listrik dari tenaga genset sejak pukul 18.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Bahkan karena voltase rendah, membuat HP rusak.

Usai dipulangkan, dia merasa bingung harus bekerja apa. Karena seluruh hartanya hangus terbakar pada Selasa (19/1/2016). Pemukiman Betang (rumah panggung) yang berisi 10 kepala keluarga (KK) yang masing-masing KK mendapatkan jatah 3,8 meter itu dibakar warga setempat. “Kami berharap kepada pemerintah kabupaten agar memberdayakan kami. Terlebih dapat menyediakan lahan pertanian bagi kami,” harap YW.

Di Kabupaten Tuban selain PBS (33), YW (28), dan JAS (5), warga Kecamatan Palang terdapat warga lainya eks anggota Gafatar yang dipulangkan dari Kalimantan. Adalah IS (28), SFNA (27) dan AAPW (10 Bulan) satu keluarga asal Kecamatan Tambakboyo. Sedangkan seorang lainya warga Kecamatan Widang, pulang ke Kabupaten Jombang kerumah istrinya. ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author