Published On: Jum, Apr 15th, 2016

Inilah Catatan Komnas Ham Heboh Warga Karanglo Meninggal Massal

TUBAN

Komisioner Komnas Ham, Muhammad Nur Khoiron saat jumpa pers

Komisioner Komnas Ham, Muhammad Nur Khoiron saat jumpa pers

seputartuban.com – 7 orang tim Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas Ham) selama 7 hari berada di Desa Karanglo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Untuk memeriksa kebenaran kabar pemberitaan 61 warga meninggal dunia selama 45 hari karena menderita Insfeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) disebabkan debu perusahaan.

Pantauan lapangan itu dilakukan sejak Senin (11/4/2016) hingga Kamis (14/4/2016). Hasilnya pemberitaan yang selama ini telah menghebohkan tidak sepenuhnya benar. Ada fakta lain seperti yang pernah dimuat sejumlah media.

Komisioner Komnas Ham, Muhammad Nur Khoiron mengungkapkan hasil temuan timnya. Yakni warga yang meninggal karena menderita ISPA dan disebabkan debu perusahaan semen tidak sepenuhnya benar. Hasil cek lapangan seluruh warga yang meninggal sebenarnya 28 orang.

Dengan usi rata rata 40 sampai 60 dan seorang berusia 90 sebagian besar dikarenakan hipertensi, strook, dan gangguan pernafasan. “Dari data ini belum dapat digunakan untuk menyimpulkan kematian berkaitan dengan pencemaran udara,” jelasnya disalah satu Cafe Jl Pramuka Tuban. Kamis, (14/4/2016) siang

Data itu diperoleh dari sejumlah pihak di desa. Kemudian dilakukan pengamatan lapangan dan setelah dilakukan kajian belum dapat menyimpulkan secara pasti penyebab warga yang meninggal karena menderita ISPA murni karena debu perusahaan. Karena masih memerlukan kajian dan pendalaman lebih lanjut.

Sementara itu data yang diperolehnya dari Puskesmas yang membawahi 10 desa menyebutkan sebagian besar masyarakat yang meninggalnya dikarenakan Infeksi akut masalah pernafasan dibagian rongga atas. Data yang diperoleh sejak tahun 2013 diketahui sebanyak 1.775 orang meninggal. Sedangkan tahun 2014 sebanyak 1.566 orang meninggal, dan tahun 2015 meningkat jumlahnya menjadi 2.058 orang meninggal.

“Namun demikian kita belum memiliki komparasi data dari data puskesmas lain diwilayah Kabupaten Tuban tentang permasalahan pernafasan ini. Apakah dialami seluruh masyarakat secara mengglobal karena Ini harus dibuktikan secara medis dan ilmiah untuk menyimpulkan, hubungan antara penyakit pernafasan tersebut dari debu perusahaan atau faktor alam,” lanjutnya.

Temuan lain menyebutkan banyak masyarakat ring 1 mengeluhkan dampak aktivitas pabrik. Berupa polusi debu yang membuat aktifitas mereka terganggu khususnya pernafasan dan mata. Serta beberapa temuan lain masalah keamanan disekitar diantaranya jarak rumah, tempat pendidikan dan beberapa fasilitas umum dekat dengan pabrik. Sehingga dimungkinkan dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat. Akibat ledakan dinamit, asap, dan debu perusahaan. Selain itu bekas tambang belum direklamasi di Desa Mliwang yang dapat membahayakan jiwa.

Terpisah, Kabag Humas dan CSR PT Semen Indonesia (persero) Tbk, Wahyu Darmawan menyebutkan bahwa kabar yang disebutkan beberapa media atas meninggalnya warga sekitar pabrik akibat debu itu tidak dibenarkan. Data yang dimiliki dari sumber resmi warga yang meninggal 28 orang dalam kurun waktu bulan Januari hingga Maret. “Sedangkan penyebabnya sebagian besar tidak dikarenakan ISPA. Jadi data yang disebut-sebut sebagian media itu tidak benar,” tegasnya.

Sedangkan jarak rumah warga, tempat pendidikan, dan fasilitas umum dengan kawasan pabrik yang dinilai terlalu dekat hal itu sudah ada sejak dulu. Terkait lokasi bekas tambang seluruhnya sudah dilakukan reklamasi dengan dilakukan penanaman pohon seluas 25 hektar. Sedangkan lokasi disebut Komnas Ham belum direklamasi, kawasan seluas 50 hektar itu masih kawasan tambang aktif.

Diketahui, selain melakukan penelusuran terkait dugaan meninggalnya warga disebabkan penyakit karena menghirup debu perusahaan, Komisioner Komnas Ham juga menerima laporan lain. Yakni masyarakat Desa Gaji yang bersengketa lahan dengan PT Semen Indonesia, Saat ini kasus juga dalam proses persidangan di Pengadilan Tinggi Surabaya itu. ARIF AHMAD AKBAR

Facebook Comments

About the Author